liesha92

BANA

[FANFICTION] ONLY LEARNED THE BAD THINGS

Title              : Only Learned The Bad Things

Author        : Lisa Lunardi

Length        : Oneshoot

Genre          : Romance, Sad

Rating         : General

Cast             :  Jung Jinyoung, Gong Chan Sik, You as Kim Hyo Rin

Backsound  : Only Learned The Bad Things

 

Hujan turun dengan deras dan bisa kurasakan ia mulai membasahi ujung kepalaku hingga sekujur tubuhku menyatu bersama air mata yang sudah membasahi pipiku. Aku terduduk lemas sambil memegangi sebuah batu nisan yang bertuliskan nama pria yang paling kucintai di dunia ini dan sudah mengisi hari-hariku selama ini hingga akhirnya ia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku tertunduk tak sanggup mengeluarkan satu patah katapun. Tiba-tiba kurasakan air hujan sudah berhenti membasahi kepalaku. Apakah hujannya sudah berhenti? Ku dongakan kepalaku. Oh, ternyata hujan masih turun namun ada seseorang yang ku kenal dekat sedang memayungiku. Ia tersenyum hambar. Aku rasa ia juga memiliki rasa kehilangan yang sama dengan yang kurasakan. Perlahan, pria itu mulai jongkok di sampingku dan terus memayungiku.

“Sampai kapan kau akan terus disini?” Ucap pria itu lembut.

“Aku benar-benar merasa bersalah! Ini semua salahku! Bukan dia yang seharusnya pergi tapi aku! Aku yang seharusnya berada di dalam liang itu” Aku menjambak-jambak rambutku sendiri.

“Hei! Stop! Hentikan! Kau jangan melukai dirimu seperti itu! Kalau kau seperti ini terus, kau hanya akan membuatnya sedih disana. Kau harus bisa menerima kenyataan! Kau harus bisa melupakannya perlahan” pria itu memelukku hangat seolah ia tidak mau melepaskanku

“Aku tidak bisa, Gongchan. Aku sungguh tidak bisa. Aku terlalu men-cin-ta-i-nya” ucapku lemas. Perlahan pandanganku pun mulai kabur dan aku tak bisa mengingat apa-apa lagi. Suara yang terakhir kudengar hanyalah suara teriakan Gongchan disertai dengan bunyi air hujan yang turun.

                                                                        ***

FLASHBACK

13 November 2010

Aku sudah tak sanggup untuk menahan rasa sakit ini lagi. Semakin hari, aku semakin menjadi manusia yang tidak berguna. Aku bahkan semakin membenci diriku sendiri yang sudah sangat menyusahkan orang-orang di sekitarku. Ingin rasanya aku mengakhiri diriku sendiri kalau bukan karena pria yang selalu memberiku semangat dan selalu menemaniku. Karena ia-lah aku masih bertahan sampai sekarang tapi cepat atau lambat, aku akan meninggalkannya juga. Aku tak ingin menyusahkannya lebih jauh lagi. Semakin lama tubuhku semakin melemah.

Tok tok tok…

Kudengar ada seseorang yang mengetok pintu kamar, aku buru-buru menutup buku harianku dan menyembunyikannya di balik bantal. Aku pun menyeka air mataku sebab aku sudah tahu siapa yang orang yang balik pintu itu. Aku tak ingin kelihatan rapuh dihadapannya. Kukuatkan diriku hanya untuknya. Tak lama kemudian, sesosok pria yang paling kusayangi masuk sambil membawa nampan berisi makanan. Ia tersenyum hangat dan suatu saat nanti aku pasti akan merindukan senyuman itu. Senyuman yang selalu bisa menyejukkan hatiku. Pria itu pun menghampiriku dan duduk disampingku. Ia membelai rambutku dengan sangat hati-hati seolah ia tak ingin melukaiku.

“Hei, aku bawa bubur nih. Makanlah supaya kau bisa minum obatnya” ucapnya sambil mengaduk-aduk bubur “Aku suapin ya?”

“Tak usah, Jinyoung. Aku bisa makan sendiri” Aku mengambil alih mangkuk bubur itu. Aku tak ingin selalu mengandalkannya untuk melakukan hal sepele selama aku sanggup melakukannya sendiri.

“Jinyoung, malam ini kau akan menginap di rumah sakit lagi?” tanyaku

“Iya. Memangnya kenapa? Kau tidak suka kalau kutemani?” ucapnya murung

“Bukan itu maksudku. Aku sudah terlalu banyak menyusahkanmu. Kalau kau menginap di rumah sakit terus, bisa-bisa kau yang sakit karena kurang istirahat. Nanti orang tuamu juga kuatir padamu”

“Aku tidak apa-apa kok. Aku masih sanggup menjagamu sepanjang hari asalkan kau sembuh dan kita bisa bersama lagi” Jinyoung mengacak-acak rambutku dan membuatku salah tingkah. Mungkin sekarang wajahku sudah merah seperti kepiting rebus.

“Jinyoung, apakah mungkin kita masih bisa bersama?”

“Hei, kau jangan pesimis seperti itu. Kau pasti bisa sembuh. Aku akan melakukan berbagai macam cara agar kau sembuh” raut wajah Jinyoung berubah serius. Aku pun tak mengajaknya bicara dulu. Kuhabiskan bubur dan larut dalam pikiranku sendiri. Aku tak yakin pada perkataan Jinyoung bahwa aku bisa sembuh. Tak kusadari, aku sudah menghabiskan semangkuk bubur. Bahkan aku tak sadar bahwa aku habis makan.

“Ini diminum obatnya. Sehabis itu kau istirahat ya. Oh iya sebenarnya tadi aku bertemu dokter Lee. Dia bilang kau sudah boleh pulang besok jadi ini adalah malam terakhirmu di rumah sakit. Tapi kau harus istirahat total dirumah jangan kecapekan”

Aku hanya bisa mengangguk lemas.

14 November 2010

“Semua barang sudah dibereskan?”

“Iya aku rasa sudah tak ada barang yang tertinggal” aku memastikan bahwa aku sudah membawa baju-baju serta obat-obatan lainnya.

“Kau sungguh tak ingin menggunakan kursi roda? Hanya untuk ke mobil saja. Aku akan meminjamkannya pada pihak rumah sakit. Jalan dari sini ke luar cukup jauh” Jinyoung menunjukan raut wajah cemas.

“Aku tidak apa-apa kok. Aku masih kuat berjalan sendiri”

“Ya sudahlah. Kau memang keras kepala. Ayo jalan. Sopir sudah menunggu dibawah” Jinyoung merangkulku lembut. Aku pun berjalan sambil bersandar di pundaknya. Aku sungguh tak ingin meninggalkannya.

Begitu kami sampai di mobil, aku melihat pria lain sedang berdiri disamping mobil menungguku dan Jinyoung. Aku kenal siapa orang itu sebab ia adalah sahabat terbaik yang aku dan Jinyoung punya.

“Sudah?” tanya pria itu.

“Iya ayo jalan” Jinyoung membukakan pintu untukku dan menepuk pundak Gongchan.

Di mobil kami tak begitu banyak bicara. Aku hanya memandang ke luar dan aku berharap aku masih bisa melihat pemandangan seperti ini lagi. Hijaunya pohon, jalanan yang dipenuhi oleh manusia dan kendaraan, gedung-gedung bertingkat. Aku pasti akan merindukan ini kelak.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jinyoung

“Ya aku tak apa-apa”

“Mukamu kelihatan pucat. Ya sudah kalau kau tidak apa-apa. Ayo turun”

“Hah? Turun? Memang kita sudah….” Aku tak melanjutkan ucapanku begitu melihat pemandangan di depanku yaitu rumahku sendiri. Ahhh pabooo.. Aku melamun hingga tidak menyadari bahwa aku sudah tiba di rumahku.

“Malah ngelamun nih anak. Ayo turun. Kau dan Jinyoung langsung masuk kedalam saja. Biar aku yang membawakan barang-barang kalian”

“Gumawo, Gongchan” Aku tersenyum padanya kemudian kugandeng Jinyoung masuk kedalam rumahku. Rasanya aku sudah sangat kangen pada kehangatan rumah ini. Sudah 2 minggu aku dirawat di rumah sakit tapi rasanya sudah lama sekali. Begitu sampai ke ruang tamu, kupandangi foto kedua orangtua ku yang entah bagaimana kabarnya sekarang mereka sama sekali tak pernah menghubungiku seolah mereka tak menganggapku ada. Orangtuaku sudah lama pergi meninggalkan Seoul dan aku tinggal bersama bibiku disini. Aku berjalan menuju ke kamarku dan tak ada yang berbeda dengan kamarku. Masih nampak sama dengan saat aku belum dirawat di rumah sakit. Aku pun masih bisa melihat meja belajarku berantakan tempat dimana aku mengerang kesakitan pada saat itu lalu kesadaranku hilang sepenuhnya.

“Aku tinggalkan kau dulu ya. Kau masih butuh banyak istirahat. Tapi aku tidak akan kemana-mana. Aku di ruang tamu bersama Gongchan” Aku hanya bisa mengangguk dan kubaringkan diriku di kasur. Aku membiarkan Jinyoung menyelimutiku. Aku memandang langit-langit kamar dan berpikir apakah aku masih bisa melihatnya lagi?

“Kau jangan berpikir macam-macam. Kau pasti akan baik-baik saja” ucap Jinyoung seperti mengetahui jalan pikiranku. Jinyoung mengecup keningku lembut sebelum ia mematikan lampu kamar dan beranjak pergi. Sementara itu aku gak bisa tidur. Pikiranku sungguh kacau balau. Kubalik badanku ke kiri ke kanan namun aku tetap gak bisa tidur. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. “Ah iya!! Aku belom menulis buku harianku” Aku beranjak dari kasur menuju koper yang diletakkan Gongchan disudut kamar. Aku mencari-cari buku harianku namun aku tak menemukannya. Ku obrak-abrik isi koper namun buku harianku tak ada disana.

“Ya Tuhan, kemana buku harianku. Itu adalah harta terakhir yang kupunya untuk kuberikan pada Jinyoung jika aku sudah pergi” Perlahan air mataku mulai menetes. Aku buru-buru bangkit berdiri dan aku berlari keluar melewati Jinyoung dan Gongchan diruang tamu.

“HyoRin, mau kemana!! HyoRin!!” Jinyoung berlari mengejar dan menahan tanganku.

“Hei, kau kenapa??” Jinyoung mengusap lembut air mata yang sudah membasahi pipiku.

“Buku harianku. Buku harianku tertinggal di rumah sakit” Aku berbicara sambil terisak.

“Buku harianmu? Biar aku saja yang ke rumah sakit untuk mencari. Dimana kau letakkan buku harian itu?” tanya Gongchan tiba-tiba

“Di bawah bantal” Tangisku pun meledak dan Jinyoung mendekapku ke dalam pelukannya.

“Ya sudah, aku kesana sekarang ya. Kau kembalilah ke kamar dan istirahat” Gongchan berlari melewatiku menuju mobil.

“Kita tunggu kabar dari Gongchan ya semoga buku harianmu masih ada” Jinyoung merangkulku menuju ruang tamu.

“Aku butuh buku harian itu. Di dalamnya sudah banyak terisi dengan kenangan kita berdua”

“Aku mengerti” Jinyoung memelukku semakin erat tiba-tiba kurasakan handphone Jinyoung yang diletakkan di saku celananya bergetar.

“Handphone mu bunyi” ucapku

“Ah iya. Kau jangan kemana-mana ya. Aku ingin mengangkat telepon dulu” Jinyoung beranjak pergi meninggalkanku menuju dapur sepertinya. Apakah telepon itu begitu penting dan rahasia sehingga ia tak ingin aku mendengarkan pembicaraan mereka. Aku sudah menunggu lebih dari 10 menit dan Jinyoung masih belom balik. Aku jadi penasaran sendiri. Mengapa ia begitu lama mengangkat telepon. Akhirnya kuputuskan untuk menyusulnya ke dapur. Aku sama sekali tak menduga bahwa aku akan mendengarkan pembicaraan seperti itu. Kakiku menjadi semakin lemas. Air mata kembali jatuh membasahi pipiku. Hatiku sudah benar-benar gak karuan. Aku ingin memeluk Jinyoung dan berkata “Jangan melakukan tindakan tolol seperti itu! Jangan berkorban terlalu banyak untukku, Jinyoung. Kumohon”

 “Iya aku mengerti. Aku juga ingin secepatnya melakukan cangkok ginjal itu. Aku tahu resikonya dan ini adalah resiko terbesar dalam hidupku tapi aku akan melakukan apapun demi membahagiakan gadis itu. Aku ingin melihat ia tersenyum dan hidup lebih lama. Aku terima apapun resikonya walaupun aku harus menyerahkan nyawaku demi gadis itu. Iya, terima kasih. Secepatnya aku akan menandatangani surat persetujuan itu” Jinyoung kembali menaruh handphone nya di saku. Ia berbalik dan terkejut melihatku berdiri dengan badan yang sudah gemetaran dan pipiku sudah basah oleh airmata.

“HyoRin? Sejak kapan kau disitu” Jinyoung perlahan mendekatiku.

“Jangan mendekat!!” tanpa pikir panjang aku memecahkan gelas dan kuambil pecahan gelas tersebut dan mengancam aku akan memotong urat nadiku

“HyoRin, kau mau apa!!”

“Jangan pernah lakukan pencangkokan ginjal itu! Atau aku mati disini sekarang juga setelah itu masalahnya selesai!” kugores kulitku sedikit dengan pisau dan darah segarpun menetes ke lantai.

“HyoRin, hentikan!! Aku melakukan ini semua demi kamu. Aku gak ingin lihat kamu menderita lagi, Aku cinta padamu!”

“Bukan seperti ini caranya, Jinyoung! Kau mencintaiku dengan cara yang salah! Aku gak ingin kamu mengorbankan hidupmu sendiri demi aku! Pencangkokan ginjal itu terlalu beresiko!! Kau harus tetap hidup sebab keluargamu masih sangat membutuhkanmu sebagai tulang punggung keluarga! Sedangkan aku? Aku sudah tidak punya apa-apa lagi! Aku ditelantarkan oleh kedua orang tuaku, penyakitan! Sementara kau? Kau masih sanggup melanjutkan hidupmu tanpa aku!” nadaku terkesan marah tapi aku memang marah betulan pada Jinyoung yang sama sekali tidak membicarakan masalah ini denganku.

“Rin, jauhkan pecahan gelas itu sekarang! Kau menyiksaku kalau bertindak seperti ini!”

“Kau juga menyiksaku dengan ide bodohmu itu! Aku mencintaimu Jinyoung. Aku ingin kau tetap hidup. Bukan jalan hidup seperti ini yang seharusnya kau terima. Meregang nyawamu sendiri di meja operasi demi aku! Aku gak mau liat kamu menderita Jinyoung! Bukan pembuktian cinta seperti ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin kau menemaniku sampai akhir. Hanya itu yang kuminta, Jinyoung” Aku bisa melihat sorot mata sedih dari Jinyoung. Kulepaskan pecahan gelas itu dan aku pun terjatuh di lantai. Entah kenapa aku tiba-tiba merasakan sakit itu lagi. Aku mengerang dan bersandar di tembok.

“HYORIN!!” Jinyoung buru-buru menghampiriku dan ia menggendongku entah kemana karena aku sudah tak sanggup memikirkan apa-apa lagi. Kesadaranku kembali hilang sepenuhnya.

16 November 2010

Samar-samar kudengar ada suara orang sedang berbisik-bisik dan cukup mengusikku. Kupaksakan diriku untuk membuka mata. Aku melihat ruangan serba putih. Aku langsung berpikir bahwa Jinyoung pasti segera melarikanku ke rumah sakit. Tiba-tiba aku langsung teringat pada Jinyoung dan rencana bodohnya. Aku buru-buru bangkit dari tempat tidur dan Gongchan menahanku.

“HyoRin, kamu mau kemana?? Kamu masih harus istirahat total”

“Jinyoung! Mana Jinyoung?” Aku sudah panik setengah mati. Gongchan pun hanya menunduk dan membuatku semakin kuatir. Kuguncang-guncangkan tubuh Gongchan.

“Jinyoung mana?? Jawab aku!!” Tanpa kusadari, aku membentak Gongchan.

“Dia sedang berada di ruang dokter untuk mendiskusikan masalah pencangkokan ginjal tersebut” hatiku serasa dihantam batu berton-ton. Tanpa pikir panjang, aku bangkit dari tempat tidur dan aku berlari menuju ruangan dokter.

“HYORIN!!” Aku tak menggubris teriakan Gongchan. Yang ada di otakku sekarang, jangan sampai ginjal Jinyoung bisa di donorkan untukku. Aku malah berharap ginjal miliknya tidak memiliki kecocokan denganku sehingga tidak bisa didonorkan. Napasku terengah-engah begitu sampai di depan ruangan dokter. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, aku langsung masuk ke dalam ruangan dan kudapati Jinyoung sedang diperiksa oleh dokter. Jinyoung terkejut melihatku. Ia langsung bangkit dari tempat tidurnya.

“Hentikan Jinyoung!! Aku mohon hentikan!!” Aku menerobos masuk dan langsung memeluk Jinyoung. Jinyoung hanya membelai rambutku.

“HyoRin, aku punya kabar gembira. Ginjalku dapat didonorkan untukmu. Dokter sudah menyetujuiku untuk melakukan pencangkokan ginjal”

“Itu bukan kabar gembira, bodoh!!! Itu kabar terburuk yang pernah aku dengar!” Aku memeluk Jinyoung semakin erat “Aku mohon jangan lakukan ini!!”

“HyoRin, pencangkokan ini kan belom tentu gagal. Kalau berhasil, kita akan bersama lagi” Jinyoung tersenyum hangat.

“Tapi aku gak mau!! Kita gak akan tahu apa yang akan terjadi! Lebih baik mencegahnya sebelum terjadi penyesalan!” Aku semakin terisak. Jinyoung tak berkata apa-apa lagi. Hanya desahan napas nya yang kudengar.

“Dokter, lakukanlah. Aku akan baik-baik saja” ucap Jinyoung lembut.

“ANDWAE !!!!” Aku memeluk Jinyoung semakin erat. Entah sudah berapa liter air mata yang kukeluarkan. Aku sungguh tak sanggup membendungnya lagi. Dadaku terasa sesak.

“Aku antarkan kau kembali ke kamar ya”

“Gak mau!! Aku gak mau kau melakukan tindakan bodoh seperti itu!”

“Yasudah, sekarang kau balik ke ruanganmu ya. Aku antarkan. HyoRin, kalau kau seperti ini terus, kesehatanmu bisa menurun lagi” Tapi saat ini aku benar-benar gak bisa beranjak kemanapun. Kakiku sudah terlalu gemetaran. Diluar dugaanku, Jinyoung malah menggedongku.

“Hei, apa yang kau………” Aku tak melanjutkan kalimatku karena tiba-tiba saja Jinyoung mencium bibirku lembut di dalam gendongannya. Kuletakan tanganku melingkari lehernya sambil terus berdoa Ya Tuhan, aku benar-benar masih ingin bersamanya. Berikanlah kesempatan kedua agar kami bisa terus bersama. Jinyoung perlahan melepaskan ciumannya kemudian ia tersenyum hangat “Kita balik ke ruanganmu ya” Aku benar-benar sudah tak sanggup berkata apa-apa lagi. Aku hanya bisa merasakan derap langkah kaki Jinyoung membawaku ke ruangan. Sesampainya disana, Jinyoung membaringkanku di kasur dan menyelimutiku. Kesadaranku pun sudah hilang setengah. Tapi aku masih sanggup mendengar pembicaraan Jinyoung dan Gongchan sebentar

“Hei, dia baik-baik saja?”

“Iya. Dia benar-benar butuh istirahat. Tapi terkadang ia tak pernah mau mendengarkan kata-kataku”

“Jinyoung, ngomong-ngomong soal buku harian. Aku tidak menemukannya” Aku dapat mendengar helaan napas Jinyoung.

“Gongchan, ikut aku sebentar” Lalu aku tak ingat apa-apalagi. Tapi aku sama sekali tak menduga bahwa helaan napas Jinyoung yang kudengar itu adalah helaan napas terakhirnya yang tak akan pernah bisa kudengar lagi.

18 November 2010

Entah apa yang terjadi pada diriku. Nampaknya aku sudah lama tak sadarkan diri sebab mataku terasa amat sangat berat untuk kubuka. Aku juga belom bisa menerima cahaya yang masuk ke dalam mataku. Perlahan-lahan kucoba untuk membuka mataku dan bangkit dari tempat tidur. Yang ada di dalam pikiranku hanya ada nama Jinyoung. Aku berharap jika kubuka mata ini, pandangan pertama yang aku lihat adalah sosok Jinyoung yang tersenyum hangat di samping tempat tidurku sambil berkata “Kau sudah siuman” Aku berdoa dalam hati semoga benar-benar akan terjadi. Sekuat tenaga kubuka mataku dan baru setengah kubuka mataku, aku mendengar ada suara “Kau sudah sadar?” Tapi nampaknya itu bukan suara yang ingin kudengar. Setelah kubuka mataku 100%, aku melihat Gongchan sedang duduk di samping ranjangku.

“Mana Jinyoung?” Itu adalah pertanyaan pertama yang kulontarkan pada Gongchan. Tapi Gongchan bukannya menjawabku, ia malah tertunduk lesu.

“MANA JINYOUNG????” Aku mengulangi pertanyaanku dengan nada yang lebih tinggi.

“Tapi kau berjanji kau tidak akan melakukan tindakan bodoh!” ucap Gongchan dengan raut wajah serius.

“Aku mohon Gongchan. Katakan yang sebenarnya padaku. Apa yang terjadi pada Jinyoung?” Air mataku kembali meluap.

Gongchan menarik napas sebelum akhirnya berkata “Kau sudah sembuh” singkat tapi membuat air mataku semakin deras mengalir.

“Aku sembuh? Lalu Jinyoung? Bagaimana Jinyoung?! Aku tak peduli aku mati atau sembuh! Aku hanya butuh Jinyoung! Mana Jinyoung!!!” Aku kembali membentak Gongchan. Di luar dugaanku bukannya menjawab pertanyaanku, Gongchan malah menyodorkan buku harianku.

“Diariku? Bukankah kau bilang kau gak menemukan diariku?” tanyaku bingung.

“Bacalah. Kau akan mengerti setelah membacanya dan kau akan mengetahui kejadian yang sebenarnya setelah kau membaca diari itu” Gongchan menyeka air matanya lalu beranjak pergi.

Setelah Gongchan pergi, aku mulai membuka diariku dan membolak-balik halaman demi halaman namun diariku masih tetap sama tak ada yang berubah. Lalu apa maksud Gongchan diariku akan menjawab semuanya?? Aku kembali membolak-balik halaman demi halaman hingga aku tertuju pada satu halaman yang membuat airmataku sudah tak terbendung lagi. Aku mengeluarkan seluruh sisa tenaga dan airmataku. Aku meraung-raung dan terus meneriakan nama Jinyoung seperti orang gila.

“Hei putri kecil, maafkan aku telah berbohong padamu. Sebenarnya buku harianmu ada di tanganku. Aku sempat mengambilnya ketika kau tertidur dan aku sudah membaca seluruh isi diarimu. Maafkan aku telah membacanya tanpa ijin darimu. Aku telah melakukan resiko terbesar dalam hidupku. Aku siap menerima resikonya apapun yang terjadi. Aku hanya ingin kau sembuh. Seandainya pencangkokan ini berhasil, maka aku akan selalu berada di sisimu. Seandainya gagal, mungkin aku lah yang akan pergi mendahuluimu. Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik agar kau tidak terus menerus tersiksa. Ini hanya sebagian kecil pembuktian rasa cintaku padamu. Pada kenyataannya, cintaku melebihi dari yang selama ini kutunjukan padamu. Kalau seandainya aku masih diberikan kesempatan hidup, maka akulah yang akan menyerahkan sendiri buku harian ini untukmu tapi halaman ini pasti kurobek karena kita akan membuka lembaran baru lagi. Kalau seandainya aku memang harus pergi mendahuluimu maka Gongchan lah yang akan memberikan buku harian ini dan mungkin kita akan bertemu kembali tapi tidak pada saat ini. Mungkin aku akan menjagamu di kehidupan berikutnya. Tapi percayalah, aku akan selalu melindungi dan mengawasimu. Aku mencintaimu lebih dari apapun, lebih dari yang kau ketahui”

Kulihat ada secarik kertas yang sudah lecek dan tulisannya pun berantakan, perlahan dengan tangan yang sudah gemetar, kubuka kertas itu dan mulai membacanya. Namun nampaknya surat itu bukan ditujukan untukku melainkan untuk Gongchan.

“Gongchan, aku titipkan putri kecilku padamu. Kumohon jagalah ia dengan tulus. Aku sudah tak sanggup menahan rasa sakit ini lagi. Aku senang karena ginjalku bisa didonorkan untuk putri kecilku karena itu tandanya aku tidak akan pernah terpisahkan darinya walaupun aku tak bisa menemaninya sampai akhir. Aku menulis ini di sela-sela rasa sakitku dan aku rasa aku sudah tak dapat meneruskannya lagi. Aku mohon padamu, tolong jaga dia, wanita yang sangat berarti dalam hidupku. Gongchan, aku juga menyayangiku lebih dari seorang kakak yang menyayangi adiknya. Aku juga berjanji padamu suatu saat nanti, aku pasti akan kembali di kehidupan berikutnya, menemui kalian dan merebut putri kecilku. Aku sungguh menyayangi kalian berdua”

 

                                                                        THE END

8월 16, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , ,

댓글 2개 »

  1. Ah gila keren bangeeeeet! sumfeh dah pen bgt punya pacar kaya jinyoung wkwk-_-

    댓글 by milkyuhae | 9월 24, 2011 | 응답

  2. Ini sudah lama dipost tapi baru saya liat, sedih kali..saya mau punya teman kayak Jinyoung dan Gongchan, huhuhu..

    댓글 by Alya Shafira Lamato | 12월 28, 2011 | 응답


답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: