liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 1)

Title:                         My True Love (Part 1)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

 

London, 23 Desember 2009

 Butir-butir salju mulai turun membasahi bumi. Saat-saat seperti inilah yang dinantikan oleh semua orang untuk bermesraan dengan kekasih mereka. Karena musim salju adalah musim yang paling menunjukan keharmonisan dibandingan dengan ketiga musim yang lain. Tapi tidak demikian dengan seorang gadis belia yang mungkin usianya baru menginjak usia 20 tahunan dengan rambut pirang ikal tergerai dan mengenakan jaket berbulu tebal beserta syal dan penutup telinga berbentuk headset. Gadis itu sedang duduk sendiri di sebuah café sambil memegang sebuah buku. Namun, pandangannya menerawang jauh dan tatapannya kosong. Kopi yang sudah ia pesan perlahan-lahan mendingin tanpa ia sentuh sama sekali.

Tak lama kemudian, pintu café terbuka. Seorang pria berusia kira-kira 20tahunan juga berjalan memasuki café tersebut seraya celingukan mencari seseorang.

“Maaf, aku terlambat. Kau sudah menunggu lama ya?”

Gadis itu diam saja dan mengacuhkan pertanyaan.

“Hei, kau jangan marah padaku seperti ini. Tadi aku ada urusan mendadak. Aku harus menyelesaikan project ku terlebih dahulu.”

“Aku tidak marah padamu.” Gadis itu mulai membuka suara tanpa sedikitpun memanglingkan wajah dari jendela café. Entah apa yang sedang dipikirkan dan dilihatnya.

“Lalu kenapa kau berbicara ketus seperti itu?”

“Jinyoung, aku mau pulang. Aku sudah lelah dan aku ingin istirahat.”

“Hari ini kau sungguh aneh. Marah padaku tanpa sebab.”

“Jinyoung, antarkan aku pulang.” Ujar gadis itu sambil berlalu dari hadapan Jinyoung.

“Hei tunggu aku. Nana !!!” Jinyoung berlari-lari kecil untuk mengejar Nana.

 

London, 24 Desember 2009 

“Bangun !!! Bangun !!!”

Setengah mengerjap-ngerjapkan mata, Nana mulai bisa beradaptasi dengan cahaya menyilaukan yang menerobos.

“Jem berapa sih sekarang?”

“Jem 9.00. Di Meja, aku udah siapin roti panggang dan susu. Kamu sarapan dulu aja ya. Aku mau pergi belanja bahan makanan dulu.”

“Onnie, makasih ya.”

“Buat?”

“Udah ngijinin aku tinggal di apartment mu.”

“Kamu ini bicara apa sih, Na. Itulah gunanya teman. Udah, kamu sarapan trus mandi. Hari ini kau tidak ada kencan dengan Jinyoung?”

“Aku belum tahu, eon.” Nana kembali murung.

“Na, jangan membebani dirimu sendiri. Aku dan Nichkun sudah menganggapmu sebagai saudara kami sendiri walaupun kau hanya kami temukan di sebuah kecelakaan. Maaf ya Na, aku tak bermaksud menyinggung-nyinggung masa lalu mu lagi. Lupakanlah masa lalu mu yang kelam itu. Pikirkanlah masa depanmu bersama Jinyoung. Yesterday is a History. Today is a Present. Tommorow is a Mystery. Okay? Semenjak kejadian itu, kau terlihat tidak punya semangat hidup lagi.”

“Eon, coba kamu bayangkan jika kamu ada di posisiku. Kamu pasti akan frustasi sama seperti aku.” Nana mulai menahan tangisnya.

“Kamu kan masih punya kakak, Na?”

“Aku bahkan sekarang tidak tahu dimana kakakku berada.”

“Don’t forget. You still have Jinyoung.”

Nana hanya menarik napas.

“Entahlah, eon. Aku masih ragu untuk menerima Jinyoung. Dia terlalu baik untukku. Dia udah banyak berkorban untukku.”

“Kamu aneh, Na. Dicuekin salah dibaikin salah. Sudah, jangan ambil pusing. Makan saja dulu.”

Ting… Tong….

“Aku buka pintu sebentar.” Tak lama kemudian, Victoria kembali menemui Nana. “Lihat, siapa yang datang.”

“Jinyoung?”

“Hai.” Ujar Jinyoung kikuk.

“Kalian bicaralah baik-baik ya. Aku mau pergi sebentar.” Victoria menyambar tas tangannya dan beranjak meninggalkan mereka.

“Jinyoung, jeongmal mianhae. Kemarin aku terlalu kasar sama kamu. Kemarin itu entah kenapa aku merasa kesepian di malam natal seperti ini. Emosiku masih labil. Dulu aku merayakannya bersama keluarga. Tapi sekarang ……” Nana mulai menitihkan air matanya.

“Kan masih ada aku?” ucap Jinyoung lembut sambil berlutut dan membelai rambut Nana. Tangis Nana semakin pecah.

“Bagaimana kalau hari ini kita rayakan malam natal berdua? Kita jalan-jalan, nonton dan dinner. Kau bisa meminta apa saja malam ini. Asalkan kau jangan sedih lagi. Aku yakin Victoria juga merayakannya dengan Nichkun. Jadi, daripada kau dirumah terus, mending kita have fun aja. Aku kan tahu kau orangnya bosanan di rumah. Kau maukan?” ajak Jinyoung penuh harap sambil menggenggam tangan Nana. Akhirnya Nana mengangguk. Jinyoung menghembuskan napas lega. “Kau belum makan kan? Aku ambilkan makanan di meja dulu ya.”

5 menit kemudian, Jinyoung sudah kembali sambil membawa nampan berisi roti panggang dan susu seperti yang tadi sudah dipersiapkan Victoria sebelum pergi.

“Victoria itu orangnya baik ya. Dia sampai menyiapkan sarapan untuk kamu. Tapi untunglah dia yang menyelamatkan kamu dan berkat dia juga akhirnya aku bisa menemukan sosok gadis seperti kamu.”

“Memangnya aku kenapa?”

“Aku merasa kamu beda aja dibandingkan dengan gadis-gadis lainnya.”

“Dasar tukang gombal…”

“Aku serius, Na. Ngomongnya nanti aja ya pas kita jalan-jalan. Sekarang kamu makan dulu nih.”

“Iya. Aku makan dulu ya. Jinyoung, nanti kita mau pergi jam berapa?” ujar Nana sambil melahap roti panggangnya.

“Terserah kau saja.”

“Tapi aku belum memilih baju trus make up. Jadi kita perginya agak sorean aja ya.”

“Na, kamu tuh udah cantik. Baju apa aja pas di badan kamu.” Muka Nana langsung bersemu merah.

“Jinyoung, makasih ya. Kamu udah baik banget sama aku. Aku gak tau musti berbuat apa untuk membalas budimu. Semenjak aku kehilangan keluargaku, cuman kamu,Victoria eonnie dan Nichkun oppa yang selalu memperhatikanku.”

“Na, kamu gak perlu membalas apapun. I only need your smile. Itu aja udah cukup buat aku kok.”

“Makasih, Jinyoung… Buka mulut !”

“Heh???” Jinyoung agak bingung tiba-tiba Nana menyuruhnya untuk buka mulut.

“Buka muluttt….” Akhirnya Jinyoung menurut saja. Ternyata Nana menyuapi Jinyoung sepotong roti.

“Wei !!! Dasar kau ini.” Artikulasi Jinyoung sudah tidak jelas lagi karena Nana memasukan roti dalam medium size.

“Aku mau pilih gaun dulu ya. Kira-kira yang cocok untuk kupakai nanti apa ya?” Nana mulai melangkah ke lemari pakaiannya dan mengobrak-abrik isinya. “Yang ini bagus gak?” tanya Nana sambil menunjukkan sebuah gaun berwarna merah maroon dengan motif bunga-bunga mawar.

“Bajunya terlalu terbuka ini malam natal. Bisa-bisa pulang dari sini, kamu malah masuk angin. Aku bisa diomelin Victoria lagi.”

“Tenang. Aku udah siapin cardigan kok. Warna nya juga matching.”

“Tetep aja. Jangan pakai yang terlalu terbuka lah. Nanti kamu jadi pusat perhatian orang lain, aku yang cemburu. Bisa repot aku.”

Mendengar ucapan Jinyoung, Nana kembali terpaku.

“Nana, kamu kenapa? Aku salah ngomong ya?”

Nana tak menggubris pertanyaan Jinyoung. Memory Nana kembali ke 4 tahun lalu saat ia masih bersama-sama dengan adik kesayangannya.

“Menurutmu baju ini gimana?”

“Aduh, noona milih baju aja kok repot ya? Tuh baju terlalu terbuka.”

“Masa? Tinggal pakai cardigan atau gak pakai selendang aja nih.”

“Tetap aja. Nanti kalau disana noona jadi pusat perhatian orang lain, dikejar-kejar Om girang kan aku bisa repot misahinnya.”

“Hush !!! Mulutmu asem banget sih. Harusnya kamu bangga dong noona mu ini jadi pusat perhatian.”

“Tapi aku ngiri. Aku kan jadi kebanting ama noona.”

“Nana !!!” sentakan itu cukup menganggetkannya dan membuat Nana kembali ke dunia nyata.

“Nana, kamu kenapa?”

“Aku gak kenapa-kenapa, Jinyoung.”

“Kok kamu nangis begitu?”

Nana baru menyadari bahwa pipinya sudah dibanjiri oleh air mata. Ia buru-buru menyekanya dengan punggung tangan.

“Aku teringat pada namdongsaeng ku…” Nana perlahan-lahan berjongkok dan bersandar di lemari. Air matanya tumpah dan membasahi gaun merah maroon yang sedari tadi ia pegang.

“Na, sampai kapan kamu akan begini terus? Sampai kapan kamu akan menangisi kepergian adikmu. Dia pasti akan sedih melihat kondisi noona nya seperti ini. Kejadian ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu.” Jinyoung berusaha untuk menghibur.

“Gak bisa. Aku sudah coba selama  dua tahun ini untuk melupakan dia tapi aku gak bisa. Dia itu adik kesayanganku. Aku susah untuk melupakannya….Susah….”

“Nana, aku ngerti perasaanmu. Tapi cobalah dari sekarang. Aku yakin kamu pasti bisa. Kamu kuat, kamu tegar.. Aku akan selalu memberi support untuk kamu.”

Nana mengalungkan tangannya ke leher Jinyoung dan memeluknya erat-erat.

“Bagaimana mungkin aku bisa melupakannya kalau aku ada di dekat kamu.”

“Kenapa?”

“Mukamu mirip sama dia.”

“Masa? Gak ah… Kamu pasti terlalu memikirkannya sehingga melihat aku pun seolah-olah aku ini adikmu.”

“Beneran. Jinyoung, kamu mirip banget sama dia.” Nana membelai lembut pipi Jinyoung.

“Nana, kamu pacaran sama aku bukan karena aku ini mirip sama adikmukan?” tanya Jinyoung curiga.

“Ya gak lah. Aku terima kamu apa adanya… Jinyoung, maaf aku tak bermaksud untuk membanding-bandingkan kamu dengan dia.”

“Aku ngerti. Gak papa kok. Tadi aku cuman bercanda. Nana, aku punya namdongsaeng juga. Kapan-kapan aku akan mempertemukan kalian berdua. Siapa tau saja kamu bisa menganggap namdongsaeng ku sebagai namdongsaeng mu sendiri. Walaupun namdongsaeng ku itu mungkin sangat berbeda dengan namdongsaeng mu. Dia sangat judes, jutek, cuek. Aku ingin kamu lebih mengenal keluargaku ya. Lain waktu, aku juga akan mengajakmu ke Jepang untuk bertemu dengan keluarga besarku.”

“Mwo? Jepang? Bukankah kau itu berasal dari Seoul?”

“Iya aku memang lahir di Seoul tapi dari kecil, keluargaku pindah ke Jepang. Lalu aku melanjutkan ke London deh dan bertemu denganmu”

“Ya ampun, Jinyoung. Aku belum mau seserius itu sampai harus dibawa ke Jepang segala untuk menemui keluargamu.”

“Aku tau, Na. Aku juga gak akan maksa kamu sehabis bertemu dengan keluargaku trus kita langsung menikah. Gak… Kamu juga bisa berpikir lebih lama lagi. Aku akan terus menunggu kepastianmu.”

“Tapi Jinyoung, aku malu sama mereka.”

“Kenapa kamu harus malu?”

“Aku sudah tak punya siapa lagi untuk dikenalkan ke keluargamu. Aku tak yakin keluargamu akan menginjinkan kita menikah kalau mereka tidak tahu bibit bobot keluarga pasangannya. Apalagi orang Korea ataupun Jepang sangat memperhitungkan hal itu. Itu dilakukan turun temurun kan?”

“Persetan dengan semua itu. Aku tak peduli dengan segala macam aturan itu. Aku serius sama kamu. Aku gak peduli asal muasal keluargamu. Lagipula kamu masih memiliki Victoria dan Nichkun untuk menjadi Om dan tantemu. Bilang saja mereka itu walimu.”

“Kalau keluargamu masih tidak mau menerima ku?”

“Aku akan terus bersamamu. Aku tak mau menikah dengan orang lain selain dirimu. Kita pergi berdua ke suatu tempat yang jauh.”

“Jinyoung ………” Nana menarik napas panjang sejenak dan menghembuskannya sebelum akhirnya berkata “Makasih.”

                                                                 TO BE CONTINUED

9월 13, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: