liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 2)

Title:                        My True Love (Part 2)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1

“Ada yang mau hyung bicarakan sama kamu.”

“Mau bicara apa? Kayaknya serius amat?” anak lelaki itu cuek. Matanya hanya terpaku pada siaran televisi di depannya. Mulutnya tetap mengunyah keripik kentang. Karena kesal, Jinyoung- pun dengan nekat mematikan Tv tersebut.

“Hyung apa-apaan sih? Kalau mau ngomong ya ngomong aja tapi gak usah dimatiin dong siaran Tv nya. Mau ngomong apa sih emangnya?” ujarnya kesal.

“Gongchan !!! Hargai aku sedikit dong. Sikap cuek mu itu kelewatan banget sih !!!”

“Hyung mau ngadu sama appa dan eomma? Silahkan saja !”

“Gongchan, tolong hargai aku sebagai hyung-mu.”

“Iyaaa. Mianhae” ucapnya acuh tak acuh.

“Hyung cuman mau bilang kalau hyung ingin memperkenalkanmu pada seseorang.”

“Nugu?”

“yeojachingu ku”

“Wah wah wah. Sejak kapan hyung punya pacar?”

“Sudah lumayan lama sih tapi aku belum sempat memperkenalkannya padamu.”

“Kapan hyung mau memperkenalkannya padaku?”

“Chan, nanti malam kau bisa ikut hyung pergi makan malam dengannya?”

“Malam ini??? Hyung, bukannya aku tidak mau. Tapi aku juga ingin merayakan malam natal bersama teman-temanku.”

Please, Chan. Demi hyung.

“Baik. Aku mau pergi denganmu. Tapi kau harus berjanji satu hal denganku.”

“Okay. Aku akan menuruti semua permintaanmu.”

“Kau harus menraktirku di restaurant yg mewah tanpa sepengetahuan yeojachingu mu?”

“Okay. Deal.” Gongchan ini ya bisa dikatakan sedikit matre karena ia terbiasa hidup di lingkungan yang serba mewah.

 

                                                      ***

Ting Tong

“Hi, Jinyoung… Sudah datang kau rupanya. Nana sedang dirias oleh Victoria.”

“Baiklah aku tunggu disini saja.”

“Masuk saja dulu. Sudah lama kita tidak mengobrol. Kau sudah bertambah dewasa. Aku semakin mempercayakan Nana padamu. Wow, kamu membawa Channie juga? Channie juga sudah tambah dewasa. Kalian bermaksud dinner bertiga? Apa Nana setuju?”

“Ya. Tadi aku sudah membicarakan hal ini dengan Nana.”

“Hyung” Gongchan nyeletuk tiba-tiba.

“Apa?”

“Bisakah kau jangan memanggilku Channie? Aku sudah dewasa bukan anak-anak lagi. Panggil aku Gongchan!” Gongchan menunjukkan ekspresi cemberutnya. Nichkun dan Jinyoung hanya bisa tertawa kecil saja.

“Baiklah baiklah. Gongchan” Nichkun menuruti permintaan Gongchan.

“Kalian ingin minum apa?”

“Tidak usah repot-repot. Kita ngobrol-ngobrol saja sambil menunggu Nana. Oh iya hyung, bagaimana pekerjaanmu? Kau masih sibuk ya?”

“Tidak juga. Sekarang aku kerja di shift malam. Jadi lembur deh.”

“Hai Jinyoung, sudah datang rupanya?” sapa Victoria yang baru keluar dari kamar sambil memegang sebuah tas make up.”

“Kau ini mendandani Nana terlalu lama. Jinyoung kansudah tidak sabar.”

“Ah, tidak juga.” Elak Jinyoung.

I’m sorry Jinyoung. 5 minutes left.” Victoria kembali masuk ke dalam kamar.

“Lama sekali.” Gerutu Gongchan.

“Ssssttt, Shut up.” Jinyoung memarahi Gongchan tapi setengah berbisik.

5 menit kemudian, Nana keluar dari kamar sambil didampingi Victoria. Jinyoung sangat mengagumi Nana. Mulutnya sampai tak berhenti mengangga. Nana sangat berbeda malam ini. Ia terlihat sangat anggun. Pipinya memerah akibat blush on ditambah lagi dengan lipstik pink sehingga ia terlihat begitu fresh. Gaunnya juga sangat pas di tubuh Nana dengan balutan syal yang melilit lehernya. Nana juga mengenakan hight heels 5 cm yang membuatnya telihat tinggi. Untung tinggi badan Jinyoung tidak membuatnya terbanting dengan postur tubuh Nana. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Jinyoung sangat mengaggumi kecantikan gadis di hadapannya saat ini.

“Jinyoung? Jelek ya?” ujar Nana karena melihat Jinyoung sedari tadi bengong.

Perfect !!!” Jinyoung langsung bangkit berdiri dari sofa. “Serasa bermimpi bertemu bidadari.”

Mungkin saat ini wajah Nana sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Ayo kita jalan.” Ajak Jinyoung.

“Ehm, Jinyoung. Dia….” Tanya Nana ragu-ragu.

“Ini namdongsaeng ku. Gongchan, ayo kenalkan dirimu.”

Gongchan membungkukkan badan.

“Annyeonghaseyo, Gongchan imnida. Naneun Jinyoung ui dongsaeng imnida. Bangapseumnida”

“Bangapseumnida.” Nana juga membalasnya dengan bungkukan badan.

“Kita mau makan dimana nih?” tanya Jinyoung sambil melirik ke arah Gongchan tapi Gongchan malah pura-pura bodoh sambil pura-pura melihat ke arah lain.

“Terserah kau saja.”

“Kita makan di Clos Maggiore saja ya?”

“Ne.”

                                                                ***

Mobil mereka malaju dengan lancar karena jalanan memang tidak begitu macet.

“Gongchan, kau suka makanan apa?” tanya Nana ramah.

“Aku suka semua makanan kok.” Ujarnya cuek sambil terus menatap keluar jendela.

“Nah sampai juga.” Ujar Jinyoung tiba-tiba. “Kalau jalanan lancar, waktu terasa cepat ya.”

“Wow, keren ya restaurantnya.” Nana terlihat mengagumi Clos Maggiore. “Kau pintar memilih restaurant, Jinyoung.”

HUH !!! Yang pilihin Clos Maggiore kan aku, batin Gongchan kesal.

Bonne nuit ! Voulez – vous commander pour combine? ( Selamat malam, mau pesan untuk berapa orang?)tanya pelayan itu ramah.

Trois. (tiga). Private Dining Room.” ujar Jinyoung sambil mengacungkan ketiga jarinya.

Suivez-moi. (Mari ikuti saya)” Lalu pelayan tersebut mengantar mereka bertiga ke meja yang terletak di sudut ruangan dan di dekat jendela sehingga mereka bisa melihat suasana malam natal dikota London yang terlihat romantis dan damai. Malam ini, Clos Maggiore dibanjiri pengunjung karena suasananya yang mendukung.

Que vas-tu avoir? (mau pesan apa?)” tanya pelayan itu lagi. Jinyoung, Nana dan Gongchan masih sibuk memandangi buku menu.

Sweet and sour black Radish, Wholegrain Mustard Mouselline and cep and Truffle Capucinno.” Ujar Gongchan.

“Jinyoung, aku tidak tahu menu apa yang enak disini. Aku ikutin kamu saja deh.”

“Oke. Parmesan Rissoto, Fricassee of Forest Mushrooms and Essensia Orange Muscat, *deux s’il vouz plait*. (pesan dua)

“The desssert are Classic “opera” cake with gold leaves, Lemon and Rasphberries, Chilled salad of “gariguette” strawberries, Rum Baba and Vanilla Chantilly.” Pesan Gongchan lagi.

“S’il vouz plait attendez une minute. (harap tunggu sebentar)”

“Percaya padaku. Makanan disini semuanya enak.” Ucap Gongchan penuh percaya diri.

“Na, bagaimana menurut mu mengenai restaurant ini?”

“Perfect !!! Wonderful food, excellent décor. Woah…”

“Ini restaurant favourite ku. Clos Maggiore pernah mendapatkan runner up Best For Romance.”

“Pantas. Indah banget suasananya.”

Sedikit keterangan tentang restaurant ini. Clos Maggiore adalah sebuah restaurant masakan Perancis yang terletak tak jauh dari Covent Garden,London atau tepatnya di UK33 Kingstreet. Clos Maggiore juga merupakan restaurant Eropa yang bergaya romantis tentunya dengan sajian-sajian masakan Perancis yang sangat menyegarkan. Ditambah lagi dengan bunga-bunga yang menghiasi halaman sehingga membuat suasana hati menjadi sejuk. Clos Maggiore juga menawarkan makan malam di area terbuka selama musim panas dan makan ditemani bintang-bintang yang berkelap-kelip. Lantai pertama Clos Maggiore juga biasanya digunakan untuk ruang pertemuan dan acara-acara khusus lainnya. Clos Maggiore juga ditangani oleh koki-koki yang handal dan berpengalaman. Mereka memiliki keterampilan dan dedikasi untuk memberikan yang terbaik di setiap hidangan. Hasilnya adalah citarasa yang modern dan tradisional yang dapat diminati oleh para pengunjung.

Cet ordre. (Ini pesanannya)” Pelayan yang tadi sudah muncul lagi sambil membawa makanan pesanan mereka masing-masing. “Silvouz plait. Apprecier. (Silahkan. Selamat menikmati)”

Merci. (Terima kasih)” Pelayan itu berlalu dari hadapan mereka.

“Wangi banget masakannya.” Ujar Nana ngiler.

“Jal mogessemida !!! (Selamat makan)” Gongchan bersemangat karena sedari tadi cacing-cacing di perutnya sudah memberontak minta makan. Sedangkan Nana, dengan santai ia melahap hidangan di hadapannya.

“Bagaimana makanannya?” tanya Jinyoung.

Oishiii” Jinyoung hanya tersenyum mendengar jawaban Nana karena Nana membalasnya dengan bahasa Jepang.

“Kau semakin banyak memahami bahasa Jepang ya? Berarti kau siap menjadi watashi no kanai desu (istriku)” mendengar penuturan Jinyoung, Nana berhenti makan dan menatap Jinyoung lekat-lekat.

“Maaf… Aku salah ngomong ya? Jangan dipikirkan. Aku hanya asal bicara. Ayo lanjutkan makannya.”

Wajah Nana semakin memancarkan kebingungan.

Apaan sih??? Padahal aku baru mau nanya kanai tuh artinya apa. Pernah denger sih kata kanai tapi lupa. Kok dia jadi salting gitu? batin Nana.

“JINYOUNG !!!” Jinyoung merasa seperti ada yang memanggil namanya. Ia pun celingak-celinguk mencari sumber suara itu.

“Sandeul?” Jinyoung melihat Sandeul sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya dan ia pun mendekati meja Jinyoung.

“Senang berjumpa denganmu lagi”

“Apa yang sedang kau lakukan di London?” tanya Jinyoung heran.

“Aku sedang jalan-jalan saja. Oh Gongchan, sudah lama tidak berjumpa denganmu. Apa kabar?”

Aku baik-baik saja” Gongchan membalas sapaan Sandeul dengan sikap cueknya.

Jinyoung-ah, Apakah ia adalah pacarmu?” Sandeul melirik nakal ke arah Jinyoung.

Maybe yes maybe no” Jinyoung hanya tersenyum kecil.. Sejujurnya ia bingung akan hubungannya dengan Nana. Mereka bisa dikatakan seperti orang berpacaran namun sejujurnya Nana selalu ragu untuk menerima cinta Jinyoung.

Hello. My name is Lee Junghwan. You can call me Sandeul. Nice to meet you.” ucap Sandeul dengan bahasa Inggris yang sedikit kaku.

“Hello. My name is Nana. Nice to meet you too” Nana membalasnya dengan senyuman manis persis seperti boneka.

Are you Bristish?”

Aniyo. Naneun Hanguk saramiyeyo” (Bukan. Aku orang Korea) Nana membalasnya dengan bahasa Korea fasih dan membuat Sandeul sedikit bengong.

“Omo, jadi rupanya kau sama dengan kami?” Sandeul tertawa.

Tanpa disadari, Sandeul mengamati Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan kagum.

“Wa~ cham yepeoneyo” (Kamu cantik sekali) Sandeul berbicara dengan nada kagum.

“Jeongmal gumawo” Nana tersipu

“Sandeul hyung kau ingin bergabung dengan kami?” suara Gongchan membuyarkan lamunan Sandeul hingga membuat Sandeul salting sendiri.

“Oh, trima kasih tapi aku tidak ingin menganggu makan malam kalian. Aku juga sedang menunggu adikku. Kapan-kapan aku akan datang menemui kau lagi, kawan. Ini kartu namaku. Kamu dapat menghubungiku ke nomor ini. Aku pamit duluan. Sampai jumpa lagi”

“Ne, jalgayo” (Ya, hati-hati)

“Dia temanmu?” tanya Nana begitu melihat bayangan Sandeul perlahan-lahan mulai luput dari pandangan.

“Ya. Teman SMA ku.”

“Anaknya kelihatannya baik ya?”

“Iya. Dia memang sahabat terbaikku. Anaknya kadang suka bertindak seenaknya dan ceplas ceplos tapi memang itulah daya tariknya. Sudahlah. Tidak penting membahas anak itu. Kamu habiskan makanannya dulu. Habis itu kita pergi jalan-jalan lagi.”

“Baiklah.” Nana kembali berkonsentrasi pada makanannya.

“Ah hyung, I’m full. Aku ijin ke kamar kecil dulu yaGongchan langsung beranjak meninggalkan Jinyoung & Nana

Sepeninggalnya Gongchan, Jinyoung sedikit menanyakan pendapat mengenai adiknya.

“Na, menurutmu adikku gimana?”

“Baik. Namun dari wajahnya kayaknya sih anaknya cuek banget. Mungkin rada jutek gitu.”

“Oh… Bener banget… Anaknya slengean sih. Ngelakuin sesuatu gak dipikir pakai otak dulu. Langsung tancap gas. Udah susah di rem-nya lagi. Mungkin rem nya udah blong kali.” Ucap Jinyoung sambil menahan senyum.

“Sudah. Jangan membicarakan Gongchan lagi. Kalau dia tahu kita sedang membicarakannya, dia pasti akan ngamuk deh. Konsentrasi pada makanan. Dari tadi ada gangguan mulu. Lihat, makananku sudah mulai mendingin. Tapi porsinya banyak juga ya…”

“Iya. Karena kamu pesan porsi yang medium. Sebaiknya kita cepat-cepat menghabiskan makanan ini lalu kita akan pergi jalan-jalan lagi. Ke tempat hiburan berikutnya.”

Nana pun menuruti kata-kata Jinyoung. Ia kembali berkonsentrasi pada makanannya yang sudah mulai mendingin. Namun entah kenapa hati Nana berdebar-debar setiap kali melihat senyuman Jinyoung, pria yang sesungguhnya amat dicintai olehnya.

“Hyung, abis ini kita mau jalan-jalan kemana?” Gongchan tiba-tiba muncul dan langsung menaruh pantatnya di kursi.

“Hmmm, bagaimana kalau kita ke London Aquarium? Harusnya sih masih buka jam segini. Kita juga bisa menyelam dan memberi makan ikan-ikan. The aquarium has 350 species for you to see. Like Sharks, Deadly Stone Fish ect”

“Andwae !!! Mending kalau kita yang memberi makan ikan. Kalau kita yang dimakan ikan gimana?? Ikan disanakan buas-buas. Lagipula mana ada malam natal di aquarium? Harusnya kan ke tempat romantis bukan ke tempat taruhan nyawa.”

“Trus, kamu mau kemana Gongchan?” tanya Nana lembut.

“How’s about London Eye – an extraordinary symbol for an extraordinary city? It’s as same as like Eifell Tower and The Empire State at New York.” Usul Jinyoung lagi dengan bahasa Inggrisnya yang fasih.

“Bosan ah.. Aku udah sering kesana. Tidak begitu menantang.”

“Ke bioskop aja bagaimana? Kita ke Vue Cinema Acton.” usul Nana.

“Gak ada film yang bagus.”

“Gongchan !!! Kau jangan membuat hyung emosi ya…. Kamu sebetulnya maunya kemana???”

“Kok hyung jadi marah-marah sih? Aku kan ikut kesini karena permintaan hyung. Huh ! Tauk gitu aku pergi aja deh ama teman-temanku. Pasti jauh lebih menarik. Ya sudah, terserah kalian saja mau kemana. Aku mau pulang saja.” Gongchan segera berbalik meninggalkan mereka.

“Jinyoung, maaf ya. Apa ideku terlalu buruk ya?”

“Tidak kok. Watak dia memang keras kepala seperti itu.Kan tadi aku sudah bilang. Rem nya sudah blong. Jadi sekarang kita kemana?”

“Aku sih maunya ke bioskop. Tapi kalau kamu mau ke aquarium, aku sih ikut saja.”

“Ya sudah, aku temani kamu ke bioskop. Kata-kata anak itu jangan diambil hati ya. Kalau masih ada waktu, kita pergi jalan-jalan lagi. Besok kan sudah natalan. Sudah selesai makannya? Aku minta bill dulu ya.” Ken mengacungkan tangannya memanggil pelayan yang tadi melayani mereka. “Ja’i demande la facture. (Aku minta bonnya)”

Attendez une minute (Tunggu sebentar)” ujar pelayan itu ramah sambil masuk ke dalam Counter (Meja Kasir)

Tak lama kemudian, pelayang itu datang sambil membawa bill.

Ce Montant de toutes les (Ini jumlah semuanya)” kata pelayan itu sambil menyerahkan bill ke tangan Jinyoung. Jinyoung mengeluarkan sejumlah uang dan memberikannya kepada sang pelayan.

J’ai pris le changement a ete (Saya ambil uang kembaliannya dulu)”

No. Take It All. (Tidak usah. Ambil saja semuanya)”

Merci. Je vais attendre encore une heure d’arrivee. (Terima kasih. Saya tunggu kedatangannya lain waktu)” ujar pelayan itu sambil berlalu ke arah cuisine (dapur).

“Jinyoung, kau tidak menggunakan kartu kredit?”

No. Deja entre dans la limite de la limite. (Tidak. Sudah memasuki batas limit)”

Oh Jinyoung. Please don’t speak France anymore. I don’t understand what do you mean.”

“Hahaha.. I’m sorry but you have a little learning. Ok. Let’s go to the Cinema.” Ucap Jinyoung sambil merangkul bahu Nana berjalan menuju parkiran.

                                         

                                   TO BE CONTINUED

9월 14, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: