liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 3)

Title:                        My True Love (Part 3)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1 – Part 2

“Duh, anak ini kemana sih… Di teleponin gak diangkat-angkat. Come On, Na. Where are you???”

“Vic, jangan mondar-mandir kayak seterikaan gitu. Kau membuat ku tambah pusing.”

Ini adalah berita penting!! Mana mungkin aku bisa tenang.”

“Iya aku tau. Tapi mereka sedang dating. Mereka mungkin tidak mau diganggu.”

“Apa yang harus aku lakukan sekarang?”

“Wait until they come home. Okay?”

Victoria pun mengangguk lemah.

Sementara itu di luar bioskop…

“Tadi filmnya bagus ya? Walaupun agak sedikit mengenaskan. Aku sampai gak berasa makanin pop corn sampai habis. Padahal tadi aku udah kekenyangan pas makan di Clos Maggiore.”

“Iya..”

“Jinyoung, kau sudah menghubungi adikmu? Aku kuatir padanya.”

“Sudahlah. Jangan pikirkan anak bodoh itu. Na, sekarang sudah jam berapa? Apa kita masih ada waktu untuk jalan-jalan lagi? Aku tak menyangka kalau filmnya sampai selama ini. Bisa-bisa Victoria dan Nichkun kebingungan mencari kita.”

“Masih ada waktu sih. Baiklah, aku akan menelpon Victoria dulu supaya dia tidak panik. Abis itu kita jalan-jalan lagi.” Nana mengeluarkan Handphone dari dalam tasnya dan melihat ada 20 missed call dari Victoria.

“Ya ampun,Victoria missed call sebanyak ini. Apa ada sesuatu yang terjadi disana ya?”

“Coba saja kau telepon balik.”

Nana mengetik-ngetik beberapa nomor dan menempelkan Handphonenya ke telinga. Nada sambung sudah terdengar namun belum ada jawaban.

“Kok gak diangkat sih?” Nana semakin panik.

“Coba lagi.” Nana menurutinya.

“Halo.”

“Akhirnya… Oppa, dari tadi aku menghubungi mengapa tidak diangkat-angkat?”

“Oh maaf..”

“Victoria eonni baik-baik sajakan?”

“Iya dia baik-baik saja.Ada apa, Na?”

“Lho? Kok balik nanya? Justru aku mau nanya kenapa tadi Victoria eonni menelponku sampai 20x? Aku sedang ada di bioskop. Maaf, jadi tidak kedengaran.”

Nickhun tertegun. Namun tentu saja Nana tidak bisa melihat raut wajah Nickhun yang sudah berubah menjadi pasi.

“Halo? Oppa? Kau masih mendengar suaraku kan?”

“Oh iya kok.. Hmmm…” Nickhun bingung kata-kata apa yang harus terlontar dari mulutnya.

“Nana… Kau bisa pulang ke apartment sekarang? Ada hal serius yang harus aku beritahuan padamu.”

“Ada hal apa sih? Aku baru keluar dari bioskop nih. Melalui telepon saja deh.”

“Tidak bisa !!!” Nickhun mulai menggertak. “Pulang sekarang !!!”

“Kok kau malah memarahiku?? Oke. Aku akan pulang sekarang.” Nana memutuskan sambungan telepon dengan wajah cemberut.

“Ada apa?”

“Gak tau. Gak jelas banget. Jinyoung, kita pulang sekarang ya? Aku takut Nichkun jadi semakin murka. Pulang-pulang, aku bisa di mutilasi.” Nana segera menarik tangan Jinyoung dan berjalan di tengah-tengah kerumunan orang yang memadati bioskop.

                                                        ***

Ting Tong….

Nickhun membuka pintu.

“Masuk.” Ujarnya singkat, padat, jelas.

“Ada masalah apa sih?” tanya Nana sambil duduk di sofa. Jinyoung menemani di sampingnya.

“Ehem…” Itu memang kebiasaan Nichkun. Sebelum berbicara, ia pasti berdeham dulu. “Na, tadi aku mendapat telepon dari Raffles Hospital, Singapore. Dan teman baikku disana memberi kabar bahwa telah ditemukan lagi seorang korban dengan luka serius yang selamat dari kecelakan pesawat yang menimpamu juga beberapa tahun yang lalu.”

“Trus?? Apa hubungannya denganku. To the point aja lah, Nichkun. Jangan muter-muter dan membuatku bingung.”

“Karena korban yang selamat itu adalah eomma mu” Nichkun memberikan penekanan pada kata tersebut. “Your mom still alive, Na !!!”

Seakan ada petir yang menyambar Nana. Perasaan sudah bercampur aduk tak karuan. Antara kaget, bingung, cemas, senang, syok dan lain sebagainya. Kata-kata yang hendak ia luncurkan pun mendadak berhenti di kerongkongan dan tidak bisa keluar dari mulutnya. Ia merasa pita suaranya seakan putus.

“Ah, kau ini. Kalau bercanda kira-kira dong. Bikin orang kaget saja.” Nana hanya tersenyum kikuk dan menganggapnya sebagai sebuah lelucon.

“Aku serius, Na !!! Tak ada gunanya aku bercanda di saat genting seperti ini.”

“Nickhun, please deh ah… Mungkin saja kamu salah orang. Aku tahu bahwa aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi.”

“Na, ada satu pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu dan mungkin ini bisa menguatkan bukti.”

“Mwoya?”

“Apa kau sudah pernah ke makam eomma mu?” Nana tercengang mendengar pertanyaan Nickhun. Ya, ia memang belum pernah sekalipun ziarah ke makam eomma-nya. Ia hanya tahu bahwa beliau sudah meninggal dan jenazahnya sudah terkubur di puing-puing dan sudah tidak bisa dievakuasi lagi. Lalu Nana dirawat oleh Nickhun dan Victoria yang segera menyelamatkan nyawanya karena waktu itu Nana sudah kehabisan banyak darah dan Nickhun lah yang mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan Nana. Sejak saat itu, Nana dibawa ke London oleh mereka dan dianggap saudara mereka. Lalu Nickhun lah yang mempertemukan Nana dengan Jinyoung. Ayah Nana sudah lama meninggal karena penyakit jantung. Nyawa adik kesayangan nya juga sudah terenggut pada sebuah kecelakaan maut. Yang ia punya hanyalah kakaknya entah berada dimana dan tak pernah sekalipun menghubunginya. Terakhir kabar yang ia dengar, kakaknya sudah menikah dan tinggal di Paris. Nana sudah tak mau menginggat-ngingat masa lalunya yang kelam. Ia ingin menjadi seseorang yang amnesia, melupakan segalanya. Yang ia tahu hanya Nickhun, Victoria dan Jinyoung. Namun sekarang, kepalanya benar-benar pusing. Eomma nya yang selama ini sudah hampir dilupakannya karena kecelakaan itu sekarang tiba-tiba dikabarkan masih hidup dan akan kembali ke kehidupannya lagi. Nana sungguh tak tahu harus berbuat apa.

“Na?” Jinyoung memegang erat tangan Nana. “Are you okay?” tanyanya lembut.

“Aku… Aku…. Tak ingin bertemu dengannya.” ucap Nana dengan hati yang berat.

“Kenapa? Aku tahu kau sudah lama merindukannya. Tidakkah kau senang karena ternyata eomma mu sekarang masih hidup dan kalian akan berkumpul bersama lagi di Seoul.”

“Kau mengusirku?”

“Oh, bukan itu maksudku. Aku tidak mengusirmu. Aku sejujurnya sangat sedih karena kau harus berpisah denganku. Mereka pasti ingin kau tinggal bersamanya dan itu berarti kau harus meninggalkan London.”

“Kau bilang saja padanya bahwa aku sudah mati !!! Aku sudah tidak ingin bertemu dengannya lagi !!!” Nana setengah membentak.

“Na, jangan seperti itu lah. Kamu harus kembali seperti dulu. Apa kau tega membiarkan eomma mu sendirian mencarimu dan mengira kau sudah tidak ada? Apa aku harus berbohong setega itu bahwa kau sudah mati !!! Aku masih punya hati, Na…”

“Aku tak peduli ! Aku tak mau menemuinya.” Nana berlari sekencang-kencangnya meninggalkan apartment Nichkun dan Jinyoung pun mengejarnya. Nana berlari tanpa arah dan tujuan ditambah lagi salju yang turun semakin deras pun membuat sekujur tubuh hampir membeku. Jinyoung dengan sekuat tenaga mengejar Nana. Hingga akhirnya Nana terduduk lemas di sebuah bangku taman. Ia masih menangis sesenggukan. Jinyoung menghampirinya dan dengan hati-hati merengkuh tubuh Nana yang menggigil itu ke dalam pelukannya. Tangis Nana pun semakin meledak di dalam pelukan Jinyoung.

“Aku gak akan pernah ninggalin kamu.” Bisik Jinyoung tepat di telinga Nana.

“Jinyoung, kenapa cobaan dalam hidupku gak pernah berakhir? Aku capek menderita terus seperti ini.”

“Kau harus tegar, Na. Aku tahu kau ini tangguh. Aku akan selalu menemanimu.”

“Aku gak mau kalau harus balik ke Seoul. Aku sudah terlanjur hampir melupakan eomma ku. Yang ada di pikiranku saat ini cuman kamu, Nickhun dan Victoria. Semuanya terlalu rumit.”

“Na, jangan pernah lupa siapa yang telah melahirkanmu. Kalau tak ada eomma mu dan eomma ku, mana mungkin kita berdua bisa terlahir dan bertemu seperti ini. Hadapi saja.”

Nana masih menangis di pelukan Jinyoung dan menyadari bahwa ia telah melakukan dosa yang sangat besar. Ia pun menyadari bahwa kata-kata Jinyoung & Nickhun semuanya demi kebaikannya. Ia menyesal karena telah membentak Nickhun sekasar itu padahal niat Nickhun hanya untuk membantunya.

“Jinyoung, kalau aku bertemu eomma ku, pasti mereka ingin aku tinggal bersamanya lagi. Lalu kau?” Nana menatap mata Jinyoung lekat-lekat dan berharap Jinyoung tidak akan pernah meninggalkannya.

So what??” Nana agak tercengang mendengar perkataan Jinyoung. Apa ia tadi hanya menghiburnya dengan mengatakan aku tidak akan pernah meninggalkanmu? Apa sekarang ia ingin meninggalkannya? Nana jadi panik sendiri. Apa Jinyoung akan membiarkannya pergi? Seribu kegundahan kembali mendera Nana. Namun nampaknya Jinyoung bisa membaca pikiran Nana. “Walaupun kita harus pacaran jarak jauh, aku sanggup kok setia demi kamu. Aku gak mau kehilangan kamu, Na. Kalau perlu, aku menemani kamu ke Singapore untuk bertemu ibu mu sekalian berkenalan lalu aku akan menemanimu ke Seoul biar bagaimanapun Seoul juga kampung halamanku walau aku sudah lama tak menginjakkan kaki di Seoul. Biar saja Gongchan yang pulang ke Jepang.”

“Jinyoung, kamu serius?” secercah harapan kembali muncul dari benak Nana.

“Aku sangat serius… Jeongmal saranghaeyo. Aku tidak mungkin meninggalkanmu di saat seperti ini.” Jinyoung kembali mempererat pelukannya. Perasaan Nana terbang ke langit ke tujuh dan tidak bisa diukirkan dengan kata-kata. Ia ingin selamanya hidup seperti ini. Bersama dengan pria yang amat dicintainya. Walaupun ia dulu terkenal Playgirl, namun semenjak mengenal Jinyoung, perasaan nya menjadi lebih tenang dan perasaan ini telah merubah pribadinya menjadi baik. Ia rela melepaskan semua yang dimilikinya asalkan ia tidak kehilangan Jinyoung.

“Jinyoung, maaf ya. Tadi aku pasti kelihatan kasar sekali ya? Aku menyesal telah membentak Nickhun. Padahal ia melakukan semua ini demi kebaikanku juga. Kata-katanya sangat tepat sekali.”

“Baguslah kalau kau menyesal. Tapi aku tak perlu kau sekasar apapun. Ayo, sebaiknya kita pulang. Kalo lebih lama lagi disini, kita berdua bisa menjadi boneka salju. Kau harus meminta maaf pada Nickhun.”

“Jinyoung, aku sampai lupa bilang…”

“Ne?”

Joyeux noel (Merry Christmas)” Jinyoung tersenyum.

“Wow, kau bisa bicara bahasa Perancis juga ya? Katanya kemarin itu gak bisa?”

“Aku kan cuman mengerti sedikit-sedikit saja, Jinyoung. Tidak sepertimu anak jurusan sastra Perancis.” Nana menjulurkan lidahnya.

“Dasar kau ini. Merry Christmas.” Jinyoung menarik lembut tangan Nana dan menuntunnya menuju apartment.

“Jinyoung, apa Nickhun mau memaafkanku?” tanya Nana setelah mereka tiba di depan pintu apartment.

“Pasti. Nickhun kan sudah menganggapmu adiknya sendiri. Dia tidak mungkin berlama-lama marah kepadamu. Bahkan mungkin sekarang ia sedang mencemaskanmu.”

“Jinyoung, kau tetap disini ya menemaniku. Aku takut.”

“Kau harus semangat. Sudah. Tekan bell saja dulu. Kita hadapi bersama ya?”

Nana mengangguk lemah sebelum akhirnya ia menekan bell dengan perasaan gugup.

Ting… Tong…

Namun tak ada jawaban dari dalam. Nana melirik Jinyoung cemas.

“Jinyoung, apa mereka masih marah padaku?”

“Mungkin mereka tidak dengar. Coba tekan lagi.”

Ting Tong….

Tetap tak ada jawaban.

“Jinyoung, bagaimana ini? Masa aku musti tidur di luar?”

Tiba-tiba keheningan dipecahkan oleh suara dering handphone Jinyoung. Namun nomor yang tertera di layar handphonenya bukan lah nomor yang ia kenal.

“Sebentar ya. Aku angkat telepon dulu.” Jinyoung berjalan perlahan meninggalkan Nana yang masih menatapi pintu apartment.

Moshi moshi. (Halo)”

“Ini aku, Nickhun.”

“Hei kau. Apa yang sedang kau lakukan? Kami daritadi sudah memencet bell namun tak kau gubris juga.”

“Aku sengaja. Aku tahu pasti kau dan Nana yang dari tadi memencet bell terus.”

“Lalu apa maksudmu melakukan ini, hyung?”

“Kau bawa ia pergi malam ini. Karena mungkin malam ini malam pertemuan kalian yang terakhir. Kalian bersenang-senanglah.”

“Apa maksudmu?”

“Lakukanlah permintaanku. Kau tak mungkin bisa bertemu dengannya lagi.”

“Kalau masalahnya hanya soal keluarganya, aku ingin ikut dia ke Singapore ataupun kembali ke Seoul.”

“Kau jangan gila !!! Jinyoung, kau tidak bisa ikut dengannya !”

“Kenapa? Itukan hak ku. Gongchan akan kupulangkan ke Jepang.”

“Masalahnya, tadi tak lama setelah kalian pergi, ibumu menelponku.”

“Mwo !?!?!? Apa yang terjadi, Nickhun? Katakan padaku.”

“Ia memintamu segera pulang ke Jepang bersama Gongchan karena….”

“Karena apa?”

“Ia ingin menjodohkanmu.”

Jinyoung serasa ditampar. Namun bukan pipinya yang sakit tapi hatinya. Baru tadi ia berkata ia akan selalu disisi Nana tapi sekarang ibunya menyuruhnya pulang ke Jepang untuk dijodohkan. Apakah ini tidak terlalu kejam untuk Nana? Jinyoung merasa tidak rela harus melepas Nana. Ia yakin 100%, Nana akan syok dan pingsan ditempat karena emosinya masih labil. Kenapa cobaan selalu menimpa Nana berturut-turut? Apakah tak ada jalan lain untuk menebus kesalahannya pada Nana? Kapan Nana akan merasakan kebahagiaan? Jinyoung akhirnya memutuskan untuk tidak membicarakan masalah ini pada Nana. Jinyoung sibuk mencari alasan tanpa membuat hati Nana terluka. Sudah cukup penderitaan yang Nana alami. Ia tak mau menambah penderitaan gadis itu lagi.

“Jinyoung? Kok diam?”

“Ah, maafkan aku. Sudah dulu ya, hyung.” Jinyoung langsung memutuskan sambungan telepon dan dari jauh, ia mengamati wajah Nana dengan tatapan sendu.

“Na, sudahlah. Nampaknya Nickhun masih marah padamu.” Jinyoung terlanjur berbohong.

“Trus nasibku bagaimana? Masa aku harus menunggu di luar semalaman?”

“Kita pergi saja yuk. Kemana gitu. Hari Natal gini, pasti café-café masih pada buka. Kita menenangkan diri dulu.”

“Kau mau main di café sampai pagi?”

“Ya ngaklah. Kalau tidak keberatan. Kau bisa menginap di apartment untuk sementara. Ada Gongchan jugakan? Kau jangan negative thinking dulu.”

“Aku tahu. Aku sangat menghargai kebaikanmu. Tapi aku lebih baik menunggu disini saja. Aku merasa bersalah pada Nickhun.”

“Na, jangan paksakan dirimu. Kalau kau keras kepala seperti ini, kau bisa sakit. Salju diluar lagi turun dengan deras. Kau lama-lama bisa beneran jadi snowman.”

“Baiklah. Kita ke café saja. Mataku masih sulit untuk dipejamkan.”

Jinyoung merangkul tubuh Nana dan mengajaknya berlalu dari situ dengan seribu kegundahan hati. Perasaan Jinyoung saat ini benar-benar galau. Ia tidak pernah mengerti jalan pikiran ibunya sendiri. Mungkin Gongchan memiliki sifat yang sama dengan ibunya.

Namun baru beberapa langkah Jinyoung & Nana berlalu, tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan Victoria muncul sambil menenteng tas milik Nana.

”Eonni?”

”Nana, jeongmal mianhae. Aku rasa kau sudah cukup berada disini. Besok kau kembalilah ke Singapore. Temui eomma mu. Jinyoung, hari ini Nana tidur di apartemen mu saja ya.” tanpa sempat dijawab, Victoria langsung menutup pintu lagi.

”Eon !!! Buka pintunya, eon !!! Mianhae… eon !!!” Nana menggedor-gedor pintu.

”Na… sudahlah. Jangan paksa dirimu. Emosi mereka masih labil. Kita pergi menenangkan diri dulu ya.”

”Tapi…” Nana tak sanggup membendung air matanya.

“Aku tau. Tapi kita juga tidak bisa memaksa mereka. Itu hak mereka, Na. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu.” Jinyoung menyeka air mata Nana dengan lembut. Nana-pun tak bisa menolak ajakan Jinyoung lagi. Jinyoung merengkuh pinggang Nana dan mengajaknya berlalu dari situ sambil membawakan tas yang berisi baju-baju milik Nana.

Café Japan, Cricklewood, London

Irrashimasu. Nan mei sama desuka. (Selamat datang. Ingin pesan untuk berapa orang)” sapa pelayan itu ramah

Ni nin desu. (2 orang)”

Kochira e douzo (Silahkan sebelah sini)”

Arigatou gozaimasu (Terima kasih banyak)”

Go chuumon wa (Mau pesan apa?)”

Watashi wa sushi to ocha desu. (Aku mau sushi dan teh)” ujar Nana.

Watashi wa koohi desu. (Aku mau kopi)”

Hai, kashikomarimashita. Shoushou o machi kudasai (Ya. Baiklah. Silahkan tunggu sebentar)

Hai (Baik).”

”Jinyoung, tumben sekali kau mengajakku ke cafe Japan?”

”Iya. Mencari suasana baru. Biasanya kau sukanya ke Rainforest cafe kan? Aku sudah hampir bosan kesana.”

“Jinyoung, ngomong-ngomong tadi siapa yang menelpon?”

“Hmmm… Sandeul… Dia menanyakan kapan kita akan jalan-jalan bareng lagi.”

”Oh… Lalu mengapa wajahmu tegang begitu? Aku senang bisa berkenalan dengan temanmu itu. Dia sangat menarik…”

”Na, apakah kau jadi untuk pergi ke Singapore?” Jinyoung mulai mengalihkan pembicaraan.

”Sejujurnya, aku kuatir dengan kondisi eomma ku.”

”Aku boleh kan ikut denganmu?”

”Tentu saja. Eomma pasti sangat senang bertemu denganmu.” secercah senyum tersungging di bibir Nana.

”Tapi sebelumnya, aku ingin bertanya padamu. Sesuatu yang serius.”

”Mukamu terlihat serius sekali. Ada apa?”

”Maukah kamu bertunangan denganku?” ucapan Jinyoung membuat Nana tertegun sejenak. Ini sungguh-sungguh pertanyaan yang sulit ia jawab ditengah kekalutannya saat ini. Masalah ibu nya belum selesai sekarang Jinyoung malahan membuatnya tambah bingung.

”Jinyoung, aku tidak bisa menjawab sekarang. Aku ……”

”Kau tidak mempercayaiku?” Jinyoung segera memotong ucapan Nana.

”Please jangan salah paham. Aku sangat mempercayai ketulusan cintamu. Tapi ini hanya akan menambah beban pikiranku. Jinyoung, beri aku waktu ya. Aku janji akan menjawab secepatnya.”

”Tidak bisa. Kamu harus jawab sekarang.”

Karena mungkin ini hari terakhirku bisa bertemu denganmu. Kalau kamu menjawab tidak, aku akan berusaha melepaskan mimpi-mimpi ku untuk bisa hidup bersamamu. Tapi kalau kau menerimaku, aku yakin cobaan seberat apapun pasti bisa aku hadapi. Termasuk tantangan terbesarku yakni ibuku. Aku akan menemanimu ke Singapore dan berusaha untuk menolak perjodohan ini dan sehabis itu, aku akan membawamu ke Jepang untuk bertemu dengan keluarga besarku. Aku sudah tidak peduli lagi, hati Jinyoung terus berkecamuk.

”Jinyoung, maaf. Aku tidak bisa.” Jinyoung serasa dilempar 1 ton logam yang tepat mengenai kepalanya hingga terasa mau bocor.

”Kenapa, Na? Jeongmal saranghaeyo.”

”Aku tahu, Jinyoung. Tolong mengertilah posisiku saat ini. Aku belum ingin memikirkan masalah itu. Sudah terlalu banyak masalah di otakku ini. Kepalaku serasa mau meledak. Kalau kau benar-benar mencintaiku, tunggulah aku. Kalau kita berjodoh, suatu saat aku pasti akan menerima dirimu. Tapi tidak untuk saat ini.” Jinyoung termenung sejenak.

”Baiklah. Kalau ini memang keputusanmu. Aku akan pulang ke Jepang.”

”Apa katamu? Jinyoung, bukan berarti aku menolakmu. Aku hanya butuh waktu.”

”Aku tau, Na. Aku hanya mengatakan bahwa aku ingin pulang ke Jepang. Ibuku sudah mencariku. Kamu juga akan pergi ke Singapore kan? Kita bertemu disini lagi kalau takdir sudah menjawab semuanya.”

Aku tak yakin kita bisa bertemu lagi, lanjut Jinyoung dalam hatinya sendiri.

”Jadi maksud perkataanmu untuk menemaniku itu hanya bualan belaka? Iya? Kau hanya ingin menghiburku dan mempermainkanku?”

”Iya. Aku hanya tidak tega melihat air matamu. Aku tidak pernah berpikir untuk menemanimu ke Singapore karena aku juga tak ada artinya lagi untukmu kan? Kau sudah menolak bertunangan denganku.” Jinyoung berbicara sambil memanglingkan wajahnya.

”Aku tak menyangka, kau orang yang seperti ini. Katamu, kau memahami aku! Seharusnya kau tahu dan bisa mengerti donk posisiku saat ini! Aku sedang punya banyak masalah! Kau brengsek.” Nana segera menyambar tas tangannya dan berlalu meninggalkan Jinyoung yang masih tertunduk tanpa berusaha untuk mencegah kepergian Nana tanpa berusaha untuk mencegah kepergian Nana.

”Mianhae, Nana. Jaga dirimu.”

                                        TO BE CONTINUED

9월 14, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: