liesha92

BANA

[FANFICTION] ONLY ONE

Title: Only One

Author: Lisa Lunardi

Genre: Romance

Length: Oneshoot

Cast:

  • Jung Jinyoung as Jinyoung
  • You as Kim Hae Ra
  • Nana
  • Key

Other Cast         : All member B1A4

OOH~ I pray no tears in your dreams

I know you’ll fly high in your life
Chagabge byeonhan maeumdeureu
Geudaereul alji mothajiman
Nuguboda meotjin geudae
Nae gyeote isseo
You‘re the only one

Gemuruh suara triakan dan tepuk tangan membahana di setiap sudut auditorium. Aku pun tak mau kalah. Ku teriakan nama idolaku sekencang-kencangnya sehingga pita suaraku serasa mau putus tapi aku tak peduli. Ini semua demi B1A4. Ya, aku memang sudah gila dan hampir gila betulan semenjak rokkie boyband ini debut. Entah sudah berapa banyak pernak pernik seputar B1A4 yang aku kumpulkan. Aku tergila-gila dengan kelima member nya yang masih fresh, imut-imut dan memiliki banyak talenta terutama sang leader, Jung Jinyoung yang benar-benar membuatku abnormal. Hari ini kesempatan yang aku tunggu-tunggu pun tiba. Aku dapat menghadiri showcase B1A4 di Seoul. Aku bisa melihat mereka secara langsung. Air mataku hampir lagi tumpah ketika mereka mulai naik ke atas panggung.

“Kamsahamnida, BANAdeul!! Saranghaeyo!!” Ucap sang vokalis utama, Sandeul sambil membentuk tangannya seperti gambar hati dan tersenyum manis kepada para fansnya. OMO~ aku meleleh dibuatnya. Kulihat para member B1A4 mulai memasuki backstage sebab lagu Only One itu adalah lagu terakhir yang mereka bawakan di showcase kali ini. Sungguh aku masih belom puas melihat mereka. Tanpa pikir panjang, kutarik tangan kedua temanku pergi meninggalkan venue.

“Aduh Haera! Kau ingin menarikku sampai mana!!’ Protes Nana, sahabat terbaikku yang kupaksa datang ke showcase B1A4 untuk menemaniku.

“Nana, aku mau ke backstage!”

“Hah? Hei, kau jangan gila! Kau bisa ditendang keluar oleh satpam!”

“Ahhh aku tak peduli. Aku ingin menyerahkan hadiah ini untuk Jinyoung”

“Iya aku tau tapi gak perlu senekat itu” Ujar  Key, teman yang kuajak secara paksa juga.

“Bagaimanapun caranya aku harus bertemu Jinyoung! Harus!” Aku mulai merengek. Kulihat Nana dan Key saling berpandangan dan akhirnya mereka pun pasrah.

“Ya ya ya. Jinyoung Jinyoung Jinyoung. Aku akan membantumu. Ayo ikut aku” Ucap Nana.

Kami pun berada di luar pintu masuk yang disambungkan ke backstage dan kulihat ada beberapa bodyguard sedang bertugas.

“Aku punya ide” Nana berjalan meninggalkan ku dan Key menuju ke bodyguard itu. Entah apa rencananya. Tiba-tiba aku dikejutkan karena tiba-tiba Nana jatuh pingsan tepat di hadapan bodyguard itu. Lalu para bodyguard itu buru-buru menghampiri Nana dan berusaha menyadarkannya. Namun Nana tak kunjung sadar. Aku bisa memerhatikan raut wajah Key penuh dengan evil smile. “Nana memang ada-ada saja akalnya” eluh Key. Kulihat bodyguard itu menggendong Nana menuju backstage dan Nana menunjukkan kode dengan jarinya yang menyuruhku masuk juga ke dalam backstage. Secara perlahan, aku berjalan bersama Key mengikuti kearah mana bodyguard itu akan membawa Nana. Mereka membawa Nana ke sebuah ruangan dan dapat kulihat sang rapper Baro sedang duduk disana. Astaga tampannya.

“Hei, dia kenapa?” tanya Baro.

“Aku tidak tahu. Dia mendadak pingsan di depan backstage”

“Ya sudah. Kamu keluarlah. Biar aku yang urus”

“Neeee” Lalu bodyguard itu mulai meninggalkan ruangan. Aku menyembunyikan badanku sekecil-kecilnya bersama Key agar tak tertangkap basah. Ketika aku mengintip lagi alangkah kagetnya aku karena kulihat Baro sedang berusaha menyadarkan Nana dengan minyak angin.. Arghhhhh aku envy bangettt. Seharusnya akulah yang ada di posisi itu..

“Key, aku permisi sebentar. Kau tetaplah disini menjaga Nana”

“Lah, kau mau kemana?”

“Mencari member lain. Kenapa hanya ada Baro disini” Aku mulai jengkel. Aku ingin bertemu Jinyoung.

“Kau ini bener-bener nekat ya. Hati-hati. Kalau sampai ketahuan, tanggung sendiri resikonya” Aku beranjak meninggalkan Key. Aku melihat-lihat sekitar backstage namun aku tak menemukan batang hidung para member lain. Hingga aku menemukan lagi satu ruangan yang menjadi pusat perhatianku karena lampunya menyala dan pintunya pun sedikit terbuka. Aku tak berani mengintip dulu namun kutajamkan pendengaranku untuk menguping pembicaraan mereka.

“Ahhhh parfumku tertinggal di waiting room!”

“Telpon Baro saja suruh antarkan”

Aku tak berpikir panjang lagi sebab suara yang kudengar barusan adalah suara Jinyoung dan Sandeul. Aku yakin aku tak salah. Mungkin bisa dikatakan aku tak tahu malu namun inilah aku. Ini semua demi B1A4, boyband kesayanganku. Kudobrak pintu sambil sedikit berteriak “Oppaaaa” Namun pemandangan apalah yang kudapati??? Aku sungguh-sungguh tolol dan aku benar-benar sudah merasa malu sebab aku melihat Jinyoung, Sandeul dan Gongchan hanya memakai boxer tanpa ada sehelai bajupun. Sedangkan Shinwoo hanya mengenakan kutang dan boxer.

“Kyaaaaaa” tanpa kusadari aku melempar kado yang hendak kuberikan untuk Jinyoung.

“OMO~” Sandeul menunjukkan expresi yang tak kalah terkejutnya. Ia buru-buru mengambil baju dari dalam tasnya dan langsung memakainya. Sedangkan wajahku mungkin sudah merah seperti kepiting rebus. Diluar dugaanku Jinyoung malah menarikku masuk dan menutup pintu. Oh My God, aku memejamkan mataku selama beberapa detik.

“Bukalah matamu. Aku sudah memakai baju” ucap Jinyoung lembut. Perlahan kubuka mataku dan kudapati keempat member B1A4 sedang menatapku dengan tatapan bingung.

“Kau ini siapa?” Tanya Gongchan bingung.

“Mianhae aku lancang masuk ke backstage. Aku adalah fans kalian. Aku ingin menyerahkan kado untuk Jinyoung” Aku menunduk malu sambil menyodorkan tangan seperti orang yang ingin menyerahkan kado.

“Kau sedang apa?” Jinyoung menatapku bingung.

“Aku ingin kau menerima kado dariku walau tidak seberapa isinya”

“Kado? Maksudmu ini?” Aku menengok ke belakang dan kulihat Sandeul sedang memegang kado dariku.

“Hah??” Ku tatap tanganku dalam-dalam dan lagi- lagi aku melakukan kesalahan bodoh dalam hidupku. Aku baru ingat bahwa kadoku yang ingin kuberikan untuk Jinyoung terlempar saking kagetnya melihat pemandangan beberapa menit yang lalu. Aku kembali menunduk dan menyumpah-nyumpahi diriku sendiri. Betapa bodohnya aku.

Keempat member B1A4 tertawa terbahak-bahak karena tingkahku dan aku bener-bener jadi salah tingkah. Jinyoung beranjak menghampiri Sandeul dan mengambil kado pemberianku.

“Ini untukku?” ucap Jinyoung lembut.

“Ne….” Aku mengangguk cepat-cepat sambil menunduk menahan rasa malu.

“Gumawo. Kau ini benar-benar lucu” Jinyoung tertawa hangat dan bisa kupastikan mukaku saat ini sudah merah seperti kepiting rebus.

“Aku pamit pergi dulu. Temanku sudah menunggu” Tanpa basa-basi lagi aku langsung berlari meninggalkan mereka. Aku berlari secepat-cepatnya sambil menunggu hingga menabrak sahabatku Key lalu kami berdua pun terjungkal di lantai.

“Adohhhhhhh” teriak Key sambil memegangi tangannya.

“Ahhh Key. Mianhaeyo. Aku gak liat”

“Kapan mata dan otakmu normal hah!?!?” Key bangkit berdiri sambil terus memegangi tangannya.

“Nana mana?”

“Sudah keluar. Tinggal kita berdua yang kejebak disini. Gara-gara kau banyak tingkah. Ayo cepat cari jalan keluar”

“Lewat sini” Kami berdua menoleh kearah sumber suara. Ternyata itu adalah suara Jinyoung. Ia berdiri tak jauh dari kami. Jinyoung berjalan mendahului kami dan membawa kami menuju pintu keluar.

“Ahh kamsahamnida” ucapku kikuk.

“Lain kali jangan bertindak seperti maling lagi ya” Jinyoung tersenyum kemudian berbalik masuk.

“Maling? Kau itu malingnya! Aku bodyguard nya maling!” ucap Key.

“Sudahlah. Aku sudah senang bisa memberikan kado itu pada Jinyoung”

“Iya kau sudah puas memberikan kado itu pada Jinyoung dan puas juga kau menabrakku”

“Mianhae” Aku menunduk.

“Hei, kalian berdua!!” Kulihat Nana sedang melambai-lambaikan tangan sambil memegangi gulali.

“Bagaimana? Kau sudah menyerahkan kado itu pada Jinyoung?”

“Sudah donkkk. Walaupun aku benar-benar malu disana”

“Malu gimana? Ayo ceritaaa” Aku mulai menceritakan pengalamanku yang memalukan itu dan benar saja dugaanku. Aku ditertawakan habis-habisan oleh mereka berdua.

“Itu benar-benar konyol. Ah iya, aku nampaknya mulai menyukai Baro. Dia benar-benar perhatian”

“Aku sungguh ingin sekali saja bisa menjadi pacar seorang artis”

“Baiklah. Kita susun rencana. Kau harus bisa mendapatkan Jinyoung, aku harus bisa mendapatkan Baro dalam waktu 2 minggu”

“Taruhan?”

“Yes!!! Yang kalah harus menuruti semua perintah yang menang selama seminggu. Gak boleh nolak. Deal???”

“Deal!!!!” Aku menjawab antusias.

“Kalian uruslah berdua. Aku netral. Karena aku gak mungkin ikut dalam taruhan ini dan harus mendapatkan hatinya 3 member lainnya” Key kembali melanjutkan memakan gulalinya.

Sepanjang perjalanan pulang, kami hanyut dalam pikiran masing-masing dan menyusun rencana bagaimana caranya mendapatkan hati anak-anak B1A4. Aku harus mencari tahu kesukaan Jinyoung lebih dalam lagi dan aku harus datang ke acara fansigning ataupun showcase mereka. Akhirnya kamipun sampai di depan apartement. Di depan apartementku kulihat ada seekor anak anjing yang dimasukkan ke dalam kandang.

“OMO!!” Aku buru-buru menghampiri anak anjing itu “Kyaaa lucunyaaa. Tapi anjing ini milik siapa?”

“Lihat! Ada surat kecilnya” Nana menunjuk secarik surat kecil yang digantung pada kalung leher anjing itu. Aku buru-buru membaca isi suratnya.

“Annyeong, aku harap kamu gak kaget melihat ada seekor anak anjing di depan rumahmu. Aku tidak akan memberitahu kamu siapakah aku ini. Aku hanya memberikanmu nomor teleponku. Telepon aku kalau kamu penasaran”

“Misterius sekali. Coba saja telpon”

Aku sedikit ragu apakah aku harus menelponnya tapi kuputuskan mengambil handphone ku dari dalam saku dan mulai menekan serangkaian nomor yang tertera di surat tersebut.

“Annyeong” sapaku.

“Annyeong” Aku kenal suara ini. Sungguh mengenalnya. Suara lembut yang selalu mengiringi playlist ku. Mulutku tak berhenti mengangga. Key dan Nana sudah mengguncang-guncangkan bahu tapi aku sungguh-sungguh speechless.

“Jinyoung???” Kulihat Key dan Nana juga langsung menunjukkan ekspresi terkejut.

“Bagaimana kau bisa tahu apartementku?” Aku tak sanggup menyembunyikan rasa terkejutku.

“Aku tak mungkin membicarakannya denganmu. Kim HaeRa, temui aku di taman dekat apartement mu malam ini jam 7” Telepon diputuskan begitu saja. Aku memasukkan handphone ke dalam saku celanaku lagi.

“Apa katanya???” Tanya Nana dan Key serempak.

“Dia memintaku menemuinya di taman jam 7” Aku masih setengah tak percaya.

“Nana, nampaknya kau harus siap disuruh-suruh apapun oleh HaeRa selama seminggu” Key tersenyum nakal.

“HEI!! Aku tak akan kalah. Aku pun sudah memiliki nomor handphone Baro” Nana mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya.

“HaeRa, kau kenapa? Masih gak percaya ya sampai bengong gitu?” Tanya Key.

“Bukan. Hanya saja anjing ini mengingatkanku pada seseorang. Teman masa kecilku” Aku peluk anjing itu dan mengelus-elus bulu-bulu lembutnya.

“Aku masuk dulu. Nanti aku harus mempersiapkan mentalku bertemu Jinyoung” Aku masuk ke dalam apartement sambil terus menggendong anjing itu. Kuletakan anjing itu di sofa dan kemudian aku mengobrak-abrik lemari memilih pakaian apa yang cocok kukenakan untuk bertemu Jinyoung. Setelah kurang lebih satu jam aku obrak abrik lemari akhirnya aku menemukan pakaian yang cocok. Karena cuaca sangat dingin, kuputuskan memakai pakaian yang hangat dan menambahkan syal dan sweater.

Di taman………

Aku celingak celinguk mencari sosok Jinyoung. Nampaknya ia belum datang. Kuputuskan untuk duduk dulu di kursi panjang dekat taman sambil menunggu Jinyoung.

“Hai, maaf menunggu lama ya” Kulihat Jinyoung sedang berdiri di belakangnya. Demi apapun, aku bengong selama beberapa detik. Ia sungguh sungguh tampan dengan mengenakan syal dan baju hangat juga. Rambutnya sedikit basah.

“Ahhh, gwaenchana. Aku juga baru saja datang. Jinyoung, langsung ke pokok permasalahan saja. Darimana kau tahu alamat apartement ku?” Namun bukannnya menjawab, Jinyoung malah tersenyum dan membuat suhu badanku naik turun.

“Eh iya mana Pocky?? Kau tidak membawanya?” Aku benar-benar shock. Aku langsung berdiri mematung di hadapan Jinyoung. Tenggorokanku tercekat, aku tak bisa mengeluarkan satu patah katapun.

“Pocky?? Darimana kau bisa tahu soal Pocky???”

“HaeRa, kau sungguh sudah melupakanku?” Jinyoung nampak lesu.

“Siapa kau sebenarnya??”

Jinyoung mengeluarkan dompet dari dalam saku celana dan mengeluarkan secarik foto.

“Aku harap kau tak melupakan ini, Kim HaeRa” Jinyoung menunjukkan foto itu persis di depan mukaku. Secara refleks aku langsung memegang kalungku.

“Kau…. Kau….” Aku benar-benar tak bisa berkata apapun. Air mata sudah membasahi pipiku.

“Kau sudah kembali!!” Aku langsung menghambur dalam pelukan Jinyoung. Dan Jinyoung pun mendekapku dalam pelukannya dan mengelus-elus rambutku lembut.

“Tentu saja. Aku akan selalu bersamamu sampai akhir. Kau jangan menangis lagi ya. Aku kembali dan kau tidak pernah berubah masih tetap ceroboh dan bodoh ketika mengingat kejadian di backstage tadi”

“Jinyoung, jangan ingatkan aku lagi soal itu. Aku sungguh tak menyangka bahwa Jung Jinyoung leader B1A4 adalah Jung Jinyoung cinta pertamaku ketika masih kecil. Kau sungguh berubah”

“Aku juga tak menyangka dapat bertemu denganmu dengan kejadian yang sedikit memalukan” Aku mencubit lengan Jinyoung.

“Kalau kau ingin tahu alasanku menjadi artis, hanya satu alasanku ingin menjadi artis yaitu aku ingin mencarimu dan benar saja bahwa Kim HaeRa adalah fans sejatiku. Lagipula memangnya yang bernama Jung Jinyoung ada berapa?? Aku saja sekali melihatmu di backstage langsung gak karuan nih detak jantung melihat tingkah bodohmu”

“Aku mana tahuuu bahwa kau adalah Jung Jinyoung yang itu… Yang selalu menjahiliku ketika kecil, yang selalu menggodaku tapi juga selalu melindungiku dari preman-preman dan juga yang meninggalkanku tanpa jejak” Aku menunduk lesu.

“Maaf aku pergi meninggalkanmu tanpa pamit. Aku sungguh-sungguh menyesal. HaeRa, aku ingin membuka lembaran baru denganmu lagi. Dulu kita masih cinta monyet karena masih kecil tapi sekarang aku serius denganmu. Jangan pandang aku sebagai Jinyoung leader B1A4 tapi pandanglah aku sebagai Jinyoung yang dulu, sebagai orang yang selalu ada di sampingmu dan melindungimu”

“Jinyoung, you”re the only one” Aku menyanyikan bait terakhir lagu Only One – B1A4. Jinyoung tersenyum hangat kepadaku.

“I pray no tears in your life” Jinyoung juga membalasnya dengan bait awal reff Only One hanya saja kata dreams diganti dengan life. Tanpa kuduga sebelumnya, Jinyoung langsung menciumku dengan lembut dan mendekapku ke dalam pelukannya. Ya, aku akan memulai lembaran baru dengan pria yang dari dulu sampai sekarang selalu memenuhi pikiranku.

                                                                 THE END

10월 13, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: