liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 4)

Title:                        My True Love (Part 4)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3

”Kenapa sih Tuhan jahat banget ama aku. Dia selalu ngasih cobaan berturut-turut ama aku. Aku udah kehilangan keluargaku, Nickhun dan Victoria juga udah gak peduli ama aku. Sekarang cowok yang aku cintai juga pergi ninggalin aku. Apa sih salahku !” Nana sudah hampir gila. Dia sedari tadi hanya berteriak di pinggir sungai. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin Nana sempat berpikir untuk bunuh diri.

”Kalau aku meloncat dari sini, apa semua beban hidupku akan lenyap? Apa aku gak akan merasakan penderitaan yang menyakitkan seperti ini lagi? Aku hanya cukup meloncat dan kedinginan sesaat disana. Lalu setelah badanku mati membeku, aku akan hidup bebas di akhirat.” Nana segera melepas sepatu dan mantelnya. Udara dingin langsung menusuk dan menyergap sekujur tubuh di tengah-tengah hujan salju yang turun dengan derasnya. Nana memejamkan matanya dan hendak meloncat. Namun ia malah merasakan ia tidak bisa mendorong tubuhnya untuk terjun dari sini. Seperti ada sesuatu yang mencengkram erat tangannya. Nana memutuskan untuk membuka matanya dan memang benar ada seseorang yang mencengkram erat tangannya.

What are u doing here?” ucap pria itu tajam.

“Sandeul???”

                                                                                                                 ***

Moshi Moshi (Halo).”

Donata to ohanashi ni naritai no desuka. (Anda ingin berbicara dengan siapa)?”

Haha to ohanashi desimasuka (Dapatkah saya berbicara dengan ibu)?”

Anata wa Jinyoung desuka (Apakah kamu Jinyoung)?”

Hai. (Ya).”

Gomennasai. Haha wa ima imasen ga. Godengon wa arimasuka. (Maaf. Ibu sedang tidak ada di rumah. Ada pesan)?”

Kare ga kaetarra, watashi o denwa suru to tsutaete kudasai (Katakan pada dia supaya menelpon saya kalau dia sudah kembali).”

Hai, kare ni tsutaemasu. (Ya, akan saya katakan pada dia.)”

Arigatou gozaimasu (Terima kasih)” Jinyoung memutuskan sambungan telepon.

”Ada apa? Muka hyung kelihatan pucat? Menelpon eomma ya?”

”Ya. Gongchan, kita akan kembali ke Jepang?”

”Hah? Yang benar, hyung? Ada angin apa nih? Hyung mengajak Nana noona juga?”

”Gongchan, jangan membahas Nana lagi.”

”Hmm, pasti lagi berantem deh. Dasar anak muda.”

”Memangnya kamu sudah tua?”

”Maaf… Ya sudah. Aku mau packing dulu ya, hyung.”

”Hmm..” Jinyoung kembali dengan pikiran-pikiran yang selama ini menghantuinya.

God, kapan masalah ini akan segera berakhir. Aku memang tolol bisa mengatakan hal seperti itu pada Nana. Sekarang ia pasti sangat membenciku bahkan mungkin ia tidak ingin melihat muka ku lagi. Apa yang musti aku lakukan. God, please help me…” Jinyoung memandang gantungan handphone yang dibeli olehnya dan Nana di plaza. Masing-masing memiliki gantungan yang sama. Gambar yang berupa potongan hati. Kalau potongan gantungan ini digabungkan dengan milik Nana barulah akan menjadi hati yang utuh. Dulu gantungan handphone ini lah yang melambangkan kekuatan cinta mereka tapi sekarang, Jinyoung tidak tahu apakah mereka masih memiliki the power of love. Semuanya udah berakhir.

 

Heathrow Airport, London, 26 Desember 2009 

”Pesawatnya terbang jem brapa, hyung?

”Bentar lagi.”

”Jinyoung !!!!” Ada seseorang yang melambai-lambaikan tangan ke arahnya.

”Sandeul?? Ngapain dia kesini?”

”Apa yang kamu lakukan disini? Bagaimana kau tahu bahwa aku mau kembali ke Jepang?”

“Nana yang memberitahuku.”

“Kamu bertemu dengannya?”

“Ya. Dia yang memberitahuku tentang ini.”

“Sandeul, tolong bantu aku.”

“Untuk apa?”

“Jaga dia selama aku berada di Jepang.”

“Sebenarnya, apa masalahmu sehingga kamu berbuat seperti itu padanya?”

I can’t tell you now. Sandeul, tolonglah. Ini permintaan terakhir dariku. Jaga dia, okay? Sandeul, aku harus pergi sekarang. Tolong jaga dia ya.” Jinyoung buru-buru mendorong travel bag nya dan menjauhi Sandeul. Ia tak ingin Sandeul bertanya lebih jauh lagi dan membicarakan Nana. Kalau mereka terus menerus membicarakan Nana, maka Jinyoung akan semakin tidak tega untuk meninggalkannya. Jinyoung secepat kilat berjalan ke arah kerumunan orang sehingga membuat Sandeul kesulitan mencarinya dan alhasil dalam sekejap, Jinyoung sudah menghilang di balik kerumunan orang.

”Kau sudah bertemu Jinyoung?”

”Iya. Tapi dia kayak lagi buru-buru dan menghindariku gitu. Udah gitu, dia mengajukan permintaan yang aneh deh.”

”Memangnya dia bilang apa?”

”Dia minta aku untuk mengabulkan permintaan terakhirnya yaitu menjaga kamu baik-baik. Aneh kan? Dia kayak orang yang lagi sekarat dan besoknya mau pergi ke akhirat. Bikin bulu kuduk merinding deh.”

”Jinyoung bilang begitu?”

”Iya… Sudahlah. Pesawatmu juga hampir berangkat. Aku titip salam untuk eomma mu ya. Kamu akan balik lagi kesini kan?”

”Ya… Aku juga belum menyampaikan salam perpisahan untuk orang yang selama ini sudah merawatku.”

”Jangan sedih ya. Suatu saat kamu pasti bisa menemukan sosok yang bisa membuatmu bahagia. Jangan mudah putus asa.”

”Ne, gumawoyo.”

”Cheonma” Sandeul membalasnya dengan senyuman hangat.

”Aku pegi dulu ya”

” Jalgayo” Nana pun beranjak pergi meninggalkan Sandeul yang melambai-lambaikan tangannya. Nana hanya membalasnya dengan senyuman.

                                                                                                        ***

Tokyo, Japan, 27 Desember 2009

 Chichi, Haha…. Tadaima (Ayah ibu, saya kembali)!!!” ucap Gongchan riang…

Okaerinasai Watashi no musuko (Selamat datang kembali anak laki-lakiku)” Minyoung keluar dari dalam rumah untuk menyambut kedatangan putranya.

Ogenki desuka (Bagaimana kabar kalian)?”

Genki desu (Baik-baik saja).”

Douzo o hairi (Silahkan masuk)”

Sayoko, sang pelayan keluarga langsung membawa masuk tas milik Jinyoung & Gongchan ke kamar mereka masing-masing. Sayoko adalah pelayan keluarga semenjak keluarga mereka pindah ke Jepang dan ia adalah pengikut setia Minhwan, yakni ayah dari Jinyoung & Gongchan. Sehingga kadang-kadang Jinyoung tidak bisa merasa bebas karena selalu diawasi Sayoko. Tapi biarpun begitu ia adalah kaki tangan ayah dan ibu dan sudah banyak berjasa bagi keluarga mereka. Sayoko adalah orang Jepang asli. Walaupun keluarga Jinyoung berasal dari Seoul, namun keluarga mereka terkadang berbicara dalam bahasa Jepang kalau di rumah. Kecuali antara Jinyoung & Gongchan. Gongchan tetap lebih enak memanggil Jinyoung dengan sebutan Hyung daripada ani (kakak laki-laki dalam bahasa Jepang). Jinyoung langsung ditarik ibunya menuju meja makan. Di atas meja makan, sudah tersedia beragam masakan seperti Sushi, Okonomiyaki, Onigiri, Omiyage, dan lain lain. Sepertinya makanan ini sudah dipersiapkan baik-baik oleh ibu untuk menyambut kepulangan anak-anaknya. Dan sudah pasti Sayoko lah yang memasak semua masakan ini karena hanya ia-lah yang tangannya paling handal dalam urusan masak-memasak dan memberi bumbu.

”Youngie, Channie, douzo meshiagatte kudasai (Youngie, Channie, silahkan dimakan).” Nampaknya sebentar lagi air liur Gongchan akan menetes.

Hai. Itadakimasu (Ya. Selamat makan)!!!” Gongchan nampak bersemangat.

Itadakimasu.” Kebalikannya dari Gongchan, kakaknya malah nampak tidak bersemangat dan tidak memiliki selera makan. Jinyoung melahap makanan di depannya dengan santai dan murung tidak seperti Gongchan yang makan dengan lahapnya. Tatapan Jinyoung pun masih menerawang jauh.

Ryouri wa dou desuka (Bagaimana masakannya)?” tanya ibunya.

Totemo oishii desu. Sayoko san wa ryouri ga jouzu desune. (Sangat enak. Sayoko sangat pintar memasak ya).” Gongchan menjawab sambil terus melahap makanannya.

Ie. Tondemo arimasen (Tidak juga)” ucap Sayoko. Tanpa Jinyoung sadari, sedari tadi ibunya terus menatapnya. Mungkin ia kuatir dengan kondisi putranya selama di London. Pulang-pulang tanpa semangat seperti ini.

Youngie, are you okay?” Jinyoung terlonjak kaget sehingga sumpit yang ia pegang terlepas dari genggamannya dan jatuh ke piring. Entah apa yang ada di dalam pikirannya.

Maane (Saya baik-baik saja)” Jinyoung memaksakan diri untuk tersenyum. Dalam hati, Jinyoung sudah kesal setengah mati. Ibunya lah yang telah menghancurkan hidupnya dan membuatnya melepaskan cinta sejatinya. Apa maksud ibunya menelpon Nickhun dan akan menjodohkannya. Tapi Jinyoung masih belum ingin berdebat dengan siapapun. Pikiran dan hatinya sedang kacau. Ia tidak ingin menambah masalah baru lagi.

Hontoo (Benar)?” Ibunya tidak begitu yakin dengan kondisi putra sulungnya saat ini.

Atarimae yo (Tentu saja).” Jinyoung kembali melanjutkan makannya walaupun selera makannya sudah benar-benar hilang.

Hyung, gohan o totte itadakemasenka. Shio to koshoo o totte kudasai (Kakak, bisa minta tolong ambilkan nasinya? Tolong ambilkan garam dan merica juga).” Gongchan masih saja lahap menambah. Gongchan sudah seperti orang yang tidak makan 1 tahun. Jinyoung sudah semakin tak bergairah makan lagi. Ingin rasanya ia memuntahkan semua makanan ini.

Moo onaka ga ippai desu. Arigatoo (Saya sudah kenyang. Terima kasih)” Jinyoung langsung beranjak meninggalkan ruang makan dan beranjak menuju kamarnya.

Di dalam kamar, Jinyoung hanya duduk di dekat jendela dan memandang butir-butir salju yang turun. Tangannya hanya memegangi handphone entah siapa yang ia harapkan menelponnya. Di meja belajarnya, layar laptop masih menyala dan wallpaper yang ia pasang masihlah foto nya bersama Nana pada saat mereka sedang pergi ke Menara London. Sejujurnya, Jinyoung sangat merindukan Nana. Ia berharap keajaiban akan muncul dan Nana muncul di hadapannya dan ia dapat memeluk tubuh gadis itu. Tanpa disadari, butir-butir air mata jatuh perlahan ke pipi Jinyoung. Butir-butir itu hampir serupa dengan butir-butir salju yang bening.

Tok Tok Tok… Jinyoung merasa ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.

”Youngie…”

Hairimasu (Masuk)”

”Jinyoung, tolong beritahu aku apa yang terjadi di London? Kau sangat berubah sekarang.”

“Tidak terjadi apapun.”

“Kau pasti sedang berbohong.”

“Aku tidak berbohong.”

“Dia sudah memberitahumu kan?”

“Apa maksudmu?”

“Nickhun. Dia sudah memberitahumu soal perjodohan ini kan?”

“Apa yang kamu inginkan dariku!! Kamu sudah menghancurkan hidupku!! Kebahagiaanku !!!” Jinyoung berubah menjadi garang. “Kenapa aku!! Kenapa bukan Gongchan !!”

“Youngie, tolong jangan membentak ibumu seperti itu. Kau sangat tidak sopan”

“Aku tidak mengerti, kau sudah menghancurkan hidupku, masa depanku dan kebahagiaanku!!”

“Kamu ini bicara apa sih?”

“Tolong batalkan perjodohan ini.” Emosi Jinyoung mulai mereda.

“Tidak mungkin. Itu sama saja aku mempermalukan diriku sendiri”

“Kau sungguh egois! Kau selalu mementingkan keinginanmu sendiri tanpa memikirkan perasaanku! Aku tahu berbicara denganmu sangatlah sia-sia dan tidak berguna.

“Kamu jangan berbicara omong kosong seperti itu lagi. Sebaiknya kau tidur sekarang sebab besok kau akan segera bertemu dengannya. Percayalah padaku, kau akan merasa kagum padanya.

No one can replace Nana in my heart, keluh  Jinyoung dalam hati.

Minyoung beranjak meninggalkan kamar putranya tapi sesaat sebelum pergi, ia melirik sekilas ke arah laptop milik Jinyoung yang masih menyala dan melihat foto putranya bersama dengan seorang gadis. Lalu Minyoung melirik Jinyoung yang kembali menatap keluar jendela.

Who is she? Your girlfriend? But it doesn’t change my decision.” Ujar Minyoung sambil beranjak keluar dari kamar Jinyoung.

 

Raffles Hospital, Singapore, 27 Desember 2009 

Nana segera masuk ke ruang perawatan dan mendapati eomma nya sedang tertidur pulas. Kondisinya sangat memprihatikan dengan balutan perban di kepala dan tangannya.

”Eomma, mianhae. Aku udah jahat banget ninggalin eomma dan pengen ngelupain eomma. Aku tau aku salah. Jeongmal mianhae.” air mata Nana mengalir dengan derasnya. ”Aku sayang eomma.”

”Nana..” ujar ibu nya lirih.

”Eomma? Eomma sudah siuman?”

”Eomma hanya perlu istirahat sebentar. Eomma gak menyalahkanmu kok sayang. Eomma juga sayang kamu. Eomma bersyukur kamu masih hidup. Eomma gak mau kehilangan anak eomma lagi seperti waktu eomma kehilangan Taemin.”

”Aku juga bersyukur banget aku bisa bertemu lagi dengan eomma. Aku kangen banget sama eomma.”

”Eomma juga, sayang.”

”Eomma, aku lagi punya banyak banget masalah. Tapi aku gak tau harus curhat sama siapa lagi. Pengen rasanya aku mati aja deh.”

”Hush. Kamu gak boleh ngomong kayak begitu. Kamu cerita aja ama eomma. Kamu lagi punya masalah apa, sayang?”

”Aku gak bisa cerita sekarang. Aku gak mau nambah pikiran eomma. Nanti bisa menghambat kesembuhan eomma. Kalo eomma udah sembuh dan ceria lagi, Nana janji akan menceritakan semuanya.”

”Baiklah. Eomma menurut saja kemauanmu.”

”Eomma, aku pergi keluar sebentar ya mau menelpon teman.”

 Nana pergi keluar dan memandangin handphone nya sekilas. Tapi yang ia lihat bukanlah handphonenya melainkan gantungan patahan hati tersebut. Nana menekan serangkaian nomor dan menempelkannya di telinga sambil menunggu jawaban dari seberang sana. Nana nampak ragu untuk berbicara dengannya.

Moshi moshi

Deg… deg… deg… Itulah suara yang selama ini dirindukan Nana yang sudah lama tak ia dengar. Entah mengapa suara itu menjadi begitu merdu di telinganya dan ia berharap bisa mendengarkan suara itu selamanya.

Moshi moshi.” ulang si pembicara karena merasa lawan bicaranya tak menggubris sapaannya.

”Jinyoung…” ucapnya lirih. Begitu juga dengan Jinyoung. Ia tertegun sejenak tak membayangkan Nana menelponnya karena memang itulah yang sedari tadi diharapkannya. Christmas miracle.

”Ya… Ada apa, Na?” Jinyoung nampak gugup bebicara dengan Nana.

”Yang kemarin itu kamu katakan padaku, semuanya bohong kan? Kamu masih mencintaiku kan? Susul aku ke sini ya.” Jinyoung bingung harus menjawab apa. Ingin rasanya ia berteriak sekencang-kencangnya bahwa ia sangat mencintai dan merindukannya. Ia sangat ingin menyusul Nana secepatnya tapi besok adalah hari yang amat menyengsarakannya. Ia ingin kabur tapi ia bisa dikurung oleh appa nya dan akan terus diintai seperti buronan.

Maaf, Na. Aku tak punya pilihan lain, batin Jinyoung.

Forget me. It’s over.” Jawaban singkat dan cukup menusuk itulah yang mengakhiri pembicaraan mereka. Jinyoung langsung memutuskan sambungan telepon dan langsung membanting telepon genggamnya ke lantai sehingga baterainya copot.

“SH*T !!! D*MN !!! Kenapa aku jadi pengecut kayak gini sih !!! Kenapa aku gak bisa jujur ama perasaanku sendiri.. Nana, jeongmal mianhae. Aku sayang banget ama kamu. Aku gak mau ngecewain kamu… Argh !!!” Jinyoung memukul-mukul tembok dengan tangannya hingga darah mengalir dari punggung tangannya.

“Hyung!! Kamu kenapa?”

Achi ike yo (Keluar kau dari sini) !!!”

”Hyung...” Bukannya keluar tapi Gongchan malah mendekati Jinyoung dan hendak menepuk pundak Jinyoung. Tapi Jinyoung langsung menepisnya !!

Te o dokete yo (Jangan sentuh aku) !!”

Nante itta no yo (Kau bilang apa)?” Gongchan nampak ikutan emosi.

Shizuka ni shitte. Achi ike yo (Diamlah. Keluar).”

Well. If that’s what you want !!” Dengan tampang masam, Gongchan langsung keluar dan membanting pintu kamar Jinyoung.

Oh my god… What happened with me…” Jinyoung menjatuhkan dirinya di ranjang dan memandangi langit-langit kamarnya sebelum akhirnya tertidur.

Good night, world.

                                                   TO BE CONTINUED

10월 27, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: