liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 5)

Title:                        My True Love (Part 5)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3Part 4

Japan, 28 Desember 2009

Boochama… okimasu (Tuan Muda. Bangun)…  Their family has arrived.”

Sayoko, I don’t want to meet them.”

This is your mother’s commands

Tell her !! I don’t want !!!”

Boochama…She will angry to you.”

Whatever… I don’t care.”

Sayoko terpaksa pergi menemui Minyoung karena ia tahu benar watak Jinyoung yang paling keras kepala itu apalagi semenjak ia pulang dari London, sifatnya sudah berubah 360o. Sayoko pun tak ingin berdebat lagi dengan Jinyoung semenjak semalam ia mendengar Jinyoung mengusir Gongchan. Pasti saat ini suasana hati Jinyoung masih kalut. Sebaiknya ia langsung saja menemui ibunya.

Where is he?” tanya Minyoung begitu melihat Sayoko keluar tanpa membawa Jinyoung.

I’m sorry. He didn’t want out of the room and he still didn’t wake up.”

Stubborn child. Apparently, he wants to play with me.”

Gomennasai, chotto matte kudasai (Maaf. Tolong tunggu sebentar).” Minyoung segera beranjak menuju kamar Jinyoung diikuti Sayoko dan dengan kasarnya, Minyoung membuka pintu Jinyoung dan langsung menarik selimut yang menutupi tubuh Jinyoung.

Okimasu, mizu o abimasu, ha o migakimasu, kao aria masu. (Bangun, mandi, sikat gigi, cuci muka) and meet them.” Dengan wajah lesu, Jinyoung berusaha untuk bangun dan matanya sedikit berkunang-kunang.

“Jinyoung, kamu sedang sakit?” tanya Minyoung.

“Gak. Aku baik-baik saja.” Dengan langkah gontai dan mata sayu, Jinyoung berusaha untuk menggapai pegangan pintu kamar mandi.

Sayoko, please tidy up this room and clean the floor.”

Yes, as your command.” Sayoko langsung bergerak mengambil cleaner di sudut kamar Jinyoung. Sementara Minyoung keluar dari kamar dan ia mengamati sejenak handphone yang semalam Jinyoung lempar hingga hancur.

This child always be a destoyer. Huh… Must buy a new handphone again.”

                                                                                ***

Singapore, 28 Desember 2009

“Dimakan dulu ya makanannya. Aku buatkan bubur kesukaan eomma.”

“Kamu kok repot-repot banget sih.”

”Aku gak merasa direpotkan kok. Aku suapin ya.” Nana menyuapi eomma nya dengan penuh kasih sayang. Ia sekarang mengerti arti keluarga yang sesungguhnya. Ia memang mencintai Jinyoung. Tapi sekarang dimana Jinyoung saat ia membutuhkannya. Jinyoung malah meninggalkannya disaat ia mulai memercayai pria itu. Nana menyadari bahwa tak ada kasih yang lebih dahsyat selain rasa kasih eomma nya terhadapnya begitu juga sebaliknya. Ia mencintai eomma nya lebih dari apapun. Mulai detik ini, Nana bertekad untuk menjaga eomma nya dan merawatnya dan ia akan perlahan menghilangkan Jinyoung dari dalam hatinya dan membuka lembaran baru untuk hidup bersama eomma nya, orang yang amat ia sayangi saat ini.

”Eomma dengar selama ini kamu dirawat oleh orang London ya?  Eomma belum mengucapkan terima kasih pada mereka karena telah menolong dan merawatmu. Bagaimana kabarmu selama di London?”

Astaga, Nickhun !! Victoria !! Aku sampai melupakan mereka, sesal Nana dalam hati.

”Aku baik-baik saja disana. Mereka pun sangat baik terhadapku. Mereka sudah kuanggap keluarga.” Nana berbicara lirih.

”Lalu, apa kau kecantol dengan cowok bule?” wajah Nana langsung berubah semu begitu mendengar pertanyaan eomma nya. Ia sungguh-sungguh tak ingin membicarakan Jinyoung lagi.

”Ah, eomma bisa saja. Aku tak sempat untuk memikirkan hal itu dulu. Aku sudah terbawa suasana London.”

”Ya sayang. Padahal eomma berharap kau bisa menggaet cowok London.”

Aku memang sudah terlanjur menyukai pria disana. Ia memang bukan orang London tapi ia adalah orang yang pernah mengisi hatiku selama di London, ucap Nana dalam hati. Tangan Nana terus menyuapi eomma nya sambil melamun sehingga ia tak sadar bahwa ia menyuapinya bukan ke mulut tapi ke hidung.

”Nana… Kamu baik-baik saja??” tanya eomma nya heran.

”Tentu saja.”

”Sayang, sejak kapan eomma makan pakai hidung?” Nana bingung mendengar pertanyaan eomma nya baru sedetik kemudian ia menyadari bahwa sendok buburnya sudah menyentuh hidung eomma nya hingga sedikit basah.

”Ya ampun.. Maafin aku. Aku bersihkan deh.” Nana langsung mengambil tissiue di pinggir tempat hidung dan mengelap hidung eomma nya.

”Sayang, kamu punya masalah?”

Nana tak merespon malah meneteskan air mata.

”Kok malah nangis? Kamu cerita dong sama eomma.”

Nana malah menghambur ke pelukan eomma nya.

”Sayang? Ayo cerita. Kamu pasti punya masalah serius ya?”

”Sebetulnya di London aku berkenalan dengan seorang cowok. Ia sama dengan kita lahir di Korea namun sejak kecil ia sudah tinggal di Jepang dan sekarang ia sedang melanjutkan studi di London. Aku merasa tertarik padanya tapi entah kenapa hatiku masih ragu untuk menerimanya.”

”Lalu sayang?” eomma nya mulai penasaran.

”Dia anaknya baik banget sama aku, romantis dan selalu bisa menghiburku. Awalnya ia bilang ia ingin menemaniku ke Singapore untuk bertemu eomma. Tapi satu malam sebelumnya, ia malahan berkata ia ingin ke Jepang dan semua kata-kata manisnya padaku selama ini hanyanya bohong belaka. Semalam aku coba menghubunginya tapi ia malah merespon dengan kasar dan kami sekarang sudah benar-benar hilang kontak.” tangis Nana langsung meledak di pelukan eomma nya.

”Aku ingin mencoba melupakannya. Aku sudah capek tertekan seperti ini terus.” Nana memeluk eomma nya semakin kencang sementara eomma nya mengelus-elus rambut Nana dengan lembut. Tiba-tiba handphone Nana berdering. Ia melihat sekilas nama penelpon yang tertera di layar dan nama itu menuliskan ”Victoria”

Victoria, gumam Nana dalam hati.

”Eomma, aku angkat telepon dulu ya.” Nana setengah berlari keluar ruangan karena takut Victoria keburu mematikan telepon.

”Halo…”

”Nana !!! Akhirnya kau bisa dihubungi juga.”

”Eonni? Ada apa, eon?”

”Nana, sekarang kamu udah di Singapore ya? Bagaimana kondisi eomma mu?”

”Eomma baik-baik saja. Ia sudah siuman kok. Gumawo, eon.”

”Setelah ini, kamu mau balik ke Seoul atau menetap di Singapore atau balik lagi ke London?”

”Eon, aku kayaknya gak mungkin balik lagi ke London. Mungkin aku akan kembali ke Seoul. Aku kangen sama temen-temen ku disana juga rumahku.”

”Nana, aku harap kamu tidak melupakan aku dan Nickhun ya.”

”Mana mungkin, eon. Kalian sudah aku anggap keluarga sendiri. Maaf aku tidak sempat berpamitan dengan kalian. Waktu itu hatiku sedang kacau sekali.”

”Aku mengerti kok. Nana, maaf ya di hari terakhirmu disini, aku dan Nickhun tidak membukakan pintu untukmu. Aku malahan membawa keluar tas-tasmu. Sungguh. Aku tak bermaksud mengusirmu. Aku hanya…..”

”Hanya kenapa, eon? Eonni, apakah ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?”

”Aku belum bisa mengatakannya sekarang, Na.”

”Tapi masalah apa, eon? Eon, please kasih tau aku kata kuncinya. Ini masalah tentang apa?”

”Jinyoung.” ucapan singkat yang cukup membuat kedua pembicara hening sejenak.

”Jinyoung?” ulang Nana.

”Iya..” ucap Victoria lirih.

”Eon, bicara padaku. Tell Me What’s Really Going On !!” Nana mulai panik. Ia merasa ada sesuatu dibalik berubahnya sifat Jinyoung itu. Ia yakin Jinyoung tidak seperti itu. Sejujurnya, ia masih memercayai Jinyoung sepenuhnya.

”Tapi, Nickhun akan marah padaku, Na. Aku menelponmu hanya untuk menanyakan kondisi eomma mu. Aku belum bisa menceritakan semuanya padamu. Aku sudah janji pada Nickhun.”

Eonni, please. Kau masih menganggapku sebagai adikmu kan?”

Of course. But I can’t…

Please…” Nana terus merajuk dan berbicara se-memelas mungkin agar Victoria iba terhadapnya.

”Oke. Aku akan cerita padamu asalkan kau janji jangan bilang-bilang pada siapapun termasuk Nickhun.”

”Yeah, aku janji.” Nana mulai membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar dongeng Victoria.

”Sebetulnya pas malam natal itu sehabis ada incident kecil antara kau dengan Nichkun, Minyoung menelpon Nickhun.”

”Minyoung? Siapa itu??”

”Eomma nya Jinyoung & Gongchan.”

”Loh? Eomma nya Jinyoung  juga mengenal Nickhun ya? Aku kira hanya Jinyoung & Gongchan yang mengenalnya.”

”Nickhun adalah doktor pribadi keluarga mereka.”

”Lalu?”

”Minyoung lah yang menyuruh Jinyoung & Gongchan pulang kembali ke Jepang.”

”Mengapa? Apa ada urusan keluarga?”

”Ya.. Jauh lebih dahsyat daripada itu. Minyoung akan menjodohkan Jinyoung dengan anak relasi bisnisnya.”

”Hah??? Kamu serius?”

”Ya. Makanya pas malam natal itu, aku tau kamu dan Jinyoung memencet bel terus sehingga membuat Nickhun menelpon Jinyoung dan menyuruh Jinyoung menghabiskan malam ini berdua denganmu karena mungkin saja kalian sudah tidak bisa bertemu lagi dan aku sengaja mengeluarkan tas mu dan menyuruh kau tidur di apartemen Jinyoung supaya kalian bisa menghabiskan malam terkahir kalian berdua. Maaf. Aku sungguh-sungguh tak bermaksud mengusirmu.”

Nana menerawang jauh kejadian pada saat malam natal itu.

Rupanya Jinyoung berbohong. Yang menelpon itu Nickhun bukan Sandeul. Pantas saja raut wajahnya berubah, gumam Nana dalam hati.

”Aku tidak menginap di rumah Jinyoung. Yang ada aku bertengkar dengannya di cafe dan sekarang aku sudah kehilangan kontak dengannya.”

”Lho? Kok malah jadi begitu? Kok bisa sih? Jinyoung juga sudah tidak pernah menghubungi kami lagi. Kau juga. Kami jadi kehilangan koneksi deh. Ayo gantian. Kau yang ceritakan semuanya padaku.”

”Iya. Waktu itu Jinyoung memang bilang padaku bahwa yang menelpon itu adalah temannya, Sandeul dan ia sama sekali tidak menyinggung soal perjodohannya ini dan ia juga mengatakan bahwa ia akan kembali ke Jepang tapi ia tidak mengatakan alasannya padaku. Ia malah langsung menembakku dan ketika aku minta waktu untuk berpikir ia bilang tidak bisa, harus sekarang lalu kujawab bahwa aku tidak bisa menerimanya. Lalu setelah itu Jinyoung menungkapkan hal yang membuat ku kecewa. Ia katakan bahwa ia tidak serius mencintaiku. Ia hanya bermain-main denganku. Betapa bodohnya aku yang langsung pergi meninggalkannya dan memakinya.” mata Nana mulai berkaca-kaca menahan tangis.

”Nana, gak mungkinlah Jinyoung seperti itu. Ia sangat mencintai dan menyayangimu. Ia berkata seperti itu juga demi keselamatanmu.”

”Keselamatan?”

”Ya.. Sebetulnya, keluarga Jinyoung itu bukan berasal dari keluarga sembarangan. Sewaktu mereka masih di Seoul, appa nya adalah seorang pejabat di pemerintahan Seoul. Lalu keluarga mereka  pindah ke Jepang. Di Jepang pun, appa nya masih memegang peranan penting di kekaisaran Jepang. Tentu Jinyoung sangat memahami watak appa dan eomma nya yang keinginannya sudah tidak bisa ditentang lagi. Aku rasa Jinyoung terpaksa memilih jalan perjodohan itu untuk menyelamatkanmu. Karena anak buah appa nya akan mengejarmu kemanapun kamu pergi dan membunuhmu kalau Jinyoung berani menolak permintaannya dan kalau Jinyoung masih keras kepala juga, ia bisa dikurung. Mungkin saja saat ini posisi Jinyoung sedang terjepit tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi.” Nana tertegun mendengar cerita Victoria . Jadi itu alasan sebenarnya.

Jadi Jinyoung masih mencintaiku dan tidak ingin melukaiku, Nana semakin menyesal karena telah beranggapan negative terhadap Jinyoung padahal tujuan pria itu hanya untuk melindunginya.

”Eon, aku mau ke Jepang !”

”Hah??? Jangan gila kau. Bukannya bertemu Jinyoung yang ada kau bisa masuk liang kubur.”

”Aku tak peduli, eon. Aku harus meluruskan masalah ini.”

”Na, tolong dengarkan aku. Kalau kamu kesana, itu malah akan memperunyam masalah dan mempersulit Jinyoung. Kau harus percaya pada Jinyoung. Ia anak yang brilliant dan ia pasti tau apa yang musti ia lakukan dan terbaik untuknya.”

”Aku gak bisa, eon. Aku harus pergi !!” Nana menutup sambungan telepon.

”Hallo… Nana !! Haduh, bisa tambah kacau nih. Dia belum tau kalau appa nya Jinyoung ngamuk. Duh, ini salahku. Harusnya aku gak ceritain masalah ini ke Nana. Jadi ribet dan tambah panjang kan masalahnya.”

                                                               ***

Japan, 28 Desember 2009

Sorry to make all of you waiting for us.” Minyoung berjalan dengan anggun diikuti oleh Jinyoung & Gongchan. Appa nya hari ini tidak bisa menemani karena ada urusan di Sapporo.

Mondai ga nai. Sore wa anata no musuko desuka (Tidak masalah. Apakah ia anak laki-lakimu)?”

Hai. Kore wa Jinyoung desu. (Ya. Ini adalah Jinyoung).” Jinyoung hanya tersenyum masam saja.

Jinyoung wa shibui to saikoo kawai desu (Jinyoung sangat keren dan cakep sekali).”

Arigatoo

Ja… Kore wa watashi no musume desu, Jooyeon (Nah, ini adalah anak perempuanku, Jooyeon).”

Suteki dayo to kirai desu (Kau sangat menarik dan cantik)”

Arigatoo okaasang (Terima kasih, bibi).”

Minyoung san, chikaku ni resutoran ga arimasuka (Minyoung, apakah ada restaurant di dekat sini)?”

Onaka ga sukimashitaka imasen (Apakah anda sudah lapar)?”

Onaka ga sukimashita (Saya sudah lapar)”

Sebetulnya Jooyeon cukup cantik dengan rambut ikal tergerai dan bewarna kecoklatan juga dengan pipi yang dipoles blush on. Ia terlihat sangat kalem. Namun tetap saja bagi Jinyoung, tak ada seorangpun yang mampu menandingi kecantikan Nana. Karena Nana memiliki kecantikan dari luar dan dari dalam. Sedangkan Jooyeon belum kelihatan watak yang sebenarnya.

Jooyeon kun, doko de tabemashooka (Jooyeon mau makan dimana)?”

Omakase shimashoo (Terserah Anda).”

Aragawa resutoran ni hairimasenka (Mau masuk restaurant Aragawa)?”

Ii desuyo. Soo shimasoo (OK, mari kita kesana).”

Hari ini ibu kota Tokyo tidak begitu ramai. Jalanan pun terasa sepi mungkin karena masih terasa suasana natal. Hanya terlihat remang-remang lampu jalanan dan beberapa anak kecil yang sedang bermain. Salju pun tidak turun sederas salju di London. Hati Jinyoung merasa hampa dan ingin rasanya ia bisa kembali ke London lagi. Jinyoung menyetir sambil setengah melamun. Untung saja ia tidak oleng membawa mobil. Dari balik kaca spion, ia melihat eomma nya sedang tertawa dan berbicara dengan ibu beserta adik perempuan Jooyeon. Gongchan lebih memilih bermain di rumah bersama temannya daripada ikut makan keluarga ini. Jinyoung juga sudah terlihat bosan karena  Jooyeon terus menerus mengajaknya ngobrol sedangkan Jinyoung hanya menanggapinya sepatah dua patah kata. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan bagi Jinyoung, akhirnya mereka sampai juga di Aragawa Restaurant. Restaurant ini terletak di distrik Shinbashi, Tokyo. Steak house ini sangat terkenal dengan suguhan beef-nya sehingga beef menjadi menu utama mereka. Restaurant ini juga bekerja sama secara eksklusif dengan sebuah peternakan dan menyuguhkan steaknya dengan lada dan mustard. Aragawa juga merupakan restaurant termahal di dunia karena harga porsi makan satu orangnya sekitar 368 USD. Namun walaupun mahal, Aragawa tidak pernah sepi pengunjung. Apalagi di suasana natal seperti ini, banyak pengunjung yang ingin mencicipi khas restaurant tersebut. Hidangan dan pelayanan juga istimewa sesuai dengan harganya. Begitu mereka tiba di depan pintu, sang pelayan langsung stand by membukakan pintu.

Irrashaimase. Nan-mei sama desyou ka (Selamat datang. Berapa orang)?”

Go nin nan desu kedo (5 orang).”

Hai, douzo kochira e (Baiklah. Silahkan kesini)” Sang pelayan membawa mereka menuju sebuah meja kosong yang terletak di tengah-tengah ruangan. Beberapa saat kemudian, mereka duduk dan siap memesan.

Hai, gochuumon wa ikaga deshou ka (Baik. Mau pesan apa)?”

Jooyeon kun, nani ga ii (Jooyeon, mau pesan apa)?” tanya Minyoung ramah.

Huh, anak mereka sebenarnya aku apa dia sih? Kok yang ditanya duluan malah dia, gerutu Jinyoung dalam hati.

Beef steak and cola...” ucap Jooyeon lembut.

Jinyoung kun, nani ga ii.” tanya ibu Jooyeon.

Beef steak and cola. Deezato toshite, chokoreeto aisukuriimu o onegai dekimasu (Beef steak dan cola. Untuk desert nya, saya mau pesan ice cream coklat).” Ucap Jinyoung akhirnya.

Bokumochokoreetoaisukuriimu o onegaishimasu (Saya juga pesan ice cream coklat).” Imbuh adiknya Jooyeon.

Dewa, Beef steak de, o~nomimono wa koora desu ne. Dezaato wa chokoreeto aisukurimu desune (Baiklah. Makanannya beef steak, minumannya cola, untuk hidangan penutupnya ice cream coklat ya).” Ujar Minyoung seraya pramusaji sedang mencatat pesanan.

Hai, kashikomarimashita. Shoushou o machi kudasai (Baiklah. Silahkan tunggu sebentar).” Sang pelayan pun pergi. Lalu Minyoung mulai menceritakan kisah tentang Jinyoung ke ibunya Jooyeon. Jinyoung sudah tidak konsentrasi mendengarnya. Yang ia inginkan saat ini hanyalah ia bisa secepatnya kembali ke rumah dan keluarganya Jooyeon tidak usah muncul lagi di hadapannya. Jinyoung pun kembali larut dalam lamunannya dan tidak mendengarkan pembicaraan kedua nyonya-nyonya itu.

“Jinyoung…”

Tak merespon..

“Jinyoung !!! Do you hear me?”

Jinyoung baru tersadar dari lamunannya dan mulai gelagapan karena ia sama sekali tidak menyimak pembicaraan mereka.

Nante itta no yo (Kau bilang apa)?”

Jinyoung, what are you thinking about?”

Gomennasai.” Minyoung hanya menghela napas melihat tingkah anaknya ini. Wajah Jinyoung juga terlihat lesu.

                                                                      ***

 

Singapore, 28 Desember 2009

“Come On.. Kenapa sih handphone Jinyoung selalu tidak aktif??” Nana seperti cacing kepanasan mondar-mandir di koridor rumah sakit sambil menempelkan handphone di kupingnya. Tapi Nana tidak pernah mengenal lelah. Ia sudah bertekad akan meluruskan semua permasalahan ini. Nana kembali menekan serangkaian nomor dan nada sambung pun terdengar.

”Yoboseyo.”

”Sandeul, ini aku Nana”

”Nana? Ada apa?”

”Kamu tau gak no teleponnya Jinyoung di Jepang?”

“Apa kamu punya masalah lagi?

“Gak. Aku hanya ingin tahu”

“Okay. 03-3591-8960.”

“Jeongmal gumawoyo, Sandeul.”

“Kamu ingin menelponnya?”

“Iya. Kita punya masalah yang harus diselesaikan.”

“Jika bukan Jinyoung yang mengangkat teleponnya, kamu bisa ngomong bahasa Jepang?” Nada suara Sandeul terdengar sedikit cemas.

“Aku berharap aku bisa mengatasinya. Semoga Jinyoung lah yang mengangkat teleponku.”

Okay. Good luck, Nana.”

Thanks.” Nana memutus sambungan telepon dan langsung menekan nomor yang baru saja diberikan Sandeul.

Moshi moshi.”  keringat dingin mulai mengucur di pelipis Nana. Oow, yang mengangkat bukan Jinyoung bukan pula Gongchan. Tapi seorang wanita. Nana bingung harus menjawab apa. Ia tidak begitu mahir berbicara bahasa Jepang.

Donata to ohanashi ni naritai no desuka (Anda ingin berbicara dengan siapa)?” Sayoko bingung karena lawan bicaranya tidak menggubris sapaannya.

Dochirasama desuka (Siapakah Anda)?” Sayoko mulai gak sabaran karena daritadi Nana diam seribu bahasa.

Moshi moshi… Watashi wa Nana desu. Jinyoung san to ohanashi dekimasuka (Halo. Saya Nana. Dapatkah saya berbicara dengan Jinyoung)?” ucap Nana terbata-bata. Untung saja handphonenya sudah di install kamus Jepang –Indonesia sehingga ia berbicara di telepon sambil membuka kamus.

“Jinyoung wa ima imasen ga (Jinyoung sedang tidak ada di rumah).” Nana mulai merasa kecewa karena handphone Jinyoung tidak bisa dihubungi dan Jinyoung sedang tidak ada di rumah. Berbagai prasangka buruk berkelibatan di benak Nana.

Soo desuka, ja dengon o onegaishimasu (Oh gitu ya. Dapatkah saya menitip pesan)?”

Hai, ii desu yo (Ya, boleh).”

Konban denwa o shite kudasai. Denwa bangoo wa +6591338290 desu (Tolong nanti malam telepon saya di nomor +6591338290).”

Nana san desune, denwa bangoo wa +6591338290 desu ne. Wakarimashita (Telepon Nana di nomor +6591338290. Ya baiklah. Nanti akan saya sampaikan).”

Doomo, onegaishimasuja, shitsurei shimasu (Terima kasih. Maaf telah mengganggu).” Nana memutuskan sambungan. Walaupun sedikit kecewa, tapi Nana juga merasa sedikit senang karena ia sudah tau nomor telepon rumah Jinyoung. Walaupun ia tidak bisa berbicara langsung dengan Jinyoung tapi ia sudah menitipkan pesan dan Nana yakin pasti orang itu akan menyampaikan pesannya sebab suara orang itu terdengar ramah tidak seperti orang Jepang pada umumnya yang berlaku kasar.

                                                                          ***

Japan, 28 Desember 2009

”Jinyoung, mengapa kamu tidak segera bertunangan dengan Jooyeon?” tanya ibu nya Jooyeon tiba-tiba dan alhasil membuat Jinyoung tersendak minumannya.

“Jinyoung, hati-hati kalau minum.” Jooyeon menyuguhkan minumannya ke arah Jinyoung.

Thanks.”

“Jinyoung, kamu belum menjawab pertanyaan nyonya Lee.” Minyoung memberi isyarat agar Jinyoung mengangguk tapi Jinyoung sungguh-sungguh bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, Jinyoung sama sekali tidak tertarik dengan Jooyeon. Tapi di sisi lain, hubungannya pun sudah berakhir dengan Nana. Ia tidak mungkin bisa memperbaikinya lagi.

I can’t...” ucap Jinyoung mantap.

”Apa yang sedang kamu bicarakan Jinyoung?” Minyoung mulai seperti cacing kepanasan.

I’m full and I want to go home.” Jinyoung langsung ngeloyor pergi meninggalkan meja makan.

“Jinyoung !!!” Minyoung mengacungkan tangan memanggil pelayan.

Sumimasen, okanjou onegai shimasu (Permisi, tolong minta struknya).”

Zenbu ikura desuka (Berapa total semuanya)?”

Pramusaji langsung menyerahkan bill kepada Minyoung & Minyoung langsung membayarnya.

Otsuri wa totte oite kudasai (Silahkan ambil uang kembalinya).” Minyoung langsung berlari mengejar Jinyoung disusul dengan keluarga Jooyeon.

Arigatoo gozaimasu.” ucap pramusaji sambil membungkukan badan.

”Jinyoung !!! STOP !!!” Minyoung mulai kelelahan mengejar Jinyoung hingga akhirnya Jinyoung berhenti tepat di depan mobilnya. Setelah menghampiri Jinyoung, Minyoung langsung menampar pipi Jinyoung..

”Kamu sudah gila, HAH? Kamu ingin membuatku malu??

Yeah. I’m crazy because of you !” Jinyoung malah balik membentak Minyoung dan tamparan berikutnya kembali mendarat ke pipi Jinyoung.

Juubun, Minyoung san. (Cukup, Minyoung).” Ibu Jooyeon menahan tangan Minyoung ketika ia hendak menampar Jinyoung lagi.

Kaeshite kure (Hentikan itu).” Jooyeon juga ikut melerai.

”Kamu sungguh anak yang tidak tahu diri. Kapan kamu mulai akan mematuhi ibumu!!” Bentak Minyoung.

Watashi no kimochi wakatta. Gaman dekinai wa. (Tolong mengertilah aku. Aku tidak tahan).” Wajah Jinyoung semakin terlihat lesu.

Gakkari (Aku kecewa).” jawaban yang singkat dan cukup menusuk. ”Ayo kita pulang ke rumah. Kita diskusikan masalah ini di rumah” Minyoung langsung masuk ke dalam mobil sementara Jinyoung masih tak beranjak dari tempatnya berdiri.

Kanashikushinaide (Jangan bersedih).” Hibur Jooyeon sambil memegang bahu Jinyoung. Jinyoung hanya menatapnya saja.

Yokei wa osewa (Itu bukan urusanmu).” ucap Jinyoung jutek.

Nani. Doo iu imi. (Apa? Apa Maksudmu)?” Jooyeon bingung mendapat respon sedingin itu.

Shizuka ni shitte (Diamlah).” Jinyoung langsung masuk ke dalam mobil sebab ia sedang tidak mood berdebat. Sepanjang perjalanan terasa sunyi. Minyoung pun tidak mengeluarkan sepatah katapun selama perjalanan pulang. Masing-masing hanyut dalam pikirannya masing-masing. Di pikiran Jinyoung hanya ada Nana. Jinyoung benar-benar rindu terhadapnya. Semua ini karena perjodohan sialan ini, batin Jinyoung kesal. Saking kesalnya, Jinyoung sampai tidak konsentrasi menyetir sehingga mobilpun menjadi oleng dan hampir menabrak pembatas jalan. Semua orang sampai syok dan pandangan mereka langsung tertuju pada Jinyoung.

Kichigai… You want kill us (Kau gila. Kau ingin membunuh kami)!!!”

Ya, memang itu kemauanku, geram Jinyoung dalam hati. Perjalanan penuh keheningan pun berhasil ditempuh.. Setibanya mereka di rumah, Jinyoung buru-buru memasuki rumah.

”Jinyoung, kau mau kemana?” tanya Minyoung.

“Aku lelah. Aku ingin istirahat!” Baru beberapa langkah memasuki rumah, Sayoko menghampirinya dari arah dapur sambil mengeluarkan secarik kertas dari dalam saku celemeknya.

Boochama…”

Jinyoung sudah menarik napas karena mengira akan datang masalah berikutnya lagi.

What’s up?”

Your friend called and she had a message that you call her back.” Sayoko menyerahkan secarik kertas pada Jinyoung. Jinyoung syok setengah mati membaca nama si penelpon dan secepat kilat Jinyoung menyambar gagang telepon rumahnya dan menekan serangkaian nomor yang tertera di kertas tersebut. Hanya terdengar nada sambung.

“Hallo…” ucap Nana akhirnya.

“Nana…” ucap Jinyoung lirih dan nyaris berbisik. Suaranya tercekat.

“Jinyoung, kamu baik-baik saja???” suara Nana penuh dengan kecemasan.

“Iya. Apa yang terjadi?”

“Victoria sudah menceritakan semuanya padaku termasuk soal perjodohan itu.”

“Jadi kau sudah tau semuanya?”

”Ya.. Jinyoung, maafkan aku karena sudah menuduhmu pembohong dan sebagainya. Aku tak tahu kalau masalahmu seberat ini. Jinyoung, kau tidak akan bertunangan dengan gadis itu kan?” Jinyoung melirik sekilas ke arah ibunya dan keluarganya Jooyeon yang memandangnya dengan tatapan curiga sekaligus menyelidik. Namun, sesungging senyum malah tersirat di wajah Jinyoung.

”Nana, aku tidak bisa menjawab sekarang. Nanti aku akan menelponmu kembali.”

”Jinyoung, mengapa handphone mu tak bisa kuhubungi?”

”Handphone ku rusak. Tapi aku pasti akan menghubungimu lagi. Na, kalaupun aku bertunangan dengannya, itu bukan karena aku mencintainya tapi karena terpaksa. Aku tidak punya pilihan. Tolong mengertilah aku.”

”Tapi aku gak mau kamu sampai menikah dengannya. Jinyoung, saranghaeyoAku gak mau kehilangan kamu.”

“Algetssemnida. Saranghaeyo. Percayalah padaku.” Jinyoung berbicara dengan suara pelan bahkan hampir tak terdengar tapi telinga Nana cukup tajam untuk menangkap maknanya dan Jinyoung langsung menutup sambungan telepon dan memasukan nomor telepon Nana ke saku celananya dan segera masuk ke dalam kamar diikuti tatapan curiga semua orang karena Jinyoung menjadi sumrigah dan senyum-senyum sendiri. Padahal 5 menit yang lalu, muka Jinyoung masam dan manyun terus.

Sayoko, donata kara odenwa desuka (Sayoko, telepon dari siapa)?” tanya Minyoung selepas Jinyoung pergi.

Jinyoung no tomodachi, Nana desu. (Teman Jinyoung yang bernama Nana).”

”Nana?” gumam Minyoung pelan lalu ia teringat pada wallpaper yang tertera di laptop Jinyoung.. ”Is she Nana?”

 Di dalam kamar, Jinyoung buru-buru mereparasikan handphonenya kembali dan langsung menyalakannya. Ia tak sabar ingin mendengar suara yang sudah lama tidak ia dengarkan..

”Hallo…”

”Hai… Maaf ya… Tadi aku bicara di ruang tamu. Tidak enak didengar oleh eomma ku si biang masalah. Ditambah lagi ada keluarganya gadis itu.”

”Keluarga yang ingin dijodohkan denganmu?”

”Ya…”

”Kau sudah bertemu dengan gadis itu? Bagaimana dia? Apa kau mulai menyukainya?”

Jinyoung mulai memanfaatkan kesempatan ini untuk memanas-manasi Nana.

”Anaknya cantik, kalem, imut, manis.. Perfect deh pokoknya.”

”MWO??? Kok kamu malah muji-muji dia sih? Kamu mulai suka ama dia ya? Ama aku cantikan siapa?”

”Hmm… Bingung ya… Setara sih cantiknya…”

”Argh… Jinyoung… Kok kamu gitu sih? Kamu udah bener-bener berubah ya sekarang?” Nana mulai menggencarkan aksi ngambeknya. Tapi Jinyoung malahan ketawa.

”Gitu aja kok marah sih? Kamu masih sama kayak dulu ya.”

”Aku masih tetap sama. Kamu yang berubah.”

”Gak lah… Dia memang cantik tapi kamu tetap yang paling cantik. Mana mungkin cewek kayak dia bisa ngegantiin posisi kamu di hatiku. Hehe..”

”Mulai deh ngegombalnya…”

”Na, ngomong-ngomong kok kamu bisa tau nomor telepon rumahku?”

”Dari Sandeul.”

”Sandeul? Kamu gak selingkuh sama dia kan?” Jinyoung mulai curiga.

”Kamu aja bisa selingkuh. Masa aku gak bisa…” Nana gak mau kalah.

”Na, aku gak selingkuh. Aku dipaksa… di-pak-sa…”

”Iya iya… Habis aku bingung musti curhat ama siapa lagi. Ya udah deh ama Sandeul aja.”

”Hei, jangan kelewat deket ya… Awas aja deh. Na, kalau misalkan aku bertunangan dengan gadis itu gak papa kan? Bertunangan kan belum berarti menikah.”

”Lihat nanti saja, Jinyoung. Kamu lakukan apa yang ingin kamu lakukan asalkan kamu jangan menyakitiku lagi ya.”

”Iya. Aku janji gak akan menyakitimu. Na, bagaimana kondisi eomma mu?”

”Eomma sudah sadar. Aku juga sudah menceritakanmu padanya tapi sisi-sisi burukmu karena waktu itu aku kira perkataanmu di cafe itu benar. Aku kan belum tahu kejadian yang sebenarnya.”

”Ya ampun. Na, kamu bener-bener bikin image ku jelek ya di depan eomma mu.”

”Maaf, Jinyoung. Aku janji akan segera memulihkan nama baikmu. Okay?”

”Ya ya ya… Aku percaya.. Na, aku tidur dulu ya. Besok mungkin  hari yang melelahkan bagiku karena harus berhadapan dengan eomma ku dan besok appa ku juga baru pulang dari Sapporo. Nambah masalah deh.”

”Jinyoung, jaga dirimu ya… Jangan sampai kamu sakit karena mikirin hal ini.”

”Kamu juga, Na. Ki o tsukete ne. Jangan terlalu lelah merawat eomma mu.”

”Apa tuh Ki o tsukete ne?”

”Jaga dirimu.. Kamu tadi bisa berbicara dengan Sayoko. Masa kalimat begitu saja tidak tahu sih?”

”Sayoko? Oh, perempuan yang mengangkat teleponku tadi ya? Dia siapa?”

”Sayoko. Maid keluarga kami.”

”Oh. Dia baik ya? Buktinya dia menyampaikan pesanku.”

”Ya, dia kaki tangan appa dan eomma. Kadang baik tapi juga tegas dan kejam kalo appa sudah melancarkan perintahnya.” Jinyoung kembali murung memikirkan apa yang akan ia hadapi besok ketika appa nya pulang dan eomma menceritakan semuanya. Tamatlah riwayatnya.

”Jinyoung, kamu sungguh tidak apa-apa kan? Walaupun daritadi kau berusaha tertawa, tapi aku tahu suaramu bergetar. Aku kuatir…”

Shinpai shinai de…”

”Hah??”

”Jangan kuatir… Maane (Saya baik-baik saja).”

Hontoo… (Benar)?”

Atarimae yo (Tentu saja).”

Me o tojite…”

“Hah???”

“Tutup matamu.” Nana menuruti perintah Jinyoung.

Kono ato doo suru no (Selanjutnya apa)?” Jinyoung tersenyum mendengar pertanyaan Nana yang masih kacau…

”Kau bayangkan kita ada di London di Gordon Ramsay Restaurant. Di tempat romantis itu, kita menatap salju berdua dan kau tersenyum bahagia.”

”Indah sekali.” Nana bergumam karena mulai larut dalam imajinasinya.

”Kau bayangkan aku akan selalu menemanimu kemanapun kamu pergi, aku gak akan pernah meninggalkanmu lalu suatu saat kita akan menjadi pasangan suami istri.”

”Romantisnya.”

”Aku ingin hal itu tidak hanya ada di bayangan kita. Tapi suatu saat, kita bisa benar-benar mengalaminya. Kita bisa menikah dan memiliki anak lalu kita hidup berdua di suatu tempat yang romantis dan jauh dari segala macam cobaan.” Mata Jinyoung mulai berkaca-kaca dan suaranya semakin bergetar.

”Uljima”  Jinyoung tertegun mendengar ucapan Nana.

”Aku yakin suatu hari nanti kita pasti bisa mengalaminya asal kau percaya pada takdir lah yang menentukan segalanya, Jinyoung. Yang perlu kita lakukan saat ini hanyalah mengikuti garis takdir yang sudah Tuhan tentukan. Kita tidak bisa menolak takdir. Kita hanya bisa berusaha membuat takdir itu sejalan dengan kemauan kita. Don’t give up and be optimistic. Kalau kita berjalan masing-masing, aku tak yakin kita bisa melaluinya. Tapi kalau kita jalan berdua dan kompak, badai setebal apapun pasti bisa kita lalui.” Kata Nana sambil tetap memejamkan mata dan membayangkannya.

”Algetssemnida. Saranghaeyo.”

Kangaete mite (Pikirkan itu).” ucap Nana setengah mengantuk

Mereka berdua pun kembali hening dan kembali berimajinasi.

”Jinyoung, karena kebanyakan merem, kelopak mataku jadi gak bisa dibuka ya.. Aku tidur dulu ya. Besok kita sambung lagi. Oyasuminasai (Selamat tidur).”

Oyasumi to aishiteru. (Selamat tidur dan aku mencintaimu).” Nana tersenyum mendengar ucapan Jinyoung dan Jinyoung-pun langsung tertidur pulas sambil melanjutkan imajinasinya. Ia mempercayai Nana. Nana telah memberikan kekuatan baru padanya dan membuatnya menjadi tak takut menghadapi ayahnya. Ia percaya akan kata-kata Nana. Kalau sendiri memang sulit. Tapi asalkan berdua dan bersatu, ia pasti bisa menghadapi cobaan apapun termasuk kecaman dari kedua orang tuanya. Jinyoung sangat mempercayai the power of love. Sehingga tanpa disadari, sedari tadi Minyoung sedang menguping pembicaraan anak nya di balik ambang pintu. Raut wajahnya menunjukan expresi tidak suka. ”Kita lihat nanti. Siapa yang akan menang.” Ucapnya penuh keyakinan.

Sementara itu di tempat Nana…

”Jinyoung belum waktunya mengetahui rencanaku untuk menyusulnya ke Jepang. Aku juga gak bisa sembarang masuk kesana. Aku musti atur strategi buat masuk ke rumahnya Jinyoung dan menyelamatkan Jinyoung.” Nana langsung tertidur pulas dan kembali melanjutkan imajinasinya di alam mimpi.

                                                             TO BE CONTINUED

10월 27, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , ,

댓글 2개 »

  1. huwaaaaaaaaa bagus bagus bagus…
    ditunggu kelanjutannya…!”

    댓글 by arvita | 10월 28, 2011 | 응답

  2. After reading your blog post I browsed your website a bit and noticed you aren’t ranking nearly as well in Google as you could be. I possess a handful of blogs myself and I think you should take a look here: http://dominateseowithwordpress.com You’ll find it’s a very nice tool that can bring you a lot more visitors. Keep up the quality posts

    댓글 by Sherrie Maria | 11월 9, 2011 | 응답


답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: