liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 6)

Title:                        My True Love (Part 6)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5

 

Singapore, 29 Desember 2009

 “Eomma……” Nana memasuki kamar perawatan eomma nya dengan semangat dan senyuman lebar tersungging di wajahnya. Di tangannya, Nana membawa keranjang yang berisi buah-buahana.

”Waduh… Hari ini kamu kelihatan seneng banget nih… Padahal baru kemarin nangis-nangis. Ada apa sih?”

”Gak papa kok… Masa Nana gak boleh seneng sih?”

”Tentu aja boleh, sayang… Eomma cuman bingung saja melihat perubahan kamu.”

”Aku gak kenapa-kenapa kok… Oh iya eomma.. Ehm, kalau eomma mengijinkan, aku mau minta ijin ke Jepang.”

”Ke Jepang? Untuk apa? Oh, Nana. Jangan bilang kamu masih mau menemui cowok yang sudah memaki kamu itu. Kamu masih mencintainya kan?”

”Eomma, ternyata aku salah paham. Dia tidak seburuk itu kok. Aku sudah tau jalan cerita yang sebenarnya dan dia hanya ingin melindungi dan menjagaku.”

”Nana, kamu benar-benar mencintai pria itu?”

”Iya… Aku gak ingin kehilangan dia lagi untuk yang kedua kalinya.”

”Kamu sudah memesan tiket nya belum?”

”Sudah. Aku sudah meminta bantuan temanku mengurusinya dan tiketnya akan segera diantarkan ke penginapanku. Eomma mengijinkanku pergi kesana kan?”

”Eomma sih setuju-setuju saja. Tapi apa kau bisa menguasai bahasa Jepang? Bagaimana berbicara dengan orang-orang disana?”

”Eomma, aku ngerti sedikit-sedikit kok. Kan Jinyoung sering berbicara denganku pakai bahasa Jepang lagipula aku punya kamus.”

”Jadi nama pria itu Jinyoung?”

”Ne…”

”Ya sudah. Jaga dirimu disana. Kau jangan sampai berbuat kesalahan disana ya sebab ini kan pertama kalinya kamu ke Jepang.”

”Aku mengerti kok. Eomma jangan kuatir. Jadi eomma mengijinkan nih?” pertanyaan Nana hanya disambut oleh anggukan eomma nya.

”Ah… Eomma baik sekali. Eomma emang is the best deh.” Nana langsung memeluk eomma tercintanya.

”Eomma, aku janji kalau masalahku dengan Jinyoung sudah selesai, aku akan kembali kesini dan aku akan terus mendampingi eomma dan aku juga akan membawa Jinyoung kesini dan kuperkenalkan pada eomma.”

”Iya. Eomma percaya. Jangan kesini tanpa membawa Jinyoung ya.”

”Oke boss…” Nana memberi hormat pada eomma nya. ”Aku pergi dulu ya.”

”Hati-hati, sayang.”

Nana keluar dari ruangan sambil menaruh handphonenya di telinga.

”Halo, eon… Kamu dah siapin semuanya?”

”Udah, Na… Penerbangan untuk tanggal 31 Desember. Pesawat jam 10 pagi. Tiketnya akan diantarkan besok ke penginapan kamu. Bandara Singapore itu bandara apa ya?”

”Changi..”

”Owh, oke deh… Aku urus masalah disini. Kamu tunggu kabar ya disana. Na, ingat ya jangan sampai Nichkun mengetahui masalah ini. Kepalaku bisa dipentung sama dia.”

”Iya. Aku tahu, eon.. Eon, makasih banget ya buat bantuanmu selama ini. Kalo gak ada kamu, mungkin selamanya aku akan merasa bersalah sama Jinyoung karena sudah menuduhnya yang bukan-bukan dan kamu juga sudah banyak banget membantuku.”

”Jangan sungkan-sungkan begitu. Aku kan temanmu sekaligus keluargamu.”

”Makasih, eon.” Nana menutup teleponnya.

                                                   ***

Jepang, 29 Desember 2009

 Hyung, appa sudah pulang…”

”Sudah datang rupanya. Masalah ku berikutnya..”

Hyung…”

”Sudahlah. Kamu turun duluan saja. Aku menyusul. Oh iya, Chan. Keluarganya Jooyeon sudah datang belum?”

”Sudah. Kali ini mereka datang bersama appa nya.”

”Mampus…” gumam Jinyoung pelan.

”Hah? Kenapa Hyung?”

”Gak papa. Sudah kamu keluar duluan. Hyung menyusul.”

Di kamar, Jinyoung sudah mulai kelabakan. Mondar-mandir seperti setrikaan. Kakinya sudah tidak bisa diam… Duduk salah, berdiri pegal, ingin menelpon juga bimbang. Akhirnya Jinyoung memutuskan untuk merebahkan dirinya sejenak di ranjang.

God, help me…” Jinyoung menutup muka dengan kedua telapak kanannya dan kembali duduk di sudut ranjang.

”Apa nih yang musti aku lakukan… Ah, sudahlah. Hadapi dulu semuanya. Harus ingat kata-kata Nana kemarin… Aku gak sendirian. Masih ada Nana yang mendukungku dan juga Tuhan. Mereka gak akan ninggalin aku.” dengan penuh rasa percaya diri, Jinyoung meraih handphonenya yang terletak di samping meja lalu bergegas menuju ruang tamu.

                                                       ***

Appa..” sapa Jinyoung ragu.’

”Hallo anakku.. Lama tak melihatmu.”

“Aku juga..” jawab Jinyoung. Gongchan mengamati raut wajah hyung-nya yang berubah pucat dan tergagap-gagap.

“Ayo duduk. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu.” Keringat dingin langsung menjalar ke seluruh tubuh Jinyoung. Dengan langkah gugup, Jinyoung mengambil posisi duduk di samping Gongchan.

”Jinyoung, kenapa kamu malah duduk di samping Chan. Duduk di samping Jooyeon, tunanganmu.” Jinyoung hanya mengangguk pasrah lalu berpindah posisi ke sebelah Jooyeon dan kembali menunduk. Kedua keluarga ini mulai sibuk membicarakan gaun, cincin, tempat, dan undangan. Jinyoung hanya menyimak sedikit-sedikit saja hingga ada satu kata yang membuat Jinyoung cukup syok mendengarnya.

“Jika perlu, mereka tidak perlu bertunangan lagi. Langsung menikah saja..” ucap Minhwan, ayah Jinyoung.

“Menikah ??” Jinyoung langsung membelalakan matanya.

”Iya. Bagaimana menurutmu?”

“Kamu sudah gila !! Aku gak mau !!! Aku bukan robot yang dapat kamu kontrol. Aku punya perasaan dan hati !!” Emosi Jinyoung mulai memuncak. Jinyoung langsung bangkit berdiri.

Jinyoung !!! Shut up !!!” Minyoung pun ikutan bangkit berdiri. “Sit down.” Perintahnya.

“Kamu ingin mengurungku, HAH? Okay !!! I’m not afraid. Sampai mati, aku gak akan pernah mau menikah dengannya!”

“Oh.. Kau sudah berani rupanya. Kamu berkata sampai kamu mati? Okee.. Aku akan melihatnya.. Sayoko!”

Yes, sir.”

Catch him.”

Hei, what do you want?”

I want to see how long you can survive.” Minhwan menjentikan jarinya dan beberapa orang berbadan tegap langsung menyeret Jinyoung tanpa Jinyoung bisa berkutik sama sekali. Jinyoung hanya bisa memaki-maki appa nya dengan tangan yang sudah terkunci oleh para bodyguard Minhwan.

Kutabare !!! Kitanai !!! Kimochi Warui !!! Bukkoro shite yaru !!! Kichigai !!! (Keparat kau !!! Kau brengsek !!! Memuakkan !!! Ku bunuh kau !!! Kau gila !!!)” lalu suara Jinyoung semakin lama semakin menghilang. Minhwan hanya menanggapi dengan santai. Ia tidak pernah bermain dengan emosi cukup isyarat untuk mengurung anak-anaknya yang melakukan kesalahan. Tindakan appa nya pada hyungnya cukup membuat Gongchan sedikit takut dan menundukkan kepala.

”Chan, Kamu jangan pernah mengikuti tingkah kakakku itu.” Ucap Minhwan sambil meminum teh.

”Ne..”

Gongchan memandang appa nya dengan tatapan penuh kebencian. Lama-lama Gongchna tidak tahan juga melihat appa nya yang memang selama ini lebih cenderung menjadikan mereka berdua robot ketimbang sebagai seorang anak. Gongchan langsung bangkit berdiri dan berlari menuju kamarnya.

“Apa yang ingin anak itu lakukan lagi?”

“Tenang. Dia tidak akan berani macam-macam denganku.”

                                                ***

Di dalam kamar, Gongchan langsung membuka laptopnya dan mem-browser internet. Ia mengamati layar laptopnya baik-baik.

”Haduh, kok tiket pesawat pada full sih…” Gongchan menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. Lalu ia membuka laci dan mengambil handphonenya dan menekan serangkaian nomor.

”Hallo”

”Hyung, ini aku Gongchan.”

”Oh kamu. Ada apa? Tumben menelponku?”

”Nana noona masih ada disana gak?”

”Nana? Tumben kau menanyakan Nana?”

”Iya. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya.”

”Tapi Nana nya sudah ke Singapore.”

”Ke Singapore? Kapan?”

”Kalo gak salah, harinya sama waktu kamu dan Jinyoung kembali ke Jepang deh.”

”Kamu tau nomor handphonenya Nana?”

”Nampaknya dia sudah ganti nomor deh. Aku sih kurang tau nomornya. Mungkin Victoria tau.. Tapi dia sedang tidak ada disini.”

”Baiklah. Gumawo.” Gongchan langsung mematikan teleponnya dan kembali berkutat pada layar laptopnya.

”Ganti haluan deh. Coba liat tiket ke Singapore…” Gongchan menyusuri deretan jadwal penerbangan.

”Hah?? Full juga?? Mentang-mentang liburan panjang, jadi tiket pesawat pada Full semua. Ke London Full, ke Singapore juga Full. Mau nelpon Nana, gak tau nomornya. Gak. Aku gak bisa liat hyung menderita begini. Aku harus cari akal untuk membebaskan hyung dan mempertemukannya dengan Nana.” Gongchan terus bergulat pendapat di dalam hatinya sendiri.

”Chan. Ini aku. Boleh masuk?” Gongchan terlonjak kaget saat mendengar suara eomma nya dari balik pintu. Gongchan langsung menutup layar laptop nya agar eomma nya tidak mencurigainya dengan layar yang penuh jadwal penerbangan.

Yeah, mom.” Minyoung nya masuk ke kamar anak bungsunya itu dengan tatapan dingin dan Gongchan pun hanya bisa menunduk pasrah dan berdoa dalam hati.

Tuhan, bantu aku. Sekarang aku mau berubah. Dulu aku memang keras kepala dan selalu membantah permintaan hyung dan berpihak pada appa dan eomma. Tapi sekarang, berikan aku jalan untuk membantu Jinyoung hyung, doa Gongchan dalam hati.

”Ada apa, eomma?”

”Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kamu tidak menemani keluarga Jooyeon?” keringat Gongchan semakin bercucuran dan matanya melirik sekilas ke arah laptopnya sebelum akhirnya berkata,

“Iya, aku menelpon temanku. Aku tak ingin mengganggu acaramu.” Ucap Gongchan gugup.

“Chan, sebaiknya kamu jangan membantah lagi dan mencari-cari alasan. Kamu ingin membebaskan Jinyoung kan?” Gongchan semakin meremas-remas tangannya yang mulai dingin.

“Enggak kok. Yasudah aku akan menemani keluarga mereka.”

“Anak pintar. Aku tunggu di ruang tamu ya.” Minyoung pergi meninggalkan kamar Gongchan. Gongchan baru bisa menghela napas lega.

”Kenapa aku bisa terlahir di keluarga ini, Tuhan. Bantu aku dan beri aku petunjuk.” Gongchan mulai gelisah. Namun Tuhan tidak pernah tidur. Ia bisa mendengar permohonan umat-Nya. Dering handphone Gongchan berbunyi dan tertera nama Suzy dari layar handphone-nya.

”Suzy?”

”Chan, akhirnya aku bisa menghubungimu juga.”

”Apakah ada masalah disana?”

”Iya. Sedikit. Sandeul oppa pergi meninggalkan London.”

”Hah? Kok bisa?”

”Ia hanya meninggalkan surat di atas ranjangnya.”

”Apa isinya? Bisa tolong kau bacakan?”

Dear, Suzy

Suzy, maaf kalau oppa pergi tanpa pamit. Oppa harap kamu tetap tinggal di London dan jangan pergi kemana-mana. Oppa ada urusan mendadak yang mengharuskan untuk meninggalkan London. Oppa akan pergi ke Jepang untuk sementara. Oppa harus membantu Jinyoung. Oppa janji, kalau urusanku sudah selesai, oppa akan secepatnya kembali ke London. Di lemari oppa, ada berangkas. Itu berisi uang jajan kamu selama oppa tidak ada. Tolong dihemat ya.

                                         Sandeul.

 

”Begitu isinya, Chan.”

”Suzy, bisa aku minta nomor telepon Sandeul?” Lalu Suzy-pun menyebutkan digit angka.

”Terima kasih banyak, Suzy. Kau memang penyelamatku. Aku berterima kasih sekali kepada Sandeul hyung yang mau jauh-jauh datang untuk membantu Jinyoung hyung.”

”Memangnya Jinyoung oppa memiliki masalah apa sih?”

”Terlalu panjang untuk diceritakan.”

”Oh iya, Chan. Kalau kau bertemu dengan Sandeul oppa, sampaikan padanya ya jangan pergi terlalu lama. Aku kesepian disini.”

”Baiklah.” Chan menutuskan sambungan telepon lalu menarik napas lega.

”Syukurlah akan ada penyelamat Jinyoung hyung. Thanks God.” Sekarang Gongchan dengan penuh percaya diri menuruni tangga menuju ruang tamu. Tapi bukannya bergabung, ia malah ingin mencari mati.

”Appa, bolehkah aku bertemu dengan Jinyoung hyung? Aku ingin berbicara dengannya. Gak lama. Hanya 5 menit. Janji.” Minhwan hanya berpandangan dengan Minyoung.

Sayoko, take him.” Sayoko pun hanya mengangguk sebelum akhirnya membawa Gongchan pergi.

Arigatoo.”

Di tempat rahasia yang kotor itu, Gongchan melihat hyung nya sedang duduk di lantai dengan tangan dan kaki yang diborgol. Saat ini Jinyoung terlihat seperti seorang tawanan di penjara. Baru berapa lama saja, Jinyoung sudah terlihat kacau dengan badan kotor dan rambut acak-acakan. Mungkin tadi, Jinyoung sempat berkelahi dengan bodyguard appa nya karena ketika bodyguard nya kembali, wajah mereka sudah kelihatan sedikit bonyok. Begitu juga dengan wajah Jinyoung. Di samping Jinyoung, ada sepiring nasi dan segelas air putih yang sama sekali ia belum sentuh. Padahal setau Gongchan, dari tadi pagi hyung nya belum makan apa-apa.

Hyung…” panggil Gongchan takut-takut dan mulai mendekati kurungan Jinyoung. Ia takut kalau hyungnya kembali mengusirnya kembali seperti waktu itu.

Daijoobu desuka (Kau baik-baik saja)?”

Jinyoung mengangkat wajahnya perlahan dan ketara sekali bahwa ia habis berkelahi. Ada memar di pelipisnya dan mulutnya pun terlihat seperti habis berdarah.

Kamaimasen. Maane.  (Nggak papa. Saya baik-baik saja).” ucapnya singkat.

Hontoo (Benarkah)?”

Atarimae yo. Gaman dekinai wa. (Tentu saja. Aku tidak tahan).”

”Wae?”

”Perlakuan mereka terhadapku.” Jinyoung memberi penekanan pada kalimatnya.

Wakarimashita. Hyung, watashi o mite (Aku mengerti, Hyung, lihat aku). Shinpai shinai de to kanashikushinaide (Jangan khawatir dan jangan takut).”

Nande dame na no. (Kenapa seperti itu)?”

Sandeul will help you. He will come here to help you.” Gongchan sengaja mengecilkan volume suaranya sehingga tidak ada orang lain yang mendengar.

”Serius? Dari mana Sandeul tau masalahku ini? Aku sama sekali tidak menceritakannya.”

I don’t know. Suzy told me.”

“Suzy?” tanya Jinyoung dan hanya dijawab Gongchan oleh anggukan.

Gongchan !!! It’s over five minutes.” Teriak Minyoung.

Hyung, aku pergi dulu. Ki o tsukete ne (Jaga dirimu) dan semua akan baik-baik saja.” Kaki Gongchan juga sudah mulai kesemutan karena daritadi ia berjongkok terus.

Chan, thanks for you help. You’re my best brother.” Ucap Jinyoung lemas.

“Hyung, aku sayang kamu dan juga Nana noona. Aku ingin kalian berdua menikah. Tidak ada seorangpun yang pantas mendampingimu selain Nana.” Gongchan langsung berlari meninggalkan Jinyoung sebelum appa dan eomma nya ngamuk lagi.

                                                  ***

Tokyo International Airport, 31 Desember 2009

Nana sudah mondar-mandir seperti cacing kepanasan menunggu seseorang. Namun orang yang ia tunggu sama sekali belum menampakan batang hidungnya.

”Haduh, kemana sih tuh anak. Ngaret aja bisanya.” Nana kembali melirik jam tangan dan handphonenya.

”Nana !!!” Nana menoleh dan melihat Sandeul sedang melambaikan tangannya.

”Kenapa lambat sekali?” Nana nampak kesal.

”Mianhae.. Aku habis mencari tempat penginapan tapi masih belom menemukan tempat yang pas.” Sandeul menghela napas.

”Yasudahlah lupakan. Hanya saja aku sudah benar-benar panik dengan kondisi Jinyoung. Dari kemarin aku menelponnya tapi selalu saja tidak aktif.”

”Hmm. Aneh juga ya. Pasti ada sesuatu yang terjadi deh. Kamu juga mengabariku dadakan sih. Aku jadi belum sempat berpamitan dengan adikku dan hanya bisa menuliskan surat. Untuk aku punya persiapan sebelumnya. Coba kalau tidak, wah bisa berabe deh. Aku gak jamin bisa menyusulmu ke Jepang.”

”Maaf ya. Aku baru ingat soalnya aku tidak tau alamat rumah Jinyoung. Jadi cuman kamu yang bisa menolongku. Aku saja tahu nomor telepon rumah Jinyoung dari kamu.”

”Iya, aku ngerti. Aku sih bersedia saja membantumu. Kebetulan aku sudah lama tidak ke Jepang. Hei, kau harus hati-hati ya. Jangan sampai salah bertindak atau salah mengucapkan kata-kata.”

”Kenapa memangnya?”

”Aduh, kedua orang tua Jinyoung itu sensitif kalau ada hal kecil saja yang terjadi. Mereka itu benar-benar teliti dan men-detail. Bisa-bisa kamu masuk kurungan juga.”

”By the way, kamu berkenalan dengan Jinyoung sudah berapa lama sih? Kok sepertinya kamu mengerti sekali seluk beluk keluarga mereka.”

”Haduh, aku, adikku, Jinyoung dan Gongchan itu teman main semasa kecil. Aku sudah mengenal mereka sejak umur 5 tahun karena waktu itu rumah kami tetanggaan. Mereka sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Ayah dan ibuku juga cukup dekat dengan orang tua mereka sebab dulu appa ku adalah kaki tangan appa nya Jinyoung tapi sekarang appa ku sudah tidak berkerja lagi di pemerintahan kota Seoul semenjak appa nya Jinyoung pindah ke Jepang.”

”Oh….” Nana mendengarkan cerita Sandeul.

”Ya udah. Mau langsung pergi ke rumah Jinyoung?”

“Kamu gak mau makan dulu?”

“Ah, makan mah gampang. Yang penting keselamatan Jinyoung dulu.”

“Jinyoung beruntung ya punya sahabat kayak kamu.”

”Ah, biasa aja kok. Yuk jalan.” Nana berjalan tepat di belakang Sandeul. Karena tidak berhati-hati, Nana menabrak seseorang hingga membuatnya hampir terjungkal. Untung saja cowok itu berhasil menahan tubuh Nana.

Gomennasai.” ucap Nana sambil membungkukan badan.

”Nana?” Nana pun  mengangkat wajah dan bisa melihat dengan jelas wajah cowok yang barusan ditabraknya.

”KEY???” karena kesenengan melihat Nana, Key pun langsung memeluk Nana.

”Ya ampunn. Aku kangen banget ama kamu, Nana.” Sandeul hanya bisa bengong melihat adegan ini.

”Key, kamu kesini sama siapa?”

”Sama temen-temen 91 line yang lain. Ada Mir, Nichole, Dongwoon, Minho, Jaejin dll. Kita lagi liburan ke Jepang. Kamu ngapain disini? Udah lama gak liat kamu, kamu udah banyak berubah. Tambah cantik.”

”Makasih, Key. Mana temen-temen yang lain?”

”Kita lagi mencar. Ada yang lagi ke toilet ada yang lain beli makanan juga”

”Na, dia siapa?” tanya Key bingung dan melihat ke arah Sandeul.

”Sandeul, temanku.”

”Hai, Key.”

”Sandeul.” Mereka berdua-pun saling menjabat tangan.

”Key, aku sedang buru-buru. Padahal aku berharap bisa ngobrol panjang lebar ama mungkin lain waktu saja ya. Aku ada urusan penting. Aku titip salam saja buat teman-teman yang lain ya.” Nana buru-buru menarik Sandeul dan pergi dari situ.

”Sandeul, sekarang kita musti kemana?”

”Makanya jangan sok narik-narik orang. Yang ada juga aku yang narik-narik kamu. Kita tunggu taxi di depan saja. Kita naik taxi sampai ke stasiun Tokyo. Lalu kita naik kereta menuju rumah Jinyoung.”

                                                   ***

Setelah menempuh perjalanan yang sangat melelahkan, akhirnya mereka pun tiba di depan pintu rumah Jinyoung. Bahkan mereka berdua pun sempat tertidur di dalam kereta. Dan sekarang mereka harus mempersiapkan mental untuk masuk ke rumah keluarga Jinyoung.

”Nana, ingat. Jangan sembrono. Hati-hati..”

Kowai... (Aku takut).”

”Yaelah nih anak. Beraninya pas masih jauh. Pas udah di depan mata, langsung ciut nyalinya. Aku akan ngebelain kamu kok. Jinyoung ama Gongchan. Mereka pasti akan membela kita. Shinpai sinai de (Jangan kuatir).”

Yabai (Resiko nya sangat besar).”

”Kau ingin kita mudur sekarang? Udah di depan mata nih. Ayo Nana. Kau harus tunjukan bahwa kau benar-benar mencintai Jinyoung.” Sandeul mulai beranjak dari tempatnya dan menekan bell pintu. Degup jantung Nana pun bertambah kencang. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan seorang pelayan cantik keluar untuk melihat tamu mereka yang datang.

”Sayoko.”

”Sandeul?”

Sayoko? Jadi dia orang yang mengangkat teleponku waktu itu dan kaki tangan ayahnya Jinyoung. Aku tak menyangka ia masih sangat muda. Aku kira dia sudah tua, ucap Nana dalam hati.

’Nana, sayoko adalah pelayan disini sekaligus kaki tangan kedua orang tua Jinyoung. Usia Sayoko sudah menginjak usia 40 tahun dan ia sudah melayani keluarga Hirayama dari Jinyoung masih kecil.”

”What??? 40 tahun??? Kau gak salah? Mukanya seperti masih remaja berusia 20tahun.”

”Aku sudah kenal Jinyoung dari kecil. Iya. Sayoko diberikan Minhwan obat awet muda agar wajahnya tetap cantik dan energinya tetap full.”

Nana pun masih sangat mengagumi kecantikan Sayoko.

Sandeul-kun, long time no see.” Sayoko tersenyum ramah dan Nana baru menyadari bahwa Sayoko juga pandai berbahasa Inggris.

Yeah. Me too. Sayoko, she is my friend, Nana.”

Nana? Are you Jinyoung’s friend?”

“Yeah, douzo yoroshiku (Senang berkenalan denganmu).” Nana membungkukan badannya dan dibalas bunngkukan badan juga oleh Sayoko.

Come in.” ajak Sayoko.

Nana sangat takjub melihat kediaman keluarga Jinyoung. Rumah yang megah dan luas. Sungguh kediaman yang sangat nyaman. Inilah letak perbedaan rumah di Jepang dengan rumah-rumah di luar negeri. Rumah-rumah yang bergaya eropa, lebih mementingkan tinggi dan berlantai-lantai. Sedangkan rumah di Jepang tidak mementingkan tinggi bahkan cenderung tak bertingkat tapi luas dan lebarnya sampai kedalam-dalam. Tapi ia perhatikan rumah Jinyoung ada lantai duanya tapi lebarnya juga bukan main. nana baru menyadari dari tadi ia masih belum tiba di ruang tamu saking panjangnya lorong yang harus ia telurusi. Nana juga sempat melewat kolam ikan dan taman bunga. Tapi sayangnya ia hanya bisa melihatnya dari balik kaca.

”Nana, siap-siap. Kita hampir sampai di ruang utama.”

”Jangan nakut-nakutin aku dong, Sandeul.” tanpa disadari, keringat juga mulai menetes dari pelipis Nana saking gugupnya…

Sir, madam… We have guests.”

Guests? Who?” Sayoko menyingkir ke samping dan dari situlah Sandeul dan Nana menampakan diri.

Otoosan… okaasan (panggilan untuk Ayah dan ibu orang lain).”

”Sandeul?” Minhwan dan Minyoung saling bertukar pandang lalu pandangan mereka terhenti pada sesosok gadis yang berdiri terpaku di samping Sandeul.

Rasanya aku pernah melihat wajah ini, tapi dimana ya, batin Minyoung.

”Sit down. Sayoko, you can go to the kitchen now.” Sayoko menurut saja.

Hi Sandeul. Bagaimana kabarmu dan juga keluargamu?”

“Kami baik-baik saja. Thanks.”

“Sudah lama gak bertemu. Kau nampak banyak berubah.”

“Tak ada yang berubah denganku. Otoosan, aku belum melihat Jinyoung dan Gongchan. Dimana mereka?”

“Gongchan ada di dalam kamar sedangkan Jinyoung ada di dalam kurungan.”

“Kurungan??” kontan Sandeul dan Nana membelalakan mata dan saling berpandangan.

”Iya. Dia anak yang nakal dan keras kepala. Tidak pernah mau mendengarkan orang tuanya. Ini adalah pelajaran untuknya.” Nana sampai menahan napas mendengarnya dan matanya mulai berkaca-kaca. Nampaknya Minyoung sangat lihai. Ia bisa langsung melihat perubahan di wajah gadis itu.

What’s your name?” tanya Minyoung tiba-tiba dan membuat Nana kebingungan. Nana buru-buru menyeka air matanya yang hampir menetes.

“Nana.”

Oh, so you are Nana. Jinyoung’s girl friend.”

“No, I’m not his girlfriend. Just friend”

“Aku akan memberitahu Jinyoung tentang kedatangan kalian.” Minyoung beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke dalam sementara Minhwan masih tetap santai sambil menyeruput teh hangatnya. Wangi bunga semerbak di seluruh ruangan. Memang ini ciri khas rumah di Jepang, teh, wangi bunga juga sifat orang-orangnya yang dingin, tegas dan sedikit menyeramkan.

Jinyoung, are you still alive?” tanya Minyoung. Sementara Jinyoung hanya meliriknya tajam. Makanan dan minuman di sampingnya masih utuh dan belum ia sentuh sama sekali. Jinyoung sudah beberapa hari tidak makan. Mukanya sudah kusut dan ia sudah sama sekali tidak memiliki tenaga bahkan untuk berbicara sekalipun tapi kabar yang dibawa Minyoung, bukan hanya membuat Jinyoung berbicara tapi juga berteriak.

“Temanmu sudah datang.” Jinyoung tak bergeming sebab ia sudah tahu dari Gongchan bahwa Sandeul akan kemari.

But, he is coming with a beautiful girl and oh… I see… I have seen her face at your computer wallpaper.” Minyoung akhirnya berhasil mengingat dimana ia pernah melihat Nana.

Nana !!! She is coming here with Sandeul?” Jinyoung membelalakan mata dan kembali bersemangat. “I want to meet her. Please…”

No no no… Jinyoung. Sekarang bukan waktu yang tepat. Kau tak ingin aku menyakitinya kan?” Jinyoung berusaha merangkak entah mendapat kekuatan darimana dan sekarang ia sudah berhadap-hadapan dengan eomma nya.

Don’t touch her !!!

“Menikah dengan Jooyeon atau aku akan membunuh gadis itu!”

Kutabare (Keparat kau).” Tapi Minyoung malahan berjalan meninggalkan Jinyoung yang teriak-teriak seperti orang gila dengan kata-kata kasar yang terlontar dari mulutnya…

“Kau benar-benar iblis !!!” Itulah kata makian terakhir yang didengar Minyoung sebelum ia benar-benar menjauh dari Jinyoung.

                                                    ***

Minyoung sudah kembali ke ruang tamu dan kembali duduk di samping suaminya. Tatapannya tak lepas dari Nana. Minyoung melihat Nana seakan makhluk asing dari planet lain atau seperti kucing yang melihat ikan dan siap untuk menerkam. Nana sudah hampir ngompol dan seluru badannya sudah mulai berkeringat.

Go kazoku wa doko ni sunde imasuka” tanya Minyoung. Sementara itu Nana hanya bingung menerjemahkan. Akhirnya ia mencolek Sandeul dan memberi isyarat ’itu artinya apa.’

”Keluarga kamu tinggal dimana? Kamu bilang pakai bahasa inggris juga dia ngerti.”

Kazoku wa Hanguk ni sunde imasu. (keluarga saya tinggal di Korea).” Dengan penuh percaya diri, Nana menjawab dengan menggunakan bahasa Jepang. Ia hanya menyambung-nyambungkan kata saja yang mungkin. Ia tak mau terlihat benar-benar tolol di depan keluarga Jinyoung. Ia ingin Jinyoung dibebaskan dari kurungan dan ia bisa memeluk pria itu.

Anata wa nannin kyoodai desuka.” Nana kembali menunjukan wajah bingungnya dan dengan takut-takut dan gerakan seminimal mungkin, ia menoleh pada Sandeul supaya dibisikkan jawaban lagi.”

”Kamu berapa bersaudara?” bisik Sandeul.

Watashi wa ninin kyoodai desu. (Saya dua bersaudara).” jawab Brenda gelagapan karena takut salah.

Otoko no kyoodai wa nanin imasuka.” Nana mulai kembali berpikir. Ia coba menebak-nebak sendiri maksud pertanyaannya. Otoko kan artinya laki-laki, kyoodai itu saudara. Apa mungkin ia bertanya gue punya berapa saudara laki-laki, tanya Nana dalam hatinya sendiri.

Only one.” Akhirnya Nana pasrah dan menjawabnya dalam bahasa Inggris.

You look so scared…” ucap Minyoung akhirnya dengan menggunakan bahasa Inggris yang kedengar lancar dan logat Jepangnya tidak terasa sama sekali. Nana akhirnya bisa menarik napas lega karena bisa mampus ia kalau terus menerus ditanya dengan bahasa Jepang.

Yeah, i’m very nervous. I can’t speak Japanese.” Nana menyeka keringat di wajahnya.

You must learn Japanese if you want to make a relationship with my son.”

I know.” Nana memaksakan senyumnya.

Otoosan wa doko dehataraite imasuka.” Nana kembali memasang expresi bingung dan Minyoung langsung menerjemahkankan ke bahasa Inggris.

Where are your father working?”

My father had died a year ago with my little brother.”

I’m so sorry.

My brother passed away in an accident and my dad because of heart attack.”

So now you live with whom?”

With my mom. She is in Singapore now.”

By the way, how did you meet Jinyoung?”

In London. We were introduced by someone and I’m sure you know them.”

Whom?”

“Nichkun and Victoria” Raut wajah Minyoung dan Minhawan berubah seketika. Mereka memandang Nana dengan tatapan bingung.

You know Nichkun?” Minhwan mulai angkat bicara.

Nichkun is the person who helped me from a plane crash and he took care of me in London.”

Oh, so you are Nichkun’s friend?” tanya Minhwan yang hanya dijawab Nana dengan anggukan.

“Sayoko !!!” panggil Minyoung lantang. Tak berapa lama kemudian, Sayoko datang dari arah kebun dengan membawa sebuah gunting rumput.

Yes, madam.”

Bring Jinyoung here.” Ucapan Minyoung lantas membuat senyum Nana dan Sandeul mengembang. Mereka pun saling tersenyum satu sama lain. Tapi Nana bingung melihat raut wajah Minhwan yang berubah begitu ia menyebut nama Nichkun dan langsung memanggilkan Jinyoung begitu mereka tau Nana adalah teman Nichkun. Semua orang takut pada Minhwan dan Minyoung tapi siapa yang bisa mengira bahwa mereka juga takut pada Nichkun padahal Nichkun hanyalah seorang dokter.

How is Nichkun? Is he fine?” tanya Minhwan.

Yes, he is fine. He is a little bit busy right now.”

I know. He is a special doctor.” Gumam Minhwan tapi Nana masih bisa menangkap kata-katanya. Nana semakin bingung dengan pemakaian kata special untuk Nichkun. Nana mulai berpikir bahwa ada hubungan antara Minhwan dan Nichkun dan hubungan itu bukanlah hubungan biasa. Nana celingukan ke arah dalam mencari sosok Jinyoung yang masih belum kunjung tiba.

He will come..” jawab Minyoung yang melihat kegundahan Nana. Tak berapa lama kemudian, doa Nana pun terkabul. Jinyoung datang dari dalam dan dikawal oleh Sayoko dan beberapa bodyguard berbadan tegap. Nana hampir tidak percaya pada pemandangan yang di depannya ini. Ia hampir tidak mengenali Jinyoung, begitu juga dengan Sandeul yang sampai menganga lebar karena melihat penampilan Jinyoung saat ini. Nana sama sekali tak menyangka ada orang tua yang sekejam ini pada anaknya. Bahkan hewan sekalipun tidak akan sekejam ini. Jinyoung terlihat sangat kurus, acak-acakan, kumel dan kulitnya berubah menjadi coklat. Padahal pada waktu Nana bertemu Jinyoung pertama kali, kulit Jinyoung sangat mulus dan putih bahkan Nana pun kalah mulusnya dan gayanya yang funky dan trendy, bukan seperti gembel begini. Lalu Jinyoung yang dulu ia kenal adalah Jinyoung yang sangat menjaga penampilan bukan Jinyoung yang seperti ini. Air mata nana mulai jatuh membasahi pipi dan Sandeul pun menepuk pundak Nana. Jinyoung masih dalam posisi menunduk dan belum sempat melihat wajah Nana. Jinyoung saat ini persis seperti mummy yang baru keluar dari museum. Tanpa bisa menahan kerinduannya lagi, Nana langsung bangkit berdiri dan menghambur ke dalam pelukan Jinyoung. Karena kurang keseimbangan di tambah lagi Jinyoung yang sudah beberapa hari tidak makan, Jinyoung pun ambruk ke lantai dan Nana sama sekali tidak melepaskan pelukannya. Tangis Nana pecah di dalam pelukan Jinyoung. Jinyoung yang sudah tersadar kembali baru menyadari siapa gadis yang memeluknya saat ini.

”Nana?” Jinyoung membalas pelukan Nana sambil menahan air mata kerinduannya. Nana melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Jinyoung.

”Mengapa kamu menjadi seperti ini?” tanya Nana terbata-bata karena masih menangis sesenggukkan.

”Karena aku mencintaimu. Kalaupun aku harus mati, aku pun rela. Aku gak mau menikah dengan orang lain selain kamu.”

”Kalau kamu mati, aku gimana !! Kamu mau ninggalin aku sendirian? Daripada kamu harus menderita seperti ini, lebih baik kamu menikah saja dengan gadis lain. Yang penting aku masih bisa melihatmu.”

”Aku gak mau !! Aku gak akan bahaya. Menikah dengannya hanya akan membuat hidupku lebih susah dan menderita. Lebih menyakitkan daripada kematian. Lebih baik langsung mati daripada menderita perlahan tapi akhirnya mati juga. Mati tersiksa.”

”Tapi Jinyoung, aku sungguh tak tega melihat kondisi mu yang seperti ini.”

”Maaf. Ini demi cintaku padamu.” Jinyoung pun jatuh ke lantai dengan mata yang terpejam.

”Jinyoung? Jinyoung !!!” Nana mulai teriak histeris sambil mengguncang-guncangkan tubuh Jinyoung. Sandeul dan Sayoko pun mulai memeriksa Jinyoung.

”Dia masih hidup. Dia hanya pingsan.” Jawab Sandeul sehabis memeriksa nadi Jinyoung.

”Take him to his room. Nana, kau sudah melihat kondisi Jinyoung kan? Sekarang kamu pergilah bersama Sandeul.” Ujar Minyoung.

“Aku ingin melihat kondisinya. Aku maish ingin berbicara dengannya.”

“Kamu sungguh gak tahu berterima kasih dan keras kepala. Pergilah. Sandeul, Sayoko, bring her out from my house.”

“Kamu sungguh egois, kejam, gak punya hati. Jinyoung adalah anakmu. Kenapa kau memperlakukannya seperti itu? Aku kasihan pada Jinyoung dan Gongchan yang memiliki orang tua seperti kalian.” Maki Nana dan Minyoung pun hanya mengacungkan tangannya dan memberi bahasa isyarat lalu beberapa bodyguard datang dan langsung membawa paksa Nana dan Sandeul keluar dari rumah mereka walaupun Nana terus memberontak, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

“Mereka sangat keras kepala.” Ucap Minhwan selepas Nana pergi dan Minhwan langsung mengambil telepon genggamnya dan menempelkannya di telinga.

Nichkun, its me Minhwan.”

                                                      ***

   “Huh !!! Orang tua macam apa itu !!! Berbuat setega itu pada anaknya sendiri hanya demi kepentingannya sendir.” Sandeul mengajak Nana makan di sebuah restaurant Shabu-shabu dan napsu makan Nana pun meningkat karena melampiaskan kekesalannya. Nana sudah nambah 4 mangkuk nasi.

“Hei. Aku tahu kau sedang kesal. Tapi jangan melampiaskannya pada makanan dong. Aku bisa bangkrut nih.”

”Aku sungguh-sungguh tak mengerit jalan pikiran mereka berdua deh. Gohan o totte itadakemasenka (Bisa minta tolong ambilkan nasinya)?”

”Hei !!! Jangan makan banyak-banyak !!! Uangku tidak cukup….” Sandeul mulai kelabakan sendiri.

Onaji mono o moo sukoshi itadakemashoo (Ingin tambah sekali lagi).”

Sandeul hanya bisa menarik napas ”Awas ya kau kalau nambah lagi, bayar sendiri.”

”Iya… Lama-lama aku bisa emosi sama mereka. Aku sungguh-sungguh mengkhawatikan Jinyoung. Sandeul, aku harus bagaimana?”

”Aku tak tahu. Untuk menolong Jinyoung disaat seperti ini, yabai.”

”Apa?”

”Yabai = resiko nya sangat besar.”

”Jadi aku harus bagaimana? Aku sungguh khawatir. Sandeul, apa Nichkun bisa membantu kita? Tadi nampaknya Minhwan takut begitu aku bilang bahwa aku kenalannya Nichkun.”

”Nichkun tau kita datang ke Jepang untuk menyelamatkan Jinyoung?” Nana hanya menggeleng.

”Kalau gitu, sebaiknya jangan. Aku juga cukup mengenal Nichkun dan wataknya. Bukannya membantu, ia bisa ngamuk dan yang ada, kita yang diocehin.”

”Trus aku musti gimana, Sandeul?”

”Nana, kamu percaya aku deh. Kita berdua pasti bisa nemuin suatu cara untuk membebaskan Jinyoung dari situ. Ok? Kita bisa bekerjasama dengan Gongchan. Aku yakin Chan pasti akan membela kita karena walaupun wataknya kasar, tapi dia sayang banget sama hyung nya dan dia gak akan ngebiarin orang tuanya nyakitin Jinyoung. Chan bisa memberikan kita kode-kode.”

”Kamu yakin dia mau membantu kita?”

”Iya. Aku yakin 100% Chan akan membantu kita.”

”Tapi tadi kok dia gak keluar untuk membantu kita supaya kita gak diusir secara paksa?”

”Ya gak bisa gitu juga dong. Itu namanya Gongchan cari mati. Ia bisa dikurung lagi seperti Jinyoung dan kita berarti harus mulai dari nol lagi. Chan memang akan membantu kita tapi dari belakang dan sembunyi-sembunyi supaya orang tuanya gak tahu.”

”Semoga begitu. Sandeul, kau coba dulu telepon Gongchan. Kalo dia gak mau kan, kita bisa memikirkan cara lain.”

”Ku coba ya.” Sandeul mengeluarkan handphone dari saku celananya dan menempelkannya di telinga.

”Hallo Chan, ini aku Sandeul..”

”Sandeul hyung? Tadi kau sudah ketemu Jinyoung hyung ya?”

”Heh? Kamu tahu darimana aku ketemu dengan Jinyoung?”

”Suzy sudah cerita padaku katanya kau akan datang ke Jepang dan mau menolong Jinyoung hyung. Kau meninggalkan surat untuknya kan?”

”Oh, Suzy rupanya. Iya. Aku memang tadi datang untuk menemui Jinyoung tapi gagal, yang ada aku malahan diusir dari rumahmu. Ternyata orang tuamu tetap gak berubah ya?”

”Mereka banyak berubah kok.”

”Masa? Bukannya mereka sama aja? Tetap kejam?”

”Iya. Mereka memang berubah menjadi semakin keji dan tidak berkeprimanusiaan.” Gongchan memberikan penekanan pada kalimatnya.

”Oh, kalo itu sih pasti.”

”Sandeul hyung, kau datang tidak sendiri kan? Bersama Nana noona?”

”Ya, aku memang datang bersama Nana. Kau tahu?”

”Jinyoung hyung sudah siuman. Dia cerita sama aku.”

”Jinyoung sudah siuman? Syukurlah. Chan, bagaimana kondisi Jinyoung?” Sandeul bisa melihat senyuman Nana saat mendengar bahwa Jinyoung sudah siuman.

”Hyung hanya kelaparan dan maag nya kambuh. Dia hanya butuh istirahat supaya kepalanya tidak pusing lagi. Aku akan menjaganya terus.”

”Chan, kamu mau bantu kita kan?”

”Bantu apa?”

”Bantu kita mengeluarkan Jinyoung dari situ. Kita gak mau melihat Jinyoung menderita lagi.”

”Pasti. Aku pasti akan membantu kalian semampuku. Aku kasihan melihat hyung. Tapi syukurlah hyung sudah bertemu dengan Nana sehingga sebagian kekuatan hyung sudah pulih lagi.”

”Terima kasih ya, Chan. Chan, tolong jaga Jinyoung ya. Jangan lupa kasih aku kabar terbaru kalau ada perubahan sedikit saja.”

”Pasti. Sandeul hyung, gumawoyo. Sampaikan juga rasa terima kasihku kepada Nana noona.”

”Iya. Pasti aku sampaikan. Konbanwa (Selamat malam).”

”Konbanwa… Arigatoo…” Sandeul menutup kembali handphonenya dan memasukkan ke sakunya.

”Beres. Gongchan mau membantu kita.”

”Syukurlah kalau begitu…Padahal masih banyak yang ingin aku bicarakan dengan Jinyoung.”

”Sudahlah. Kalau kita sudah berhasil membebaskannya, kamu bisa berbicara dengannya sepuasnya sampai gak tidur seharian juga boleh..”

”Oh iya, kita belom menemukan tempat penginapan. Kita mau tidur dimana nih? Jangan bilang di kolong jembatan karena kamu gak punya uang? Aku makan nambah aja, kamu udah kelabakan begitu.”

”Uangnya musti disimpen dong. Kalo kamu nambah sampai 10 mangkuk, kita baru benar-benar bisa tidur di stasiun kereta api.”

”Jadi kita mau kemana?”

”Jalan aja dulu. Sambil jalan, kita sambil cari-cari penginapan murah. Kita disini juga cuman beberapa hari. Setelah urusan selesai, kita juga akan pergi meninggalkan Tokyo. Sudah, ayo jalan. Aku bayar makanan dulu. Gara-gara kamu nih, aku jadi tekor.”

”Dasar gak ihlas.”

                                                      ***

”Sandeul, kita mau jalan kemana lagi nih? Kaki ku udah pegel banget nih. Duduk sebentar yuk.”

”Haduh, jadi cewek kok males banget sih..”

”Ih.. Stamina ku kan gak sekuat kamu.”

”Ah, payah. Kalo begini aja dah cape, gimana kamu bisa melawan Minhwan dan Minyoung.”

”Melawan mereka kan gak perlu pake otot, Sandeul…”

”Pake. Otot suara kamu. Soalnya kamu bisa perang mulut sama mereka. Lagian lumayan lah, anggap aja kamu lagi olah raga buat nurunin lemak sehabis makan shabu-shabu 5 mangkuk biar gak numpuk di perut jadinya melar dan kayak balon.”

”Kok nyumpahin sih?”

”Haduh, cerewet amat sih nona yang satu ini. Waktu pertama kali aku ketemu kamu di Clos Maggiore, aku kira kamu tuh anaknya pendiam. Taunya bawel nya setengah mati. Kok Jinyoung tahan sih jadian sama kamu?”

”Sembarangan ! Aku gak bawel kok. Aku cuman capek doang.”

”Sama aja. Ayo jalan. Daritadi aku belum ketemu tempat yang enak. Sekalinya enak pasti mahal.”

”Ya iyalah. Kalo tempat enak pasti mahal. Kalo enak murah, bisa bangkrut tuh tempat. Sandeul, udah malam nih. Kita cari apa adanya ada deh. Aku gak sanggup jalan lagi nih. Lagian salah kamu, tau mau pergi kenapa gak bawa duit banyak?”

”Sebagian aku tinggal di London untuk adikku. Kasihan dia.”

”Kasihan? Sekarang nasib kita tuh lebih kasihan. Luntang lantung di jalan gak jelas mau kemana. Kamu kan tau kita akan berkelana jauh.”

”Bisa gak sih jangan protes mulu? Kamu juga salah. Tau mau bepergian juga gak bawa duit sama sekali. Habis dari Singapore bukannya minta uang ama eomma mu. Kan ini semua ide gilamu untuk nyusul Jinyoung. Harusnya kamu tau dong konsekuensinya dari awal. Kenapa kamu gak sekalian minta uang juga ama Victoria.”

”Aku mana enak minta uang ama Victoria. Aku udah terlalu banyak menyulitkan dia. Ama eomma ku juga. Dia baru sembuh dari sakit tanpa membawa harta benda apapun, masa aku harus minta duitnya juga. Duitku sudah habis lah.”

”Makanya jangan boros. Masa aku harus menjamin kamu? Kamu kan pacarnya Jinyoung bukan pacarnya aku. Kenapa jadi aku yang disusahkan untuk masalah kalian berdua?” Nana menghentikan langkahnya.

”Jadi kamu keberatan membantuku dan Jinyoung? Kalau begitu, kenapa kamu setuju untuk menemaniku ke Jepang?”

”Bukannya keberatan. Aku melakukan ini demi persahabatanku sama Jinyoung. Tapi dalam kondisi keuangan yang seperti ini, aku juga bingung harus ngapain.”

”Jadi kamu menyalahkanku?”

”Nana, aku gak menyalahkanmu. Asal kau berhenti cerewet lagi. Okay? Ayo, lanjut jalan.” namun Nana tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.

”Kenapa? Ngambek? Kamu tuh banyak maunya ya. Aku heran kenapa Jinyoung bisa tertarik sama kamu.”

”Apa maksud kamu?”

”Maaf. Aku gak bermaksud buat nyinggung kamu. Sudahlah, jangan dipikirkan. Tadi aku cuman lagi emosi doang. Ayo, kita cari tempat lain. Kita coba kesitu yuk. Itu ada penginapan. Siapa tau harganya terjangkau.” tanpa menunggu jawaban Nana, Sandeul langsung merangkul Nana menuju sebuah penginapan.

                                           TO BE CONTINUED

10월 28, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: