liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 7)

Title:                        My True Love (Part 7)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6

London, 30 Desember 2009

”Vic… Victoria !!!” Victoria keluar dari arah dapur dengan tergopoh-gopoh.

”Ada apa sih? Pulang-pulang kok, kamu udah marah-marah gitu sama aku?”

”Nana ke Jepang kan? Kamu tau masalah ini?”

”Jadi, kamu sudah tau?”

”Vic, kamu sudah tau masalah ini tapi gak menceritakannya sama aku?”

”Maaf Nichkun, aku hanya ingin membantu Nana.”

”Tapi bukan begini caranya, Vic. Ini malah akan memperkeruh keadaan.”

”Nichkun, kamu tau darimana kalau Nana pergi ke Jepang?”

”Minhwan menelponku.”

”Apa? Pria itu masih berani menelponmu? Dia bilang apa saja sama kamu?”

”Dia hanya bilang Nana dan Sandeul nekat datang ke rumahnya. Nana juga bilang ia kenalanku makanya Minhwan mempertemukan Jinyoung dengannya. Kenapa sih anak itu susah dibilangin? Selalu saja bertindak tanpa dipikir dahulu. Kan aku yang repot. Kamu juga, Vic. Kenapa kamu tidak memberitahuku masalah segenting ini? Aku kira Nana ada di Singapore bersama eomma nya. Tak tahunya ia malahan kabur ke Jepang.”

”Mianhae. Aku yang memberitahukan semua ini padanya. Aku juga yang mempersiapkan tiketnya ke Jepang.”

”Sudahlah. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah membawa Nana pergi dari Jepang dengan atau tanpa Jinyoung.”

”Aku rasa Nana tidak mungkin mau.”

”Aku akan mengusahakannya. Ini demi keselamatannya juga. Vic, pesan tiket ke Jepang. Aku akan menyusulnya.”

”Hah? Kau juga akan pergi kesana?”

”Ya, aku harus kesana. Aku tahu seperti apa keluarganya Jinyoung itu. Aku memang memperkenalkan Nana dengan Jinyoung tapi aku tak berharap mereka akan saling memiliki perasaan seperti ini. Akhirnya, malahan jadi kacau balau begini.”

”Baik, aku akan mengurus tiket menuju Jepang.” Victoria kembali masuk ke kamar meninggalkan Nichkun yang masih kebingungan.

                                                         ***

Tokyo, 31 Desember 2009

Sumimasen (Permisi).” teriak Sandeul. Seorang pria berusia sekitar 25an keluar dari dalam  ryoukou (Penginapan ala jepang).

Que puis-je faire pour vous (Ada yang bisa saya bantu).”

“Mampus gue… Orang Perancis.. Yang jago bahasa Perancis kan Jinyoung.. Gimana nih ngomongnya…”

Can you speak English?” tanya Nana.

Vouis qui (Kalian siapa)?”

“Bentar Sandeul. Handphone ku bisa buka kamus Perancis kok..” Nana buru-buru mengutak atik handphonenya dan pria tersebut hanya menunggu dan menatapnya dengan tatapan bingung.

Pouvez-vous parler anglais ou en japonais (Dapatkah kamu berbicara bahasa Inggris atau bahasa Jepang)?”

Je ne peux pas. Je suis venu de France.”

”Apa katanya?”

”Bentar. Aku cari kamus dulu. Oh dia bilang. Dia gak bisa ngomong Inggris ataupun Jepang. Dia ini turis dari Perancis.”

Si vous etes le proprietaire de cette auberge (Apakah kamu pemilik penginapan ini)?”

Non plus. J’ai aussi dormi ici.” Nana kembali mencari di kamus sebelum akhirnya menghela napas.

”Cape deh. Ternyata dia juga nginep disini. Dia bukan pemiliknya.”

Lorsque le proprietaire est (Kemana pemilik penginapan ini)?”

Ll etait en voyage a l’etranger. On m’a donne la responsabilite de prendre soin de cette auberge.”

”Mampus, panjang amat. Bentar ya.. Oh, artinya pemiliknya lagi ke luar negeri jadi dia yang dikasih tanggung jawab buat ngurusin penginapan ini.”

”Nana, tanya harganya..”

”Bentar ya… Aku nyari dulu… Combien coute une chambre (Harga satu kamar berapa)?

Un jour 2000 yen (satu hari 2000 yen)”

”2000 yen. Gimana? Duit kamu cukup gak?”

”Masih cukup sih untuk menginap beberapa hari.”

Nous ordre deux chambres oui (Kami pesan 2 kamar, ya).”

Desole, mais le reste de la piece il n’y avait qu’un (Maaf, tapi sisa kamarnya tinggal satu).”

”Sandeul, tinggal satu doang kamarnya.”

”Haduh, gimana nih. Masalahnya ini penginapan yang paling murah. Yang lainnya tuh udah diatas 3000 Yen semua.”

”Ya sudah. Kita sekamar berdua, asalkan kau jangan macem-macem denganmu.”

”Siapa juga yang ingin macem-macem dengan cewek bawel seperti kamu ini.”

Beau. Nous nous reservons une chambre (Ya sudah. Kami pesan satu kamar).”

Si vous etes deja marie (Apakah kalian sudah menikah)?”

Pourtant. Mais nous vous promettons de ne pas agir bizarre. Nous tiendrons la distance. (Belum. Tapi kami janji tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Kami akan menjaga jarak).” ucap Nana sambil terus menatap kamus di handphonenya.

”Okay. Viens avec moi.”

”Ayo, Sandeul.” Ajak Nana.

”Ayo kemana?” tanya Sandeul bingung.

”Oh, jadi kau mau kita tidur disini? Dia udah nyuruh kita masuk.”

”Oh. Aku kan gak ngerti pembicaraan kalian.” Sandeul mulai mengakut kopernya.

”Awas ya kau macam-macam denganku. Kulaporkan  Jinyoung.”

”Siapa juga yang mau menyentuhmu, cewek galak, bawel, cerewet.” Sandeul menjulurkan lidahnya. Mereka mengikuti langkah pria Perancis itu.

Semoga hari esok akan lebih baik lagi dan aku bisa nemuin jalan untuk menyelamatkan Jinyoung, batin Nana sambil terus berjalan. Seulas senyum tersungging di wajahnya.

                                                       ***

Akhirnya orang Perancis itu membawa Nana dan Sandeul menuju sebuah kamar yang terletak di pojokan. Ukuran kamarnya memang tidak begitu besar dan tak aja ranjangnya. Mereka hanya disediakan sebuah lemari pakaian dan kasur lipat. Sungguh penginapan ala Jepang yang sangat sederhana.

S’il arrive quelque chose, appelez-moi. Sur le dos, il ya aussi un bain d’eau chaude (Kalau terjadi apa-apa, panggil aku. Di belakang juga ada tempat pemandian air panas).” Orang Perancis itu langsung meninggalkan mereka yang masih terbengong-bengong.

”Apa katanya?” tanya Sandeul.

”Mana ku tahu. Sudah, kita bereskan ranjang dulu. Kamarnya hangat juga ya.”

”Jangan ngeres ya tuh pikiran.”

”Astaga. Kamu masih aja nyurigain aku.” Sandeul dan Nana mulai merapihkan kasur dan menatanya di lantai dengan jarak yang tidak lumayan jauh namun tetap saja diberi garis pembantas yaitu tas mereka. Sebab kamarnya saja sudah sempit. Lalu Nana juga menaruh baju-bajunya di lemari sedangkan Sandeul tetap menaruhnya di tas.

”Emang kamu mau berapa lama disini, Nana? Kok bajunya dimasukin lemari?”

”Ya, gak papa. Biar rapi aja.”

”Dasar wanita. Eh, aku mandi duluan ya.”

”Sandeul, dimana-mana ladies first dong. Aku dulu yang mandi. Aku udah bau keringat nih.”

”Nana, aku ini jauh lebih berkeringat dari kamu. Pokoknya aku duluan.”

”Dimana-mana cowok musti ngalah ama cewek. Itu baru namanya gentleman.”

”Pokoknya  aku duluan.” Sandeul buru-buru menyambar handuk dan berlari ke arah kamar mandi.

”Sandeul !!!” Nana gak mau ngalah. Ia mengejar Sandeul dan menarik baju Sandeul sehingga pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.

”Gak mau !!!” Sandeul tetap ngotot untuk mandi pertama.

”Aku duluan… Ladies first…” Nana tetap menarik baju Sandeul. Namun tetap saja,tenaga pria jauh lebih kuat daripada wanita. Biarpun ditahan oleh Nana, Sandeul masih tetap bisa merangkak dan akhirnya masuk ke kamar mandi.

”Ih… Nyebelin !!!” Nana menggedor-gedor pintu kamar mandi.

”Wanita itu kalau mandi lama…Kebanyakan ngaca. Aku mandi cuman bentar kok.” sahut Sandeul dari dalam kamar mandi. Sementara Nana kembali merapihkan bajunya ke dalam lemari dan menyiapkan baju-baju yang hendak ia kenakan.

”Shampoo gue ketinggalan di Singapore lagi.” gumam Nana.

”Sandeul, kamu punya shampoo gak? Shampoo aku ketinggalan.” teriak Nana namun Sandeul tak menggubrisnya.

”Sandeul?? Kamu gak pingsan kan di dalam?” Namun tetap tak ada jawaban. Nana jadi kuatir sendiri. Perlahan-lahan Nana mendekatkan telinganya ke pintu kamar mandi namun sunyi senyap. Sama sekali tak terdengar suara air. Nana mengetok-ngetok pintu. Tetap tak ada jawaban.

”Sandeul? Hello? Sandeul…” Akhirnya kesabaran Nana habis juga. Ia langsung mendobrak pintu kamar mandi dan alangkah terkejutnya ia melihat Sandeul yang sedang bertelanjang dada sedang tertidur di bathtub kamar mandi dengan mulut yang setengah terbuka…

”Aaaaaaa……” jerit Nana. Mau gak mau Sandeul membuka mata dan ia baru menyadari ketotolannya.

”Aaaaaa… Pengintip !!!” Sandeul balas teriak. Nana buru-buru keluar dari kamar mandi. Ia sudah bertekad bahwa ia hanya akan melihat tubuh suaminya yang sedang bertelanjang dada tapi ia sudah terlanjur melihat tubuh orang lain…

Jinyoung, mianhae…Gak sengaja, batin Nana.. 10 menit kemudian, Sandeul keluar dari kamar mandi dengan dibalut baju handuk.

”Sana mandi.” Sandeul melihat wajah Nana yang masih memerah.

”Punya shampoo gak?” Tanya Nana malu-malu.

”Ada. Aku tinggal di kamar mandi tuh. Pakai saja.”

”Sandeul, lain kali jangan tidur di kamar mandi dong….”

”Maaf, aku benar-benar lelah. Aku juga gak marah sama kamu kok. Sudah sana mandi. Aku mau pakai maju dulu. Kenapa? Kamu mau ngintip lagi?”

”Heh? Gak kok.” Nana buru-buru menggulung rambutnya ke atas dan Sandeul memperhatikannya sejenak lalu secepat kilat, Nana langsung ngacir ke kamar mandi. Mungkin saat ini mukanya sudah memerah seperti kepiting rebus.

Di sisi lain, Sandeul terduduk di kasur lipatnya dan kembali merenung.

Sayangnya Jinyoung adalah sahabat baikku, tapi kenapa aku gak bisa merubah perasaanku ini ya. Kalau seperti ini terus, lama-lama aku bisa jatuh cinta beneran sama dia. Tapi Nana juga belum saatnya mengetahui hal yang sebenarnya antara Nichkun, Minhwan, appa ku, Jinyoung dan juga aku. Aku masih belum mau membuka mulut. Masalahnya terlalu berat untuk diketahui Jinyoung dan Nana. Untung saja waktu itu aku menguping pembicaraan mereka. Kalau tidak, sampai matipun aku tidak akan mengetahui semua kejadian bodoh ini. Itu bisa mengganggu hubungan mereka juga, batin Sandeul..

”Hei…” Nana menepuk pundak Sandeul dan membuat Sandeul terlonjak kaget.

”Kau sudah selesai mandi? Kok cepat?”

”Ngapain mandi lama-lama? Memangnya kamu. Mandi aja bisa sampai ketiduran gitu.” Nana menahan tawanya dan membuat Sandeul tersenyum kecil.

”Kau sedang sakit ya? Tadi ketiduran di kamar mandi, sekarang malahan bengong.”

”Iya. Aku sedang tidak enak badan.” Tanpa diduga sebelumnya, Nana malah memegang jidat Sandeul.

”Iya. Badanmu agak sedikit panas. Oh iya, aku bawa obat penurun panas nih. Semoga bermanfaat.” Nana mengeluarkan sebuah kotak kecil yang isinya obat-obatan dan memberikan sebuah kapsul kepada Sandeul.

”Kamu bawa obat-obatannya lengkap juga ya.”

”Iya, kan buat cadangan. Aku ambilkan minum dulu ya.” Nana beranjak menuju sebuah meja kecil yang terletak di sudut kamar. Tadi pada waktu Sandeul mandi, Ia menaruh beberapa botol aqua disana.

”Nih minum.” Nana menyodorkan botol aqua dan langsung diterima oleh Sandeul.

”Gumawo.” Sandeul meminum obat yang diberikan Nana.

”Ya sudah, sekarang istirahat dulu ya. Besok perjalanan kita masih panjang untuk membebaskan Jinyoung.” Nana merangkak menuju kasur lipatnya dan langsung menggelung dirinya ke dalam selimut.

Oyasuminasai..”

Oyasumi.” Sandeul masih butuh beberapa saat kemudian sebelum akhirnya tertidur.

                                                ***

 

London, 31 Desember 2009

 ”Vic, kamu sudah mempersiapkan semuanya kan?”

”Sudah.. Kamu yakin pada keputusanmu? Nichkun, ini terlalu beresiko.”

”Aku tau, Vic. Ini demi Nana dan Jinyoung. Aku harus bisa melawan Minhwan.”

”Dengan cara apa kamu mau melawan dia? Kita tak punya bukti apapun.”

”Aku yakin pasti bisa menemukan cara menjatuhkannya. Aku mengabdi dengannya hanya untuk menunggu saat-saat seperti ini.”

”Nichkun.. Jangan nekat.”

”Nana saja sudah nekat bertemu Minhwan. Masa aku harus takut?”

”Iya sih. Tapi kau….”

”Sudahlah, Vic. Percaya saja padaku.” Nichkun sudah mempersiapkan diri matang-matang untuk bertemu Minhwan. Ia merasa perlu untuk menyelesaikan masalahnya pada Minhwan sebelum Nana dan Jinyoung disakiti pria itu.

”Aku pergi dulu, Vic.”

”Hati-hati.”

                                                   ***

Tokyo, 1 Januari 2010

 ”Sandeul, bangun…” Nana mengguncang-guncangkan tubuh Sandeul. Perlahan-lahan Sandeul mulai membuka kelopak matanya yang masih sangat berat untuk dibuka.

”Sudah pagi ya?” tanya nya setengah mengantuk.

”Sudah.” Nana memegang kening Sandeul. ”Sudah tidak terlalu panas kok. Aku sih sudah berendam. Itu di belakang ada tempat pemandian air hangat.”

”Oh ada ya.” Sandeul yang dengan masih kondisi setengah sadar mulai berjalan menuju halaman belakang. Baru saja  Nana mulai merapihkan baju-baju kotornya, tiba-tiba Handphonenya berbunyi.

”Hallo, eon…”

”Hallo, Na.. Sekarang kamu ada dimana? Bagaimana perkembangan disana?”

”Belum ada kemajuan. Kemarin aku dan Sandeul diperlakukan tidak baik oleh keluarga mereka. Kami diusir. Padahal aku sangat mengkhawatirkan Jinyoung. Kondisinya sangat tidak terurus disana, eon. Aku harus secepatnya membawa Jinyoung pergi.”

”Nichkun menyusul kalian.”

”Apa??? Darimana dia tahu, eon?”

”Minhwan menelponnya. Dia berangkat kemarin. Gak tahu deh sudah tiba apa belum. Mungkin Nichkun akan mencari kalian dulu atau mungkin dia langsung menemui Minhwan.”

”Eon, ada yang sembunyikan lagi dariku? Ada masalah lain yang tidak aku ketahui?”

”Masih banyak. Terlalu rumit untuk dimengerti.”

”Ceritakan intinya saja padaku. Aku sudah curiga ada hubungan apa antara Minhwan dan Nichkun. Ceritakan padaku, siapa Nichkun sesungguhnya?”

”Nichkun sebetulnya adalah keponakan Minhwan dengan kata lain, dia adalah sepupu Jinyoung. Tapi bertahun-tahun yang lalu, terjadi pembantaian besar-besar dan orang tua Nichkun pun tewas. Setelah diketahui, ternyata Minhwan adalah orang yang merencanakan pembunuhan terhadap keluarga Nichkun. Awalnya Nichkun menganggap Minhwan adalah penyelamatnya karena Minhwan-lah yang telah menyekolahkan Nichkun. Tapi beberapa tahun setelah kejadian itu, Nichkun tanpa sengaja menguping pembicaraan Minhwan dengan appa nya Sandeul.”

”Orang tua Sandeul juga terlibat?”

”Ya… Minhwan bersekongkol juga dengan appa nya Sandeul untuk melakukan pembunuhan ini dengan diberi imbalan yakni jabatan yang tinggi pada appa nya Sandeul. Tepat pada saat itu, Nichkun pun mengetahui bahwa Minhwan adalah orang yang paling jahat yang ia kenal. Namun Nichkun berjanji bahwa ia akan menutup hal ini rapat-rapat. Biarlah Minhwan menganggap bahwa Nichkun adalah tanggung jawabnya dan masih menganggap Nichkun belum mengetahui hal ini dan masih mengabdi sebagai dokter pribadi keluarga mereka. Tapi Nichkun sudah bersumpah di makan orang tuanya bahwa ia akan membalas kematian mereka. Nichkun akan menghancurkan hidup Minhwan dan Minyoung. Namun Nichkun akan melindungi anak-anak mereka yang sama sekali belum mengetahui dosa orang tuanya.”

”Eon, lalu mengapa Minhwan terlihat begitu takut begitu aku menyebut nama Nichkun?”

”Entahlah. Aku tak begitu mengerti persoalan mereka. Mungkin saja sampai saat ini, Minhwan masih menganggap Nichkun sebagai tanggung jawabnya. Nichkun menyusulmu ke Tokyo dengan tujuan untuk melepaskan Jinyoung dan Gongchan juga untuk melindungimu dan Sandeul. Yang aku tahu, Nichkun masih pura-pura mematuhi perintah Minhwan dan Minyoung. Makanya Minyoung menelpon Nichkun dan menyuruh Jinyoung pulang. Nichkun melakukannya hanya untuk menutup-nutupi. Tapi sehabis itu, Nichkun bilang padaku bahwa ia bersumpah akan mengambil kembali Jinyoung kalau masalahnya dengan Minhwan sudah selesai. Itu hanya topeng agar Minyoung tidak curiga.”

”Ya, aku mengerti. Nichkun tidak dendam pada Sandeul? Kan appa nya sudah membunuh orang tua Nichkun?”

”Nichkun tidak mau menumpahkan kekesalannya pada orang tua mereka melalui anak-anaknya. Ia tahu bahwa pada saat pembantaian itu, Sandeul, Jinyoung dan Gongchan masih sangat kecil.”

”Padahal itu berarti appa Nichkun adalah kakak Minhwan ya? Tapi kok Minhwan malah tega membunuh kakaknya sendiri?”

”Demi uang dan jabatan, Na. Karena dulu jabatan appa Nichkun lebih tinggi daripada Minhwan. Kalau appa Nichkun meninggal, jabatan Emperor otomatis akan menurun ke Minhwan. Itulah yang ia inginkan. Lalu appa nya Sandeul akan mendapatkan jabatan sebagai Perdana Mentri yakni jabatan Minhwan sebelumnya. Nichkun sebenarnya sengaja menjauhkan Jinyoung dan Gongchan dari orang tuanya dan menyekolahkan mereka ke London dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari pengaruh buruk Minhwan dan perlakuan kasarnya. Dulu Gongchan paling sayang pada eomma nya sehingga Gongchan tidak mau dibawa ke London tapi Minyoung malah menyuruh Chan untuk melanjutkan pendidikannya. Kalau sudah menjadi orang sukses, Gongchan baru boleh kembali lagi ke rumah. Taunya Minyoung sekarang sama kejamnya dengan Minhwan.” Nana mendengarkan cerita Victoria tanpa berkedip. Ia menyimaknya dengan serius.

”Nichkun tahu bahwa Minhwan tidak akan segan-segan membunuh orang yang akan menghalangi jalannya. Jadi ia ingin membawa kalian pergi secepatnya dari Tokyo sebelum Minhwan bertindak terlalu jauh. Kamu jangan bertindak ceroboh ya, Nana. Hati-hati.”

”Iya. Terima kasih ya, eon.”

”Kamu maklum saja ya kalau selama ini kami menyembunyikannya. Nichkun ingin melupakan masa lalu itu.”

”Iya. Aku mengerti. Eon, sudah dulu ya. Aku harus siap-siap lagi. Sekali lagi, terima kasih ya.”

”Sama-sama.” Nana memutuskan sambungan telepon.

”Victoria sudah menceritakan semuanya padamu?” Sandeul muncul secara tiba-tiba dari balik pintu dan sudah mengenakan baju handuk dengan rambut setengah basah.

”Sandeul? Kamu membuatku kaget saja. Kamu sudah tau masalah ini?”

”Dari dulu. Aku tak sengaja menguping pembicaraan appa. Kalau Nichkun menguping pembicaraan Minhwan, aku menguping pembicaraan appa ku. Tapi dulu aku kan masih kecil banget jadi masih polos. Aku tak terlalu menanggapi pembicaraan itu. Tapi setelah aku mulai dewasa, aku kembali mendengar pembicaraan bahwa appa ku dipecat dari jabatan itu dan appa menjadi kesal lalu kembali mengungkit-ungkit masalah pembantaian itu. Aku sudah mulai mengerti masalah sebenarnya.”

”Lalu kamu kesal pada appa mu dan memutuskan untuk pergi ke London?” Nana membuat kesimpulan sendiri dan Sandeul menganggukan kepalanya.

”Jadi itu masalahnya kamu bisa berkelahi dengan appa mu?”

”Iya.. Aku menyesal punya appa seperti dia. Sama dengan Jinyoung yang menyesal memiliki appa seperti Minhwan. Aku menjadi sangat tidak enak pada Nichkun. Aku sengaja selama ini di London, aku tidak mencari Nichkun. Aku masih merasa bersalah. Lalu aku malahan bertemu Jinyoung di cafe Clos Maggiore. Tapi aku sama sekali belum menjumpai Nichkun. Aku sudah lupa bagaimana wajahnya sekarang. Aku tak ingat kapan terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku masih merasa malu dan bersalah.”

”Sudahlah Sandeul. Ini bukan kesalahanmu.”

”Nichkun sudah kuanggap hyung sendiri. Karena dulu ia selalu menemani aku dan Jinyoung kalau kami sedang bermain. Aku sungguh tak menyangka demi kekuasaan, appa ku rela melakukan hal seperti ini. Nana, tadi aku dengar Nichkun akan datang kesini kan?”

”Iya. Kenapa memangnya?”

”Aku benar-benar ingin meminta maaf padanya.”

”Iya. Nanti kalau kalian sudah bertemu, kalian bisa saling memaafkan. Sekarang kau pakai baju dulu ya. Sehabis itu, kita pergi lagi ke rumah Jinyoung.”

”Kau tidak ingin menunggu Nichkun?”

”Kita tunggu disana saja.”

”Oh. Ya sudah. Aku pakai baju dulu. Jangan ngintip lagi ya.”

”Ih.. Siapa juga yang mau ngintip. Amit-amit deh. Kemarin kan gak sengaja. Aku kira kamu pingsan.”

                                                   ***

”Sekarang kita mau masuk lewat mana lagi?” tanya Nana sesampainya di depan gerbang kediaman keluarga Jinyoung. Nana masih saja tetap ketakutan ditambah lagi ia sudah mendengar dari orang-orang bahwa Minhwan adalah orang yang kejam lebih daripada yang ia kira. Nyali Nana langsung menciut seketika.

”Apa lewat jalan tikus aja ya?”

”Jalan tikus?”

”Iya. Dulu waktu aku masih sering maen kesini, aku ama Jinyoung kan sering maen petak umpet. Nah, kita sering masuk ke dalam rumah melalui jalan pintas. Tapi aku gak tau tuh jalan masih ada apa gak. Biasanya sih tuh jalan langsung menghubungkan ke kamar Jinyoung.”

”Langsung ke kamar Jinyoung? Ayo Sandeul, kita lewat jalan tikus aja.”

”Aku gak tau jalan itu udah ditutup apa belum. Yuk ikut.” Sambil mengendap-endap, Nana membuntuti Sandeul memutari gerbang kediaman keluarga Jinyoung.

”Gila, panjang banget ya. Daritadi kaga nyampe-nyampe.”

”Kamar Jinyoung ada di lantai 2 di pojok.”

”Lantai 2? Emangnya jalan tikus nya tanjakan?”

”Bukan. Jalan tikusnya lewatin taman-taman trus nanti ada tangga di bagian belakang. Kita tinggal naekin tangga itu langsung masuk ke kamarnya Jinyoung lewat pintu belakang.”

”Gile. Ribet amat ya. Pusing.”

”Syukurlah. Jalan tikusnya masih belum ditutup..” ucap Sandeul saat mereka berdua tiba di sebuah taman kecil. Bahkan mereka pun harus merangkak untuk melewatinya dan di pinggir-pinggir jalan itu ada sebuah kawat berduri.

”Hati-hati ya. Nanti kamu bisa nancep di kawat ini.”

”Ini mah bukan jalan tikus, Sandeul. Ini jalan semut. Maenan kalian semasa kecil extreme juga ya..”

”Udah ah. Jangan cerewet. Ikutin jalan aja. Mau ketemu Jinyoung gak?” ancam Sandeul.

”Ya mau lah.”

”Ya sudah. Jalan.” Nana mulai mengambil ancang-ancang merangkak. Sandeul memulai merangkak duluan. Jalan tikusnya panjang bukan main. Butuh waktu 5 menit, mereka baru nyampe di sebuah taman belakang yang dipenuhi dengan bunga-bunga.

”Tuh tangganya.” Sandeul menunjuk sebuah tangga yang menghubungkan dengan lantai dua. ”Kalau gak bisa cara baik-baik, terlanjur pakai cara sembunyi-sembunyi deh.”

Jinyoung, sebentar lagi aku akan datang untuk membebaskanmu darisini, batin Nana.

Sandeul mulai menaiki anak tangga satu persatu dengan langkah yang sangat hati-hati.

”Jangan berisik ya jalannya.” bisik Sandeul pada Nana. Nana pun mulai memperpelan langkahnya supaya tidak menimbulkan bunyi. Saat ini mereka benar-benar persis dengan maling yang ingin mencuri.

”Nah, sampai juga.” ujar Sandeul lega. Sandeul mengetok-ngetok pintu kamar Jinyoung.

”Maen ngetok-ngetok aja. Kalau yang keluar bukan Jinyoung gimana? Bisa mampus kita.”

”Coba aja.” Benar saja. Tak berapa lama kemudian, seseorang melongokkan kepalanya dari balik tirai jendela.

”Gongchan.” ucap Nana riang setelah mengetahui bahwa yang menyambut mereka pertama kali adalah Gongchan bukannya bodyguard Minhwan yang laen.

”Sssttt… kecilkan volume suara.” Sandeul mencoba mengingatkan Nana yang sudah mulai lepas kontrol.

”Nana noona? Sandeul hyung?” Gongchan kembali menutup tirai jendela dan tak lama kemudian Nana mendengar suara kunci pintu dan pintupun terbuka.

”Kalian kenapa bisa kemari?”

”Kami lewat jalan tikus.” jawab Sandeul.

”Jinyoung mana?” Nana sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Jinyoung.

”Ada di kamar mandi.” ucap Gongchan sambil mempersilahkan Nana dan Sandeul duduk di ranjang Jinyoung.

”Mau minum apa?”

”Gak usah repot-repot, Chan. Nanti malah ketahuan orang lain.”

”Tunggu bentar ya. Aku kunci pintu dulu biar gak ada yang masuk. Sekarang aku ditugaskan untuk menjaga hyung. Kondisi Jinyoung hyung sih sudah membaik.” Setelah mengunci pintu, Gongchan kembali duduk di sofa. Tak berapa lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Jinyoung keluar dengan muka yang masih basah dan handuk di atas kepalanya. Sepertinya Jinyoung baru abis keramas. Jinyoung sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia malah menatap Nana dan Sandeul seperti baru melihat UFO.

”Jinyoung…” Nana bangkit berdiri namun Jinyoung tetap tidak bergeming. Jinyoung malah melontarkan pertanyaan yang membuat Nana sakit hati.

”Mau apa kalian kesini lagi?” tanya Jinyoung sambil memanglingkan wajah. Ia sama sekali tidak ingin melihat wajah Nana.

”Jinyoung, apa maksud kamu? Kamu gak senang melihat aku dan Sandeul datang kesini? Kami datang kesini untuk membebaskanmu.”

”Membebaskan? Aku tidak butuh bantuan kalian. Aku akan segera bertunangan dengan Jooyeon.”

”Apa maksudmu? Kenapa Jinyoung? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”

”Iya.. Aku tidak mencintaimu lagi. Sebab kamu adalah penghianat.”

”Penghianat? Apa maksudmu penghianat, Jinyoung? Aku salah apa sama kamu !”

”Sudahlah. Kau jangan belaga polos. Sekarang aku sudah tahu diri kamu yang sebenarnya. Kamu adalah ular bermuka dua. Aku menyesal bisa berkenalan sama kamu dan jatuh cinta padamu. Chan, usir mereka. Hyung tidak mau melihat muka mereka lagi.”

”Jinyoung !! Apa sih maksud kamu?? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan. Kemarin kamu baru bilang bahwa kamu mencintaiku dan tidak ingin menikah dengan orang lain selain aku. Sekarang kamu bilang kamu ingin bertunangan dengan Jooyeon ! Kamu sedang mempermainkanku ya?”

”Kamu yang mempermainkanku !! Mencintaimu adalah kesalahan terbesarku !!” bentak Jinyoung sehingga membuat air mata Nana semakin mengalir deras. Sandeul yang sudah mulai tidak tahan melihat Jinyoung terus memaki Nana ikut bangkit dan langsung memukul Jinyoung hingga Jinyoung tersungkur di lantai.

”Kita kesini dengan maksud baik pengen nolongin kamu dan ngebebasin kamu dari sini. Tapi sambutan kamu malahan seperti ini. Kita menyesal jauh-jauh datang ke Jepang dan rela bersusah-susah hanya untuk menolong orang yang tidak tahu terima kasih seperti kau ini. Ayo Nana, kita pergi dari sini. Kita hanya akan membuang-buang waktu untuk berbicara dengan orang macam dia ini. Lakukanlah sesukamu.” Sandeul menuntun Nana menjauh dari Jinyoung. Jinyoung pun memperhatikan adegan tersebut.

”Tunggu !” panggil Jinyoung dan berhasil menghentikan langkah kaki Sandeul dan Nana.

”Ada apa lagi?” Sandeul menoleh ke arah Jinyoung namun Nana yang masih syok mendengar penuturan Jinyoung hanya menunduk dan diam terpaku. Ia sudah kehabisan kata-kata lagi. Bukannya menjawab, Jinyoung malah berjalan ke arah meja belajar nya dan mengambil sebuah amplop coklat.. Jinyoung langsung memberikannya ke Sandeul.

”Apaan nih?” selidik Sandeul.

”Lihat aja sendiri.” Jinyoung tetap cuek dan melipat kedua tangannya di dada menunggu reaksi mereka. Perlahan-lahan Sandeul mengeluarkan satu per satu isi dari dalam amplop dan ternyata isinya adalah foto.

”Dari mana kamu dapat semua foto-foto ini?” Sandeul melempar foto-foto itu ke lantai.

”Kok marah? Kalau marah, berarti semua foto-foto itu bener kan? Bukan hasil rekayasa.”

”Aku nanya darimana kamu dapat foto-foto sialan ini !!! Jinyoung, ini semua salah paham. Ini cuman hasil rekayasa doang. Aku emang menginap satu kamar dengan Nana tapi kita tidak pernah melakukan hal hina seperti ini.”

”Jadi, kamu emang tidur ama Nana?”

”Bukan tidur Jinyoung !!! Cuman satu kamar. Kami aja tidur dibatasi koper. Jinyoung, aku ini teman kecil kamu. Mana mungkin aku berbuat seperti itu sama kamu.”

”Jadi ini rekayasa? Yakin?” tanya Jinyoung curiga.

”Aku berani bersumpah demi apapun, Jinyoung. Ini rekayasa. Kami sudah tidak tahu harus kemana lagi. Penginapan nya mahal semua. Hanya penginapan ini yang paling murah tapi sisanya tinggal satu kamar. Dan udah tengah malam. Jadi kita tidak mungkin mencari tempat lain lagi. Nana juga udah capek banget. Kami terpaksa tidur satu kamar. Tapi kami tidak melakukan hal-hal seperti foto-foto itu. Aku tidak mungkin setega itu menghianatimu.”

”Sumpah?”

”Iya… Aku bersumpah demi apapun.” Jinyoung memperhatikan Nana yang masih tak bergeming di tempatnya. Mungkin Nana pun tak menyimak perdebatan Jinyoung dan Sandeul. Jinyoung pun mulai menghampiri Nana dan Sandeul melepaskan tangannya dari tangan Nana dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Jinyoung semakin berjalan mendekati Nana dan langsung memeluk pinggang Nana dari belakang.

”Maaf ya.. Lagi-lagi aku salah paham.” Jinyoung berbisik di telinga Nana.

”Jinyoung, kamu dapat foto-foto ini darimana?” tanya Sandeul lagi. Ia masih belum puas karena pertanyaannya belum dijawab juga.

”Dari eomma.”

”Ya ampun, Jinyoung. Kamu masih aja percaya ama eomma mu? Kamu sendiri kan tau gimana Minyoung itu. Kamu kok masih aja sih mempercayai ucapannya dan seenaknya aja bilang kamu mau bertunangan dengan Jooyeon?”

”Waktu itu aku lagi kalut banget. Buat mikir aja aku udah susah. Jadi aku percaya aja deh ucapan Minyoung. Untung kalian datang dan menjelaskannya ama aku. Kalau gak, mungkin aku sudah bertunangan dengan Jooyeon kali ya.”

”Kamu memang rencananya kapan mau ditunangkan dengan Jooyeon?”

”Seminggu lagi. Tapi aku mau kabur.”

”Aku setuju.”

”Nana, jangan marah lagi ya. Aku tadi bener-bener gak sadar kalau aku udah terlalu kasar sama kamu. Aku gak mau kalau sampai foto-foto itu bukan hasil rekayasa tapi foto kalian beneran.” Jinyoung mencium pipi Nana.

”Hyung, kalau mau kabur mending cepetan deh. Nanti eomma dan appa keburu tau. Aku bantu packing ya.” ucap Gongchan sambil membuka lemari pakaian Jinyoung.

”Chan, kamu gak ikut kabur?”

”Gak. Yang penting hyung kabur saja bersama mereka.”

”Andwae! Aku gak mungkin tega ninggalin kamu disini. Kamu harus ikut hyung ya.”

”Tapi pakaianku ada di kamarku semua.”

”Itu masalah gampang. Kamu bisa pakai bajuku. Yang penting kita kabur dulu darisini.”

”Baiklah.” Gongchan dan Jinyoung kambali sibuk memasukan baju-baju ke dalam tas. Sementara Sandeul berjaga di luar kalau-kalau ada bodyguard Minhwan.

”Sudah belum?” tanya Sandeul.

”Sudah kok. Ayo jalan.”

”Nana, makasih ya..”

”Untuk apa?” Nana menatap Jinyoung dengan tatapan bingung.

”Kamu udah ngasih aku keberanian. Awalnya aku takut banget menghadapi ini semua. Berkat kamu, aku jadi sedikit berani. Tau begini, aku ikut kamu aja deh ke Singapore. Tapi aku takut Minhwan akan nyakitin kamu makanya aku nurut pulang ke Jepang. Kalau tahu kamunya pemberani gini, aku mah gak takut deh menghadapi mereka.”

”Iya. Aku mengerti, Jinyoung. Aku sayang kamu. Aku gak mau kehilangan kamu.” Nana memeluk Jinyoung.

”Palli. Masih belum aman. Pelukannya nanti aja kalau kita udah pergi jauh.” Sandeul mulai tidak sabar.

”Mau kemanapun juga percuma. Kalau Minhwan tahu kita kabur, ia pasti akan mencari kita ke ujung dunia pun.”

”Intinya, kita harus menghadapinya juga kan?”

”Iya. Minhwan itu kalau kita pakai cara keras pasti akan dibalas dengan cara keras juga.”

”Tapi kalau cara lembut, kita yang dimaki dan diusir. Minhwan tuh gak bisa dibaikin.” Sandeul mulai emosi.

”Sudahlah. Ayo pergi lewat jalan tikus lagi.”

Mereka kembali merangkak melewati jalan kecil berkawat itu lagi.

”Jadi inget waktu masih kecil ya, Sandeul. Kita main petak umpet pasti selalu melewati jalan ini.” kenang Jinyoung.

”Iya. Masih untung kita gak nyangkut di kawat.” Namun kali ini beban mereka bertambah karena tas-tas milik Jinyoung sehingga mereka mengalami sedikit kesulitan merangkak. Setelah bersusah-susah, akhirnya mereka pun tiba di pintu keluar. Saking senangnya, Nana langsung memeluk Jinyoung tanpa mempedulikan tatapan Gongchan dan Sandeul.

”Kita masih belum bisa bersenang-senang dulu. Ayo jalan.” ucap Gongchan cuek.

”Mau jalan kemana?”

”Kemana aja. Yang penting jauh-jauh darisini.” Mereka pun kembali melakukan perjalanan berempat. Mereka jalan mengikuti arus. Masih tak jelas arahnya mau kemana.

”Ke Tokyo Tower yuk..” usul Nana tiba-tiba.

“Tokyo Tower kanmasih jauh, Nana?”

“Gak papa. Sekalian jalan-jalan dan cari penginapan. Kalau ada penginapan yang bagus dan murah, aku dan Sandeul akan membereskan barang-barang kami di penginapan lama.”

”Jinyoung, bawa duit lebih gak?” tanya Sandeul.

”Bawa. Kenapa emangnya?”

”Ini, calon istri kamu rewel banget dari kemarin. Ampe pusing nih kepala dengerin bacotnya.. Kok kamu betah ya di deket dia terus? Gak budeg tuh kuping?”

”Sembarangan aja nih kalo ngomong.”

”Padahal dia sendiri gak bawa duit, tapi ngabisin duit orang.”

”Sandeul !!!” Nana mulai jengkel..

”Sudah, sudah, aku bawa duit kok.”

”Jinyoung baik. Tidak perhitungan sepertimu.”

”Jelas saja dia baik. Dia kan pacarmu.” Sementara itu, Nana hanya manyun saja karena Sandeul terus memojokkan dan membeberkan semua keburukannya di depan Jinyoung. Namun Jinyoung tak sedetikpun melepaskan rangkulannya di pinggang Nana. Ia sudah sangat merindukan gadis ini. Ia tak ingin melepaskan Nana lagi apapun yang terjadi. Walaupun ia harus melawan orang tuanya sendiri.

                                                   ***

What?? They run away?”

Yes. They’re not in the room.”

Chan? Did he run away too?”

Yeah. But he didn’t bring his clothes. But Jinyoung’s wardrobe is empty.”

This children want to against me again. Sayoko, find and bring them alive or dead…” tegas Minyoung.

Yes madam.” Sayoko pergi meninggalkan ruang tamu dan mulai mengerahkan beberapa bodyguard untuk mengejar mereka.

“Mereka sungguh kurang ajar.”

“Jika mereka kembali, akan kubunuh mereka.” Geram Minhwan.

“Mereka tidak akan pergi jauh-jauh.” Desah Minyoung.

                                                   ***

“Wow, keren….” Nana tak henti-hentinya mengagumi keindahan Tokyo Tower.

“Iya. Kalau malam hari lebih kelihatan lagi kerennya. Tapi Tokyo Tower masih kalah jauh jika dibandingkan Eiffel.”

”Iya. Eh, mau beli makanan gak?” tanya Sandeul tiba-tiba.

”Ada makanan apa memangnya?”

”Gak tau juga sih. Tapi banyak pertokoan kan disana.”

”Cari makanannya nanti saja. Abis ini kita ke Shibuya dulu. Disana juga banyak makanan enak.”

”Hei, daripada kita ke Shibuya lebih baik kita mencari penginapan. Kalau sudah semakin malam, akan lebih sulit lagi mencari penginapannya.”

”Di Shibuya bukankah banyak tempat-tempat penginapan?”

”Aduh Jinyoung. Aku tahu kau memang membawa uang. Tapi di kondisi seperti ini sebaiknya kau sedikit berhemat. Penginapan di Shibuya itu kan mahal.”

”Bagaimana kalau di Ueno atau Asakusa saja? Disana kan banyak penginapan murah.”

”Jadi mau kesana dulu?”

”Iya. Kalau ada waktu, kita baru ke Shibuya.”

”Ingat. Kita bukan sedang liburan. Kita ini sudah seperti buronan Minhwan. Kita harus segera meninggalkan negara ini. Kita tidak punya banyak waktu.”

”Baiklah. Kita hanya akan menghabiskan malam ini doang di Jepang. Besok pagi kita langsung pergi dan meninggalkan Jepang.”

”Oh iya. Aku belum tahu bagaimana keadaan Nichkun.” tiba-tiba Nana menepuk dahinya sendiri.

”Nichkun? Memangnya dia kenapa?”

”Dia menyusul kesini untuk menyelamatkan kita juga.”

”Kau tidak coba menghubunginya?”

”Belum sempat. Tunggu sebentar ya. Aku coba hubungi Nichkun dulu.”

”Tunggu !” ucap Gongchan tiba-tiba dan kontan membuat mereka semua syok.

”Ada apa Chan?” Namun posisi Gongchan sangat tidak lazim. Ia memasang kuda-kuda seperti bersiap untuk kabur. Matanya juga memancarkan kesiagaan.

”Kau membuat ku kaget saja.” Sandeul mengusap-usap dadanya.

”Ada yang mengikuti. Aku bisa merasakan firasat itu.” ucapan Gongchan kontan membuat Jinyoung, Nana dan Sandeul saling berpandangan dan tubuh mereka menegang.

”Aku hitung sampai tiga ya. Lalu kita semua lari berpencar. Jinyoung dengan Nana. Sebab Nana pasti belum tahu jalan disini. Aku dan Sandeul. Kita berpencar ke 3 distrik biar mereka semua terkecoh. Jangan sampai kehilangan komunikasi ya. Kita bertemu di Harajuku ya, distrik Shibuya.” Gongchan semakin mengambil ancang-ancang untuk kabur.

”Satu…. Dua… Tiga… GO !!!” seperti angin, mereka langsung berhembus ke tiga arah. Barat, Timur dan Selatan. Jinyoung langsung menggandeng tangan Nana dan berlari. Begitu juga dengan Gongchan dan Sandeul yang langsung melesat bagai kuda ke arah lainnya. Mereka menggenggam handphone masing-masing. Sementara bodyguard Minhwan pun langsung membagi menjadi beberapa team. Masing-masing team terdiri dari 3 orang dan melakukan pengejaran. Jinyoung dan Gongchan lah yang paling berat sebab mereka harus membawa masing-masing satu tas yang cukup berat. Namun Gongchan tetaplah yang paling lincah dan paling gampang mencari tempat persembunyian. Ia juga selalu memiliki akal untuk mengerjai para bodyguard nya. Gongchan selalu mencari tempat persembunyian yang sulit ditebak seperti tempat sampah, bersembunyi di tempat-tempat kecil atau masuk ke pusat-pusat perbelanjaan dan ikut berkerumun diantara orang-orang dengan memakai alat penyamaran berupa kacamata ataupun topi. Sehingga…

We lost him..” ujar para penjaga yang mengejar Gongchan.

Sementara Sandeul, kelincahannya membuat ia sampai duluan di Harajuku dan ia sengaja masuk ke tempat rental costum-costum aneh yang biasa disebut dengan Cosplay lalu mengenakannya dengan muka yang sengaja dibuat seperti kucing garong sehingga tidak ada yang mengenalinya.

We also lost his guy.” ucap para penjaga yang mengejar Sandeul.

You’re stupid !!!” maki Minhwan yang mulai terlihat geram. Sementara Minyoung berusaha menenangkan suami nya agar penyakit suaminya tidak kambuh lagi.

Tapi Jinyoung dan nana tidak seberuntung Sandeul dan Gongchan. Mereka terjepit. Para bodyguardnya mengejar mereka dengan menggunakan motor sehingga mereka dapat dengan mudah dikejar dan saat ini mereka ada di posisi sulit. Motor-motor itu tiba-tiba datang dan menghalangi jalan Jinyoung. Sementara Nana masih terlihat ketakutan dan ia hanya berani mengintip dari balik bahu Jinyoung.

”Tetaplah di belakangku.” ucap Jinyoung lirih.

Boochama, go back to home please.” Ucap salah satu bodyguard mereka sambil turun dari motor.

Go away. I never go back.”

Di luar dugaan, bodyguard Jinyoung langsung maju menyerang Jinyoung dan membuat Jinyoung menghindar. Jinyoung sengaja mendorong Nana ke samping hingga Nana jatuh di rumput. Nana baru mengetahui bahwa Jinyoung jago berkelahi juga dan sangat gesit. Setiap tendangan yang dilancarkan bodyguardnya berhasil dihindari Jinyoung dengan sangat mulus. Tak ada satupun tendangan yang berhasil mengenainya. Bahkan Jinyoung sempat menendang perut salah satu bodyguardnya hingga mundur beberapa langkah.

”Jinyoung !!!” Jinyoung terpaksa menoleh karena suara itu bersumber dari Nana dan kesempatan itu dimanfaatkan bodyguard nya untuk menendang pipi Jinyoung hingga Jinyoung terjungkal ke belakang dan menabrak tiang. Darah segar langsung mengalir dari pelipis dan mulutnya. Bodyguard itu kembali menghampiri Jinyoung dan berkata :

Go back.” ucapnya santai namun dengan tatapan dingin.

Never.” Jinyoung mengalihkan pandangan ke Nana. Ternyata bodyguard lainnya sedang mengarahkan pistol tepat di dahi Nana. Jinyoung semakin geram dan mengepalkan tangannya.

Don’t touch her !!!” bentaknya. Jinyoung langsung menerjang bodyguardnya dan berlari menghampiri Nana. Sementara bodyguard yang sedari tadi menodongkan pistolnya ke Nana sudah mulai menghitung mundur dan siap menembakan peluru nya ke Nana. Nana hanya bisa memejamkan mata menerima nasib terburuk yang akan ia terima.

NO !!!” teriak Jinyoung.

DOOOR !!! terdengar bunyi tembakan. Jinyoung langsung berhenti berlari dan mematung di tempat. Namun Nana tak merasakan sakit sedikitpun. Jinyoung pun bingung mengapa darah yang mengalir bukan dari mulut Brenda melainkan darah mengalir dari mulut bodyguardnya. Perlahan-lahan Nana memberanikan diri membuka matanya dan ia langsung melihat orang yang tadi menodongnya tumbang dengan tubuh bersimbah darah. Sebutir peluru tepat mengenai punggungnya. Nana dan Jinyoung langsung mengetahui siapakah yang menembak begitu tubuh bodyguard nya tumbang.

”NICHKUN !!!” seru Nana dan Jinyoung bersamaan. Nana langsung berlari dan memeluk Nichkun. Nichkun balik memeluknya dan menatap tajam ke arah bodyguard lainnya sambil menodongkan pistolnya.

Go away !! Tell Minhwan, don’t disturb them anymore or i will ruin his life.” Ucapan Nichkun langsung membuat para bodyguard nya kocar-kacir dan langsung pergi menggunakan motor mereka.

”Nana, kamu itu jadi anak bisa nurutin kata-kata orang yang lebih tua gak sih? Kamu itu bener-bener keras kepala banget ya. Aku udah bilang ini tuh bahaya dan resiko nya terlalu besar kalau kamu berhadapan dengan Minhwan. Dia bukan manusia.” ceramah Nichkun.

”Maaf. Aku hanya kuatir pada Jinyoung.”

”Tapi tetap saja ini terlalu beresiko. Kamu harusnya percaya pada Jinyoung.”

”Hyung, sudahlah. Ini semua salahku.” Jinyoung tiba-tiba muncul dari belakang dan langsung merangkul Nana.

”Bukan. Ini salahku. Seharusnya aku tidak memberitahu bahwa waktu itu Minyoung menelpon. Aku tak menyangka sekarang Minyoung sudah sama kejamnya dengan Minhwan. Sekarang aku tidak akan takut lagi. Jinyoung, aku akan membantu kalian melawan Minyoung dan Minhwan.”

”Iya. Dulu aku masih takut sama eomma. Makanya aku nurut aja pas mau dijodohin. Ini perjodohan gila namanya. Tapi setelah Nana menyemangatiku, aku tak takut lagi menghadapi mereka.”

”Gombal.” Nana menyikut pinggang Jinyoung sementara Jinyoung hanya meringis kesakitan.

”Sakit, Nana.”

”Oops. Sorry. Aku gak sengaja.” Muka Nana kembali memerah sementara Jinyoung semakin semangat menjahilinya dengan pura-pura kesakitan. Tiba-tiba handphone Jinyoung bergetar. Mereka memang sepakat untuk men-silent handphone masing-masing supaya kalau mendadak dan ingin menghubungi satu sama lain tidak berisik dan memancing para bodyguard itu.

”Hallo Sandeul.” jawab Jinyoung. ”Iya, aku dan Nana baik-baik saja. Kami ditolong oleh Nichkun.” imbuhnya lagi.

”Hah? Kalian sudah bertemu Nichkun?”

”Iya. Tadi ada sedikit masalah dan Nichkun yang menolong kami.”

”Oh. Aku sudah bertemu dengan Chan dan kami berhasil lolos dari bodyguard gila itu. Sekarang kami ada di Godiva cafe, Harajuku. Kau menyusul kesini ya.”

”Baik. Aku kesana sekarang.” Jinyoung kembali memasukan handphonenya ke saku celananya.

”Sandeul berkata apa?”

”Dia bilang dia dan Chan ada di Godiva cafe, Harajuku. Kita disuruh menyusul kesana.”

”Ya sudah. Ayo jalan.” Nana langsung mengapit lengan Jinyoung.

”Kalian pergi berdua saja ya.”

”Kamu mau kemana?” tanya Nana bingung.

”Aku ingin pergi ke kediaman Minhwan. Pasti bodyguard itu sudah menyampaikan bahwa aku berada di Jepang. Aku harus meluruskan masalahku dengannya. Jinyoung, aku tak tahu siapa yang akan menang antara pertarunganku dengan Minhwan. Tapi kalau aku membunuh appa mu, apa kamu keberatan dan akan membalas dendam padaku?” Nichkun memandang Jinyoung dengan tatapan menusuk. Sementara itu Jinyoung hanya bisa menunduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia bingung harus menjawab apa.

”Aku tidak akan dendam padamu hyung. Lakukan saja sesukamu. Sejujurnya aku tak ingin kalian saling membunuh. Sekejam-kejamnya Minhwan, tak bisa dipungkiri lagi ia adalah ayah kandungku. Aku darah dagingnya. Aku tak mau menjadi anak durhaka. Aku tak berharap kematiannya. Tapi jika ia memang kalah melawanmu, itu akibat kesalahannya sendiri. Aku tak ingin ikut campur masalah kalian. Aku tak ingin mengungkit-ungkit masa lalu kalian lagi.” Nichkun malah memandang Jinyoung dengan bingung.

”Masa lalu? Kau tahu masalahku dengan Minhwan?”

”Masalah apa?” Jinyoung malah balik bertanya.

”Tadi kau bilang kau tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu kami lagi? Kamu tahu masalah itu?”

”Masalah apa sih??? Aku tak mengerti apa-apa. Kau kan bilang kau ingin meluruskan masalahmu dengan Minhwan. Pasti ada hubungannya dengan masa lalu kalian dan aku tidak ingin mengungkit-ungkit masalah itu lagi. Jadi ya aku tidak tahu masalah kalian itu apa.” ucap Jinyoung cuek.

”Dasar kau ini.” Nichkun menepuk-nepuk pundak Jinyoung.

”Oppa, bisa kita bicara sebentar.” tanpa menunggu jawaban, Nana langsung menarik tangan Nichkun dan membawanya menjauh dari Jinyoung supaya Jinyoung tidak dapat mendengar pembicaraan mereka.

”Jadi Jinyoung tidak tahu masalah kalian?” tanya Nana begitu ia yakin bahwa Jinyoung sudah tidak dapat mendengar percakapan mereka.

”Memangnya kau tahu?” Nichkun malah balik bertanya.

”Soal pembantaian besar-besaran dan orang tuamu dibunuh oleh Minhwan dan ayah Sandeul kan?”

”Siapa yang cerita? Victoria lagi? Mulut anak itu memang seperti ember bocor ya.”

”Bukan hanya Victoria. Tapi aku juga tahu dari Sandeul. Aku kira Sandeul hanya berteman dengan Jinyoung saja. Rupanya ia juga sudah dekat denganmu.”

”Ya. Kau kan sudah mengerti masalahku yang sesungguhnya. Kalau aku membunuh Minhwan dan Minyoung, kau bisa hidup bebas dengan Jinyoung.”

”Tidak. Dari luar memang terlihat bebas tapi hatiku yang akan merasa bersalah. Aku memang mengakui kekejaman Minhwan tapi aku juga tidak mau kalian saling membunuh. Kalau Minhwan yang mati. Kalau kau yang mati bagaimana? Apa kau tidak memikirkan Victoria eonni? Bagaimana perasaannya. Oppa, sebenci-bencinya kau pada Minhwan, ia tetaplah pamanmu dan kau tidak bisa merubah kenyataan itu. Peluangmu untuk menang melawan Minhwan sangat tipis. Ia memiliki banyak bodyguard, ia bisa dengan mudah menyewa assasin untuk membunuhmu.”

”Dia bukan pamanku. Paman macam apa yang tega membunuh kakaknya sendiri dan membiarkan keponakannya menjadi yatim piatu disaat ia masih kecil dan butuh kasih sayang orang tua. Bahkan hewan sekalipun tidak akan melakukan hal sehina itu.”

”Tapi kasihan Victoria dan Jinyoung. Bagaimanapun Minhwan adalah ayah Jinyoung. Kalau kau membunuh Minhwan, kau hanya akan mengulangi masa lalumu yang kelam hanya saja masa lalu mu berpindah ke Jinyoung. Kau akan membuat sepupumu hidup sebagai anak yatim di saat ia masih remaja dan membutuhkan kasih sayang orang tuanya.” Nana mengulangi kata-kata Nichkun dan cukup berhasil membuat Nichkun kehabisan kata-kata.

”Itu hanya akan menambah dosamu.” imbuh Nana sambil memegang lengan Nichkun.

”Maaf, Na. Aku sadar akan perbuatanku. Biarlah aku yang menanggung dosa-dosaku. Hanya dengan membunuh orang itu, aku baru bisa puas dan terlepas dari semua dendam dan sumpahku pada ayah dan ibuku. Setelah aku membunuh Minhwan, barulah aku akan membunuh diriku sendiri.” ucapan Nichkun kontan membuat Nana melotot dan secara refleks langsung menampar pipi Nichkun lumayan keras dan membuat pipinya sedikit merah. Jinyoung yang melihat dari kejauhan semakin bertanya-tanya apa yang sedang mereka lakukan.

”PABO !!!! Lakukan sesukamu !!” Nana langsung lari meninggalkan Nichkun.

”Na !! Nana !!” Jinyoung langsung ngacir mengejar Nana dan melewati Nichkun. Jinyoung buru-buru mengejar Nana.

”Nana, Jinyoung, jeongmal mianhae. Jinyoung, kalau aja kamu tahu kejadian itu. Kalau saja kamu tahu sebenarnya aku adalah sepupu kamu. Sayangnya kamu masih sangat kecil disaat kejadian itu. Aku pun tak berani bilang bahwa aku adalah sepupu kamu dan appa mu sudah menghancurkan hidupku. Maaf, Jinyoung.” Nichkun melirik tas yang sedari tadi ia pegang dan ia memasukan pistol yang tadi ia gunakan itu ke dalam tas. Rupanya isi dari tas tersebut hampir semuanya berisi benda-benda tajam yang mungkin akan Nichkun gunakan dalam pertarungan melawan Minhwan.

                                                   ***

Jinyoung mulai ngos-ngosan mengejar Nana yang berlari gak jelas mau kemana.

”Nana, Harajuku tuh ke kanan !!! Kamu malahan ke kiri sih? Sekarang kita mau kemana, oi !!!” teriak Jinyoung. Namun tak digubris oleh Nana. Akhirnya terpaksa Jinyoung menambah kecepatan larinya dan ia semakin bisa menyusul Nana hingga Jinyoung berhasil menangkap pinggang Nana dan membuat langkah Nana terhenti. Nana terus meronta-ronta tapi Jinyoung semakin mempererat pelukannya.

”Kamu kenapa sih !!!” Jinyoung mulai kesal dan membuat Nana berhenti meronta. Nana malah berbalik dan memeluk Jinyoung.

”Aku gak mau Nichkun melawan appa mu.. Peluang Nichkun menang sangat tipis. Ia gak mungkin bisa menang. Aku gak mau Nichkun meninggal.”

”Aku ngerti, Na. Aku juga gak mau mereka berdua berkelahi karena mereka berdua adalah orang yang penting bagiku. Tapi tidak sebaiknya kita mencampuri urusan mereka. Mereka pasti bisa mencari solusi terbaik untuk masalah mereka.”

”Aku yakin kamu juga gak ingin kehilangan mereka berdua kan, Jinyoung? Nichkun bilang kalau dendamnya sudah terbalaskan, ia akan bunuh diri juga untuk menyusul orang tuanya. Aku sayang ama Nichkun. Aku gak pengen dia mati. Kamu juga kan Jinyoung? Gak bisa memilih antara appa mu atau sepupumu?”

”Sepupu?” raut muka Jinyoung nampak kebingungan.

”Iya. Nichkun.” kali ini Nana yang kebingungan.

”Nichkun sepupuku?”

”Lho? Kamu gak tau?” Pertanyaan dibalas dengan pertanyaan.

”Gak. Yang aku tahu Nichkun itu teman mainku dan penolongku. Dia memang sudah kuanggap kakak kandungku sendiri.”

”Lalu apa ayahmu memiliki seorang kakak?”

”Kakak? Kurasa tidak. Appa ku itu anak tunggal.”

Jadi, Jinyoung sama sekali tidak tahu bahwa Nichkun adalah sepupunya dan Minhwan telah membunuh ayah dari Nichkun yakni kakaknya sendiri, batin Nana. Tak berapa lama kemudian, handphone Jinyoung kembali bergetar.

”Hallo..”

”Kau ini lamban seperti siput ya? Kenapa masih belum menyusul kami di Harajuku?”

”Maaf. Tadi ada sedikit masalah lagi.”

”Daritadi kau memiliki sedikit masalah melulu. Sekarang karena masalah apa lagi??” Sandeul mulai jengkel dengan temannya ini.

”Baik. Aku akan menyusulmu kesana.”

”Kau ini. Nanti juga ada masalah lagi. Sekarang kau ada dimana? Biar aku dan Gongchan yang menyusulmu. Jinyoung, hari makin larut. Kita bisa tidak dapat penginapan lagi.”

”Sudahlah. Kita tidak usah ke Shibuya lagi. Kalian susul kami di Tokyo Tower. Setelah itu kita langsung cari penginapan.”

”Tapi aku dan Nana harus pergi ke penginapan kami yang lama. Barang-barang kami ada disana semua.”

”Jangan dulu. Kita ada di dua tempat penginapan saja. Kau dan Nana tetap ke penginapan kalian yang lama. Aku dan Chan mencari yang baru.”

”Loh, kenapa Jinyoung?”

”Jadi kalau ada diantara kita yang tertangkap, tidak semuanya ditangkap. Masih ada yang membebaskan. Kalau kita semua tertangkap, siap-siap aja masuk penggorengan.”

”Penggorengan? Emangnya bebek. Tapi ide mu bener juga Jinyoung. Ya sudah. Aku dan Nana akan kembali ke penginapan yang lama. Eh Jinyoung, apa tidak sebaiknya kita tukeran?”

”Maksudmu?”

”Kau dengan Nana. Aku dengan Chan.”

”Tidak usah. Itu hanya akan membuatmu repot. Aku percayakan dia padamu, Sandeul. Aku tahu kamu bisa kuandalkan.”

”Baiklah. Kita bertemu di Tokyo Tower.” Sandeul langsung memutuskan sambungan telepon.

”Yasudah ayo kita ke Tokyo Tower.” Nana menggandeng tangan Jinyoung dan tangan Jinyoung terasa sangat dingin. Sepanjang perjalanan, Nana tak mengatakan satu patah katapun.

”Sudahlah. Jangan membebani pikiranmu lagi. Nichkun akan baik-baik saja.” Jinyoung berusaha untuk bersikap tenang dan menghibur Nana walaupun saat ini hatinya jauh diliputi kegundahan dan kebingungan mengenai rahasia yang selama ini belum ia ketahui.

Apa benar Nichkun adalah sepupuku? Mengapa appa tak cerita apa-apa? Apakah ada rahasia lain yang mereka tutup-tutupi dariku, batin Jinyoung. Jinyoung sudah tak tahu lagi kemana ia harus melangkah. Sepanjang perjalanan, Jinyoung malahan melamun dan memikirkan semua masalah yang minimpanya. Kalau saja Jinyoung tidak disadarkan oleh Nana, mungkin Jinyoung sudah tertabrak mobil. Nana menghentikan langkah kakinya dan merengkuh wajah Jinyoung sehingga Jinyoung terbuyar dari lamunannya.

”Maaf, aku tak bermaksud menambah beban pikiranmu.” ucap Nana sambil memandang Jinyoung.

”Aku tidak kenapa-kenapa kok, Na.”

”Aku tahu kamu sedang memikirkan masalah yang tadi kukatakan kan? Maaf, aku kira kamu sudah tahu bahwa Nichkun adalah sepupumu.”

”Yang aku tahu Nichkun hanyalah teman mainku. Sama seperti Sandeul. Hanya saja Nichkun lebih tua daripada kami. Aku sama sekali tak menyangka aku masih memiliki hubungan saudara dengannya. Aku kecewa pada appa. Kenapa ia harus berbohong padaku.”

”Ia pasti punya alasan sendiri merahasiakan masalah ini darimu. Jangan diambil hati ya. Ayo cepat jalan. Nanti Sandeul keburu menelpon lagi dan ia kembali ngoceh lagi.” Nana menarik tangan Jinyoung sementara Jinyoung hanya pasrah mengikuti saja. Pikirannya sudah kalut.

                                  TO BE CONTINUED

10월 29, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: