liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 8)

Title:                        My True Love (Part #8)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1 Part 2 Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7

Sir, we have guest. He wants to meet you.” Ucap Sayoko.

Take him.” Minhwan masih geram karena anak buahnya begitu bodoh sehingga bisa kehilangan jejak anak-anak tikus itu. Sedari tadi Minhwan hanya berdiri sambil menatap keluar jendela. Ia masih kesal juga pada kelakuan anak-anaknya.

Minhwan, it’s me.” Tanpa memandang wajah sang tamu, Minhwan langsung mengenali nada suara si pembicara.

What happened?” tanya Minhwan tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun.

You still dare to say what happened..” Nichkun tidak bisa bergerak kemanapun karena kedua lengannya diapit oleh para bodyguard Minhwan. Mau tidak mau Minhwan berpaling ke arah keponakannya dan menatapnya.

I don’t understand what do you mean.”

You take care of me when I was young. But how stupid me because I believe you easily.”

My nephew..”

Stop calling me like that !! I’m not your nephew !!” bentak Nichkun yang langsung memotong ucapan Minhwan.

You’re a murderer !!!” sentakan Nichkun cukup mengejutkan Minhwan sehingga Minhwan langsung berhenti menghisap cerutunya.

What did you say? You called me a murderer?” tanya Minhwan setengah tak percaya.

You’re a murderer. You killed my parents !!!” Nichkun meronta-ronta sementara para bodyguard semakin mengencangkan pegangannya.

Let him…” para bodyguard itu langsung mematuhi perintah Minhwan dan beranjak pergi.

What do you mean? I killed your parents? I never do it. Trust me.”

Bullshit !!! I heard your conversation with Sandeul’s dad. You killed them just for the position and autorization !!”

Please Nihckun. You just misunderstood with me.” Tanpa menunggu pernyataan dari Minhwan, Nichkun langsung mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya tepat di dada Minhwan. Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Nichkun sehingga Nichkun terpental dan peluru yang tadinya ia arahkan ke dada Minhwan malahan menembak entah ke arah mana. Ternyata yang mendorong Nichkun adalah Minyoung dan secara gesit dan tanpa diduga sebelumnya, Sayoko segera mengambil pistol Nichkun dan balik mengarahkannya ke dahi Nichkun.

You think who are you? You cannot touch me easily.”

You haven’t changed.”

Do you want to know my answer? Yes, I killed your parents for the position. I don’t like him although he is my brother.”

You’re evil. F*ck you !!” Maki Nichkun.

Whatever. Now, I only want my son go back to this home. Where are they? Say it or you will die.”

I’m not afraid to die. I never tell you where are they. I will protect them from evil like you. Do you want to sell your children for money? You like animals.” Minhwan langsung menampar Nichkun sekencang-kencangnya hingga bibir Nichkun berdarah.

Shut up you ! I never sell them. This is for their happiness.”

Happiness?” Nichkun malah tertawa terbahak-bahak. “What do you know about happiness? Your knowledge only about money, position and authorization and sell your son. Jinyoung’s happiness is only Nana !! No one can change.” Nichkun berubah menjadi garang. Tatapannya menusuk tajam tepat ke arah Minhwan.

Sayoko, bring him.” Sayoko menganggukan kepala sambil terus menodong Nichkun dengan pistol.

                                                         ***

“Ah, kalian ini lamban sekali.” ucap Sandeul begitu Jinyoung dan Nana menemuinya di tempat semula sebelum mereka dikejar-kejar.

“Maaf.” Ucap Jinyoung singkat.

“Kau ada masalah lagi?” tanya Sandeul dengan nada menyindir.

“Sudah sudah. Ayo jalan ke tempat penginapan murah.”

”Btw, mana Nichkun?” Sandeul celingak-celinguk mencari sosok Nichkun.

”Dia tidak ikut dengan kami. Ia masih punya urusan dengan Minhwan.”

”Oh.. Aku mengerti. Ya sudahlah. Padahal aku ingin berbicara banyak hal dengannya. Nanti saja deh kalau begitu.”

”Ayo jalan.” Gongchan yang jalan pertama kali dan memimpin perjalanan mereka. Sementara yang lainnya hanya patuh mengikuti arus. Sepanjang perjalanan, Jinyoung hanya diam sambil terus merangkul Nana. Tatapannya kosong. Gongchan membawa mereka ke Asakusa tempat yang memiliki banyak penginapan murah. Duit mereka semakin menipis karena Gongchan sudah membuang duitnya di Godiva cafe.

”Jinyoung.” Sandeul menghentikan langkahnya sehingga mau tak mau yang lain pun ikut menghentikan langkahnya dan memandang Sandeul dengan penuh tanda tanya. Namun Jinyoung sama sekali tak menatap Sandeul. Ia hanya menunduk saja walaupun Sandeul sudah memanggil namanya.

”JINYOUNG !” ulang Sandeul lagi namun dengan suara yang lebih lantang. Jinyoung pun menatapnya dengan tatapan sendu.

”Kau ini kenapa? Masalah apa yang sedang kau hadapi? Waktu kita dikejar-kejar bodyguard, kau tidak murung seperti ini?”

”Sandeul, aku rasa Jinyoung tidak ingin membicarakannya…” Nana berusaha agar Sandeul mengganti topik pembicaraan dan tidak membuat Jinyoung sedih lagi.

”Tidak. Kau jangan menutup-nutupin lagi. Ceritakan padaku.”

”Apa Nichkun adalah sepupuku?” tanya Jinyoung tiba-tiba dan jelas pertanyaan itu ia tujukan kepada Sandeul.

”Kau ini bicara apa?”

”Aku tanya apa benar Nichkun adalah sepupu ku?”

”Memangnya kau tidak tahu?” Sandeul balik bertanya pada Jinyoung. Pertanyaan yang sama persis dengan yang dilontarkan Nana.

”Jadi kau tahu?” Jinyoung juga membalasnya dengan pertanyaan lagi..

”Lho? Aku jadi gak ngerti deh.”

”Kenapa semua orang tahu masalah ini?? Nana dan juga kau. Orang-orang luar semuanya tahu mengenai hal ini. Kenapa aku malahan tidak tahu menahu soal ini?? Chan, kau tahu juga?” pandangan Jinyoung mengarah ke Gongchan namun Gongchan masih juga bengong.

”Jadi Nichkun sepupuku? Pantas aku merasa hubunganku dengan dia sudah sangat dekat.”

”Jadi kau juga tidak tahu, Chan?”

”Aku sama sekali tidak tahu. Sumpah..”

”Kenapa malah kalian yang mengetahui hal penting seperti ini? Malah orang yang bersangkutan tidak mengetahuinya. Aku seperti orang tolol.”

”Jinyoung, siapa yang sangka kau tidak tahu. Aku kira dari kecil kita selalu bermain bersama. Aku kira kau sudah tahu Nichkun adalah sepupumu.”

”Setelah sebesar ini aku baru mengetahui bahwa selain Chan, aku masih punya saudara lagi dan ia adalah Nichkun. Yang selama ini hanya kuanggap teman.”

”Jinyoung, sudahlah. Jangan membahas masalah ini lagi.” Nana langsung memeluk Jinyoung. ”Aku tidak ingin masalah ini membebanimu. Nanti biar Nichkun yang menceritakan semuanya padamu.” imbuhnya.

”Chan, sekarang jangan gantian kamu deh yang bengong. Jalan.” Nana langsung menggandeng Jinyoung dan mengajaknya pergi. Mereka kembali berjalan untuk mencari penginapan. Suasana sudah larut dan mereka kembali kesulitan dalam mencari penginapan murah. Rata-rata semuanya sudah penuh terisi orang.

”Mau cari kemana lagi nih? Dah malem.” Sandeul mulai terlihat putus asa.

”Kesitu aja.” Gongchan menunjuk salah satu tempat penginapan yang lampunya masih menyala. Nana lah yang pertama kali mengetuk pintu penginapan. Seorang pria paruh baya keluar sambil mengenakan yukata.

”Mau mencari siapa?” ucapnya dengan bahasa Jepang yang masih sangat kental.

”Apa benar ini tempat penginapan?” Gongchan juga membalasnya dengan bahasa Jepang.

”Iya.”

”Masih ada kamar kosong gak?”

”Untuk berapa lama?”

”Sehari saja.”

”Masih ada sih. Mau berapa kamar?”

”Cukup satu saja.”

”Oh, masih ada sih.”

”Harganya?”

”1500 yen semalam.”

”Bagaimana hyung? Mau gak?”

”Chan, ini kan tempat kita.” ucap Sandeul tiba-tiba.

”Kita? Lho, lalu hyung kemana?”

”Jinyoung dan Nana biar di tempat penginapan yang lama. Kalo 1500 yen mah murah. Ya sudah deh. Saya mau.”

”Baik. Silahkan masuk. Saya akan suruh pembantu untuk merapihkannya dulu. Sudah lama tidak ada yang menempati jadi agak sedikit berdebu.”

”Tidak usah, tuan. Biar kami yang membereskannya sendiri.”

”Kalian yakin?” tanya si pemilik dengan tatapan curiga.

”Tentu saja.” ucap Sandeul dengan penuh keyakinan.

”Baiklah. Kalian atur sendiri. Oh iya. Mana uang penginapannya?”

”Tunggu sebentar ya. Jinyoung, mana duitnya?” Sandeul menyikut pinggang Jinyoung.

”Iya. Bentar.” Jinyoung merogoh saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar uang kertas.

”Terima kasih. Saya masuk ke kamar duluan. Nanti jangan lupa tutup pintu ya.”

”Baik. Terima kasih kembali.”

”Hei, kamu serius Sandeul? Aku bareng dengan Jinyoung?” tanya Nana sepeninggalnya si pemilik penginapan.

”Iya. Nanti Jinyoung cemburu lagi.”

”Masalahnya aku gak tau jalan kesana. Bisa nyasar dong.”

”Jinyoung tahu jalan kok. Ini alamatnya.. Kemarin sempat aku tulis di kertas.” Sandeul menyerahkan secarik kertas berisikan alamat tersebut kepada Jinyoung.

”Oh. Di jalan ini. Aku tahu kok.” akhirnya Jinyoung angkat bicara juga setelah diam beberapa saat.

”Ya sudah. Cepat gih jalan. Rayakan bulan madu kalian.”

”Bulan madu?” Nana melotot ke arah Sandeul.

”Iya.. Bulan madu..” Sandeul lantas mendorong-dorong tubuh Jinyoung dan Nana keluar dari dalam penginapan. ”Selamat menikmati.” ucap Sandeul sebelum ia menutup pintu dan membuat Nana bengong sesaat.

”Ih, Sandeul apa-apaan sih?” Nana mulai kesal.

”Tapi kau senang kan?” Jinyoung mulai menggoda Nana dengan rasa tidak berdosa sama sekali.

”Ih, apaan sih.” Muka Nana kembali bersemu.

Lets go.” Jinyoung berjalan mendahului Nana.

”Jinyoung, tunggu dong.” Nana langsung memeluk Jinyoung dari belakang lalu ia meminta Jinyoung menggendongnya.

”Ogah ah, berat.” Jinyoung pura-pura kabur untuk menghindari Nana dan Nana berusaha mengejarnya. Kejar-kejaran pun terjadi sepanjang jalan. Namun dalam hati Nana bersyukur Jinyoung sudah kembali menjadi Jinyoung yang ia kenal lagi. Bukan Jinyoung yang pendiam lagi. Nana juga berharap semoga Nichkun mau menceritakan masalah yang sesungguhnya kepada Jinyoung dan Gongchan kalau masalahnya dengan Minhwan sudah selesai. Seulas senyuman tersungging di bibir mungil Nana.

”JINYOUNG !!! TUNGGU !!!” Nana masih terus berusaha untuk mengejar Jinyoung..

                                             ***

Tokyo, 2 Januari 2010

 ”Are you hungry?” sepiring nasi disodorkan pada Nichkun dan langsung diludahi olehnya.

You’re so stubborn.”

I will never eat the forbidden food.”

“Sayoko.” Tiba-tiba Minyoung muncul di hadapan Nichkun dan membuat amarah Nichkun kembali memuncak. Namun Nichkun masih berusaha menahannya sebelum amarahnya meluap-luap lagi. Nichkun memutuskan untuk tetap diam dan tidak menatap mata Minyoung.

 “You can go now.”

Yes, madam.” Sayoko segera berlalu dari hadapan Nichkun. Tinggallah ia bersama dengan sang penyihir jahat. Namun Nichkun sama sekali tidak takut menghadapi mereka. Ia bersumpah tidak akan meninggalkan dunia ini sebelum dendamnya terbalaskan. Kalaupun ia mati, ia harus mati bersama Minhwan.

”AYANO !!!” seorang bodyguard yang berbadan cukup besar dan nampaknya mampu menguasai ilmu beladiri itu berjalan mendekati Minyoung. Nampaknya akan ada perintah yang akan dikumandangkan Minyoung. Sejujurnya, Nichkun sudah cukup tegang. Apakah Minyoung akan memberi perintah padanya untuk membunuh Nichkun. Nichkun sudah pasrah. Ia tak mungkin bisa melawan. Karena Ayano lah yang menyeretnya ke dalam kurungan. Ia sudah bisa memperkirakan kekuatan otot Ayano. Sekuat-kuatnya Nichkun melawan, pasti berujung pada kematiannya juga.

Yes, madam.”

Looking for Jinyoung and that girl.” Minyoung melirik sekilas raut wajah Nichkun yang berubah seketika begitu mendengar perintah untuk mencari Jinyoung dan Nana. Sasarannya memang bukan Nichkun tapi ia lebih khawatir lagi jika sasarannya adalah mereka yaitu orang yang seharusnya ia lindungi. Tubuh Nichkun langsung tegang dan menunggu kelanjutan perintah Minyoung.

Kono ato doo suru no (Selanjutnya apa)?”

Kill her and bring Jinyoung here.” Saat itu juga tubuh Nichkun langsung lemas. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi di dalam kurungan ini. Ia hanya bisa berharap Nana dan Jinyoung sudah pergi sejauh-jauhnya dari negara ini dan Nichkun hanya bisa berdoa demi keselamatan mereka. Nichkun akan merasa bersalah seumur hidupnya jika ia harus kehilangan adik angkatnya. Minyoung merasa heran karena Nichkun tidak bereaksi sama sekali. Entah reaksi apa yang diinginkan Minyoung dari Nichkun.

Do you agree if i kill her?”

Yes. I’m agree.” Jawaban singkat Nichkun cukup mengejutkan Minyoung. Nichkun berkata seolah-olah ia membenci Nana agar Minyoung tidak ada alat untuk mengancamnya lagi. Kalau Nichkun memberontak, pasti Minyoung akan semakin sengaja. Namun jika Nichkun tidak menanggapi, lama-lama Minyoung juga akan capek sendiri dan siapa tau ia merasa tidak punya permainan lagi jadi ia melepaskan Nana.

Well, if it’s your decision. Ayano, do it !!”

Yes, madam.” Ayano langsung beranjak dan Nichkun sudah tidak tahu lagi apa yang akan ia perbuat pada Nana. Nichkun memejamkan mata sebentar berharap bahwa semua rangkaian kejadian ini hanyalah mimpi buruk dan sebentar lagi ia akan dibangunkan oleh Victoria. Namun dalam hati Nichkun, ia terus berdoa juga supaya Tuhan selalu melindungi anak-anak itu.

                                             ***

 “Hari ini kita mau langsung pulang?” tanya Nana. Saat ini Nana dan Jinyoung sedang berada di penginapan Sandeul. Mereka sudah membawa tas masing-masing supaya bisa langsung ke bandara. Sementara itu, Sandeul dan Gongchan masih packing baju-baju mereka. Kemarin malam adalah malam terindah bagi Nana dan tidak bisa dilukiskan dengan apapun.

”Iya. Sebelum Minyoung menemukan kita.”

”Bagaimana malam pertamanya?” tanya Sandeul tiba-tiba sehingga muka Nana kembali memerah.

”Sandeul, jangan ngegodain lagi dong.” Namun Sandeul malahan nyengir kuda seolah tidak menanggapi perkataan Nana.

”Sudah siap semuanya kok. Mau jalan sekarang?” tanya Gongchan.

”Ya iyalah. Mau ngapain lagi emangnya…”

”Ke Singapore ya?”

”Iya.. Abis itu kita baru ke London.”

“Nichkun bagaimana?” sejujurnya Nana masih belum bisa merasa lega meninggalkan Jepang sebelum ia mendapat kabar dari Nichkun. Semenjak hari itu, Nichkun sama sekali tidak mengabarinya. Entah masih marah atau terjadi sesuatu. Nana masih mengkhawatirkan keadaannya dan belum bisa tidur nyenyak sebelum bertemu Nichkun dan meminta maaf karena sudah kelepasan menamparnya.

”Aku yakin dia akan baik-baik saja.” Jinyoung merangkul pundak Nana berusaha untuk menenangkannya.

”Yuk jalan.” Gongchan kembali memimpin perjalanan mereka.

”Kita ke bandara naik apa? Taksi?” Nana bertanya dengan polosnya.

”Kamu punya duit?” tanya Sandeul.

”Enggak. Emang mahal banget ya? Abis bawaan kita banyak gini.”

”Haduh, jangan naik taksi di Jepang deh kalau gak kepepet banget. Kecuali kamu punya duit banyak.”

”Naik bus aja. Nanti di depan gang juga banyak bus yang lewat kok.” dengan cuek, Gongchan langsung keluar dari penginapan.

”Tunggu dong.” Sandeul buru-buru menyusul Gongchan diikuti Jinyoung dan Nana. Mereka berempat berjalan menuju mulut gang sambil membawa tas masing-masing yang bermuatan cukup banyak. Kalau anak-anak cowok mungkin sudah terbiasa membawa tas seberat ini. Tapi Nana nampak kelelahan karena harus membawa 2 tas sekaligus. Keringat pun mulai mengucur ditambah lagi sinar matahari yang cukup terik.

”Mau aku bantu?” Jinyoung memegang tangan Nana hendak membawakan tas milik gadis itu.

”Gak usah. Bentar lagi kita juga nyampe ke depan gang. Nanti kalau udah naik bus kan gak repot lagi.”

”Udah, sini. Bandel amat sih.” Jinyoung menarik tas milik Nana dan membawakannya. Padahal membawa tas sendiri saja sudah cukup sulit. Tiba-tiba Handphone milik Nana berbunyi.

”Siapa sih yang menelpon di saat kayak gini? Ribet banget nih..” Nana mengeluarkan handphonenya dari dalam tas.

”Hallo.”

”Hallo sayang, ini eomma.”

”Eomma?? Aku kangen banget ama eomma.”

”Kalo kangen kok kamu gak pernah nelpon eomma sih, sayang? Eomma kan kuatir.”

”Mianhae. Aku gak sempet nelpon. Lagi banyak masalah nih.”

”Masalah apa?”

”Nanti aku ceritakan. Sekarang aku masih di Jepang dan aku lagi menuju bandara. Aku akan langsung pergi menemui eomma di Singapore sama temen-temen aku.”

”Teman-teman? Kamu sudah bertemu Jinyoung?”

”Jinyoung? Sudah kok. Dia ada disini juga.” mendengar namanya disebut, Jinyoung langsung menoleh ke arah Nana dan hanya dibalas dengan senyuman.

”Kamu nanti datang kesini bersama Jinyoung juga?”

”Iya.. Eomma tenang aja ya.. Eomma musti banyak istirahat ya.”

”Iya.. Kamu hati-hati ya disana…” Belum sempat Nana menjawab, ada sebuah sepeda motor yang melaju dengan kecepatan tinggi dan langsung menjambret handphone Nana.. Otomatis Nana teriak histeris.

”Malingggggggg….” Nana berlari mengejar sepeda motor itu.

”Nana !!!” Mau tidak mau Jinyoung juga ikut mengejar Nana. Jinyoung berlari tepat di belakang Nana. Baru saja Sandeul dan Gongchan ingin menyusul, ada beberapa orang pria lagi yang datang menghadang dan langsung memukul perut Gongchan dan Sandeul hingga mereka berdua jatuh tersungkur. Gongchan memang paling lihai bersembunyi namun tidak jago bertarung. Kebalikannya dari Jinyoung yang jago bela diri tapi paling bingung mencari tempat persembunyian. Sandeul juga tidak begitu bisa bela diri. Saat ini posisi mereka berdua sudah sangat terjepit apalagi Jinyoung sedang mengejar Nana.

”Chan, kita musti gimana nih?”

”Lawan.” ucap Gongchan singkat.

”Kamu serius? Kita bisa mati disini nih.”

”Biarin…” Gongchan kembali berkonsentrasi pada pria-pria kekar di hadapannya saat ini. Ragu-ragu Gongchan seperti nya sudah mengenali wajah mereka. Wajah mereka begitu familier. ”Ryo, Akira??” tanya Gongchan ragu-ragu..

Boochama.”

”Oh.. Rupanya kalian suruhan Minyoung ya…”

Gomennasai.”

”Jadi, yang tadi menjambret handphone Nana?”

Are wa Ayano-san. (Itu adalah Ayano).”

“Sh*t you..” Entah mendapat kekuatan darimana, Gongchan langsungmengalirkan seluruh tenaganya ke kaki kanannya dan langsung menendang perut Ryo hingga gantian Ryo yang tersungkur ke lantai. Sementara Akira yang ingin menahan tuan muda nya itu langsung mendapat pukulan dari tas Gongchan yang lumayan berat itu hingga Akira pun jatuh ke lantai.

“Sandeul, ayo susul Jinyoung dan Nana. Feeling ku udah gak enak.” Gongchan menarik Sandeul berlalu dari situ dan berusaha berjalan lurus saja ke depan hingga mereka bisa mendapatkan petunjuk lagi.

Boochama…” Nampaknya Gongchan memang mengerahkan seluruh tenaganya sebab sehabis ditendang oleh Gongchan, Ryo membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat bangkit berdiri.

                                         ***

”Balikin handphone nya !!!” Nana masih terus mengejar Ayano walaupun napasnya sudah tersengal-sengal. Jinyoung pun masih terus mengikuti Nana hingga badannya sudah bermandikan keringat. Akhirnya motor milik Ayano pun berhenti si sebuah tempat yang sepi dan tak ada orang satupun. Ayano turun dari motornya dengan memegang sebuah katana. Sementara itu Nana hanya bisa memejamkan mata dan menerima nasib. Ayano semakin berjalan mendekati Nana dan jarak mereka semakin dekat. Baru saja Ayano mengayunkan katana miliknya, dari arah lain Jinyoung langsung datang menerjang hingga mereka berdua bertubrukan dan jatuh ke tanah. Ayano tidak berani menyentuh tuan muda nya sebab targetnya hanyalah Nana. Ayano dan Jinyoung terus bergulat di lantai. Nana ketakutan kalau sampai katana tersebut menusuk tubuh Jinyoung. Di luar dugaan atau karena memang tidak memiliki jalan lain lagi, Ayano mengambil sebuah batu dari sampingnya dan langsung menghantamkannya ke Jinyoung cukup keras hingga darah segar mengucur dari pelipis Jinyoung. Jinyoung pun langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri. Nana hanya bisa berteriak histeris dan menangis sejadi-jadinya. Ayano kembali berjalan ke arah Nana. Kali ini sudah tidak ada harapan lagi bagi Nana. Namun Ayano malahan membuang katanya dan mengambil batu lagi yang ada di sekitar Nana dan kembali menghantamkannya ke pelipis Nana. Hingga Nana pun pingsan di tempat dengan darah yang mengalir dari pelipisnya. Ia pun sudah tidak mengingat apa-apa lagi.

                                                   ***

”Mau kemana lagi nih? Capek.” Sandeul juga berlari mengikuti Gongchan. Tapi sampai detik ini belum ada tanda-tanda apapun dari Nana atau Jinyoung.

”Tokyo itu luas. Kita bisa gila nyarinya. Lapor polisi aja yuk.”

”Kamu gila?? Emangnya polisi bisa berbuat apa? Yang ada polisinya langsung dibunuh oleh Minhwan… Jalan kesana lagi deh.”

”Oh my god” Sandeul hanya bisa menarik napas.

Eomma, appa, kalau kalian sampai berbuat senekat itu pada Nana dan Jinyoung, aku juga bersumpah pada diriku sendiri. Aku tak peduli kalian itu orang tua ku atau bukan. Aku bersumpah akan menghancurkan hidup kalian bagaimana pun caranya. Walaupun aku harus mati dan mempertaruhkan nyawaku, aku akan membalas kematian mereka kalau kalian memang bertindak sejauh itu dan kalau memang itulah yang kalian inginkan, batin Gongchan.

                                                   ***

Ayano, have you caught them?”

Yes, madam. They’re here with me.”

Good job. Have you brought them to a place that I ordered?”

Yes, madam. I’ve brought them.”

Well, you kill her there in front of Jinyoung. Then, you bring Jinyoung back here.”

Yes, as your command.”

                                                   ***

Perlahan-lahan Nana mulai sadar dari pingsannya. Ia mulai membuka kelopak matanya yang terasa berat dan pandangannya masih sedikit kabur. Samar-samar ia mendengar suara angin yang berhembus, air yang mengalir dan badan nya terasa sulit digerakkan. Kepalanya masih sangat pusing. Awalnya, Nana mengira ia sudah ada di surga. Tapi ia mulai mempertajam penglihatannya tadi masih buram dan ia semakin yakin bahwa ini bukan surga. Pria yang tadi memukul kepalanya itu telah berada di depannya saat ini sambil mengasah katana miliknya. Rasa takut kembali menjalar di tubuh Nana. Dan ia pun semakin bisa memandang sekelilingnya dan ia baru sadar sepenuhnya ketika melihat ia tepat bediri di mulut sebuah jurang terjal dengan posisi badan terikat di sebuah pohon dan ia juga melihat Jinyoung yang masih memejamkan mata dengan kaki tangan yang terikat namun dalam posisi duduk.

”JINYOUNG !!!” Nana berusaha untuk membangunkan Jinyoung. Namun Jinyoung tetap tidak sadarkan diri. Yang ada malahan Ayano menoleh ke arah Nana dengan tatapan mata ingin membunuh. Nana langsung menelan ludah dan menahan napasnya. Ayano mendekati Nana perlahan dan malah melepaskan ikatannya dari pohon. Nana berpikir ia sedang bermimpi. Namun Ayano memang melepaskan ikatannya dari pohon tapi tidak bertahan lama. Setelah itu ia kembali mengikat tangan dan kaki Nana dan meletakkan Nana seperti sebuah objek yang akan dipanah. Ayano membawa Nana ke tengah-tengah tepian jurang dengan posisi terikat dan Ayano kembali mengambil katana yang sudah ia asah. Nana semakin tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia hanya pasrah. Ayano sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari dan kemudian menusuk Nana sampai menembus badannya. Nana semakin merapatkan pejaman matanya. Dalam hati ia berdoa supaya Tuhan mau menerimanya di sisi-Nya. Sebab Nana masih memiliki banyak dosa dan belum ia tebus. Ia merasakan derap kaki Ayano yang berlari semakin kencang ke arahnya. Nana bisa mengetahuinya dari angin yang berhembus. Semakin lama semakin kencang. Tak berapa lama kemudian, Nana bisa merasakan sebuah benda tajam langsung menusuk dan menembusnya. Tapi ia juga merasakan bahwa ada seseorang yang memeluknya. Dengan penuh kesakitan yang luar biasa, Nana mencoba membuka mata dan dilihatnya Jinyoung sedang memeluknya dengan mulut yang sudah berdarah dan sebilah katana menusuk tubuh Jinyoung dan langsung menembus ke tubuh Nana secara bersamaan. Lalu Nana baru menyadari bahwa mulutnya juga sudah mulai mengeluarkan darah dan air mata Nana mulai mengalir.

”Jinyoung…” Hanya untuk mengucapkan satu kata saja, Nana sudah butuh perjuangan menahan rasa sakit. Ia sedikit terharu melihat Jinyoung yang rela melakukan semua ini deminya. Jinyoung berhasil melepaskan ikatannya dan langsung berlari untuk memeluk dan melindungi Nana walaupun itu berarti ia harus dihadapkan pada maut juga.

I’ll never leave you. Jeongmal jeongmal saranghaeyo.” Itu adalah kata-kata terakhir yang diucapkan Jinyoung dengan susah payah tepat di telinga Nana dengan napas yang tersengal-sengal sebelum akhirnya tubuh Jinyoung mulai ambruk dengan tubuh berlumuran darah begitu juga Nana dan tubuh Nana pun semakin terdorong hingga akhirnya mereka berdua terjun bebas ke dalam jurang dengan sebilah katana yang masih menghujam tubuh mereka berdua. Itu pertanda bahwa mereka memang tidak terpisahkan selamanya. Bahkan sampai matipun, tubuh mereka akan terus bersatu.

                                        TO BE CONTINUED

11월 1, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , ,

댓글이 없습니다.

답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: