liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 9)

Title:                        My True Love (Part 9)

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3Part 4 Part 5Part 6Part 7Part 8

Madam, I have a good news.”

Good news? What’s that?

I’ve killed her.”

Really? Good job.” Minyoung menyunggingkan senyum penuh kemenangan.

But, I have bad news too.

Tell me.”

Jinyoung has died too.”

What?? Are you stupid?? Jinyoung is my son. I hate him but I’m not telling you to kill him too !!!”

I’m so sorry. I don’t know. When I want to kill that girl, suddenly Jinyoung came and protect that girl.”

Ayano, I never forgive you. I’ll kill you too  !!” Minyoung langsung mematikan teleponnya dan ucapan terakhirnya sukses membuat Ayano terpaku dan gemetaran.

Sh*t !!” rutuk Minyoung.

What happened?” Minhwan datang dari arah kamar menuju ruang tamu dan mendapati istrinya sedang menggertakan giginya menahan amarah.

Ayano so stupid.”

What do you mean?”

Jinyoung passed away.”

Passed away?” di luar dugaan, Minhwan malah tertawa terbahak-bahak dan alhasil membuat Minyoung refleks menampar suaminya itu.

Shut up !!” Minyoung menjadi semakin geram.

“Itu adalah balasan karena ia sudah berani melawanku. Biarkanlah dia hidup bersama gadis itu di akhirat.” Minyoung kembali menampar Minhwan. Kali ini lebih keras dibandingkan dengan tamparan pertama.

You’re crazy too !! Jinyoung is my son !! I want to kill that girl but not my son !!” Bentak Minyoung. Ia semakin emosi dan menatap tajam mata suaminya.

Calm down.. We still have Gongchan.”

Where’s Chan?? Apa kamu pikir Chan akan kembali kesini setelah ia mengetahui Jinyoung meninggal? Yang ada, dia malah akan bunuh diri. Aku akan kehilangan anakku !! Aku ingin gadis itu mati tapi Jinyoung kembali ke rumah dan menikah dengan Jooyeon. Ini bukan hasil yang kuinginkan !!”

Whatever. I want to sleep. I’m very tired. Jinyoung never go back.” Minhwan beranjak ke dalam kamarnya dan sebuah senyum tersungging di wajahnya. Senyum kemenangan yang membuat siapapun yang melihatnya ingin menampar bahkan membunuh Minhwan termasuk Sayoko yang sedari tadi mengintip dari balik dapur. Sayoko sudah mengepalkan tangannya dan sebuah katana sudah ia genggam erat-erat hingga membuat telapak tangan Sayoko mengeluarkan darah.

Jinyoung passed away and you look so happy !! What kind of father are you? You’re such an evil. I never forgive you. I’ll kill you, Minhwan. This is for Jinyoung and Nana” Sayoko mengambil serenceng kunci dari dalam kantong celemeknya dan berjalan entah kemana. Katana pun masih tergenggam erat di tangannya.

                                       ***

“Hei, kita mau keman lagi. Hari sudah larut, Chan. Percuma. Hasilnya tetap nihil. Kita tidak akan menemukan mereka.”

”Diam kau. Aku tidak akan pernah menyerah sebelum membawa mereka pulang.”

”Percuma Chan. Hasilnya nihil !!! Sekarang udah malam. Kalau mau, kita memulai pencariannya besok pagi aja.”

“Gak !!! Aku akan mengirim sms untuk eomma.” Gongchan mengambil handphone dari dalam tasnya dan mulai mengetik sesuatu.

”Ngetik sms? Kenapa gak telepon aja? Kita udah gak punya gak punya banyak waktu lagi.”

”Gak ada pulsa. Aku sms eomma supaya ia yang menelponku.”

”Di situasi seperti ini kamu masih saja pelit.” Benar saja, tak berapa lama kemudian, handphone Gongchan berbunyi dan menimbulkan suara yang berisik dan memecahkan keheningan malam.

Chan?? Where are you??” Minyoung sudah meggebu-gebu. Suaranya sangat panik dan membuat Gongchan bingung sejak kapan eomma nya jadi peduli begitu. Pasti ada maunya, batin Gongchan.

I’m fine. I want to ask something, where is Jinyoung and Nana??” Lama tak terdengar jawaban dan membuat Gongchan menggertak-gertakan kakinya.

MOM !! I’m talking with you !!! Tell me, please…”

That’s useless, Chan. You never meet your brother again.”

What are you talking about?” nada bicara Gongchan menjadi semakin was-was. Tubuhnya semakin tegang. “Tell me.” Ucapnya lagi dengan nada cemas.

They’re passed away.”

You’re kidding, right?? That’s lie.”

I’m not lying !!!” Minyoung semakin mempertekan setiap nada yang keluar dari mulutnya. Handphone Gongchan langsung  jatuh seketika dan membuat Sandeul terkejut karena handphone Gongchan mengenai kaki Sandeul.

”Hei ! Kamu gila ! Apa yang terjadi, Chan?” Namun Gongchan tak menjawab pertanyaan Sandeul. Tatapannya kosong dan tubuhnya gemetaran. Sandeul jadi ketakutan sendiri.

Chan? Are you okay??” Sandeul mengguncang-guncangkan tubuh Gongchan. Baru Sandeul sadari bahwa air mata mulai mengalir dan membasahi pipi Gongchan.

Chan menangis, batin Sandeul. Sandeul semakin panik dan perasaannya mulai tidak enak.Baru kali ini ia melihat anak yang keras kepala itu mengeluarkan air matanya. Sandeul semakin merasa ada yang tidak beres.

”CHAN !! LOOK AT ME !!! TELL ME WHAT HAPPENED !!!” Sandeul berteriak namun tatapan Gongchan masih kosong. Gongchan malahan menangis sejadi-jadinya di tengah kesunyian malam dan ia berjongkok dan menelungkupkan wajahnya di kedua lututnya yang dikatupkan. Gongchan tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Handphone Gongchan ternyata masih terhubung dengan Minyoung dan Minyoung pun bisa mendengar dengan jelas sekali jeritan anak bungsunya itu sehingga mau tidak mau, Minyoung pun menitihkan air matanya.

That’s my fault. I’m so sorry, Chan. I’m so selfish.” Minyoung pun memutuskan sambungan teleponnya. Tepat pada saat yang bersamaan, Sandeul mengambil handphone Gongchan.

”Hallo !! Hallo !!!” Namun yang ia dengar hanyalah nada yang sudah terputus.

Chan !!! Please, don’t make me scared !! Tell me, what happened with them !!!” Tangis Gongchan malah terhenti dan Sandeul semakin kuatir. Secara perlahan, ia menguncangkan tubuh Gongchan sekali lagi dan tubuh Gongchan pun roboh. Sandeul langsung menangkap tubuh Gongchan. Pipi Gongchan sudah basah oleh air mata.

“Chan !! Hei !! Kok kamu malah pingsan di saat seperti ini sih ??” Dengan sekuat tenaga, Sandeul membopong tubuh Gongchan dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

                                                   ***

Tokyo, 2 Januari 2010

Nichkun dapat merasakan derap langkah seseorang sedang menghampirinya dan semakin mendekat. Pikiran Nichkun langsung melayang entah kemana. Nichkun masih sangat mengkhawatirkan Nana dan Jinyoung. Tapi tiba-tiba terbesit sesuatu di benak Nichkun bahwa mereka sudah meninggal dan sekarang Minyoung akan membunuhnya juga. Tapi buru-buru Nichkun menghilangkan pikiran itu. Dia masih optimis bahwa Nana dan Jinyoung masih hidup.

”Nichkun.” Nichkun sekuat tenaga melihat siapa yang memanggilnya. Pandangannya pun sudah mulai sedikit kabur. Namun ia bisa melihat bahwa yang memanggilnya bukanlah Minyoung melainkan Sayoko dan mata Nichkun tertuju ke tangan Sayoko yang sedang memegang katana. Hati Nichkun menjadi semakin kalut dan beranggapan bahwa detik ini juga nyawanya akan dihabisi oleh Sayoko dan hanya dalam satu sabetan katana, akan membagi tubuh Nichkun menjadi dua bagian. Nichkun hanya bisa pasrah. Namun bukan seperti itulah kejadian yang akan dialaminya. Sayoko malah mengambil kunci dan membukakan jeruji Nichkun. Nichkun menatapnya bingung.

Lets go.” ucap Sayoko.

Where?”

Kill Minhwan.” Namun Nichkun tidak beranjak sama sekali dari tempatnya. Ia malah memandangi Sayoko dengan tatapan bingung. Ia mengira ia sedang bermimpi. Bodyguard Minhwan malah ingin membunuh tuan nya sendiri. Nichkun malah menganggap Sayoko ingin menjebaknya.

Hei !!” Sayoko mulai terlihat kesal. “What are you thinking about?”

Are you crazy? You want to kill your master??”

Yes. I want to kill him. I really really hate him.”

Why? You’re his bodyguard.”

No.. I’m not his bodyguard again. I’m his enemy now.”

Why? What happened with you.”

You talk  too much That’s what you want, right? I’ll help you. I don’t want to waste time. He’s not a human. He’s evil.

Sayoko, what happened with Jinyoung and Nana?” Nichkun mulai bisa membaca pikiran Sayoko. Pasti ada yang tidak beres. Pasti terjadi sesuatu dengan mereka.

”They passed away.” pipi Nichkun serasa ditampar dan ditimpa es batu sebanyak 1 ton.

Passed away? You’re lying.” Nichkun terpaksa tersenyum garing namun hatinya gundah.

I’m not lying. I’m telling the truth. I want to avenge Jinyoung’s death. I want to kill Minhwan.” Nichkun mengatupkan rahangnya keras-keras menahan amarah.

“B*stard….” Geramnya. Matanya mulai memancarkan percikan api yang menandakan perang akan dimulai. Sayoko pun menatap Nichkun dengan tatapan membunuh tapi bukan ingin membunuh Nichkun melainkan Minhwan. Sayoko melemparkan katana yang sedari tadi ia pegang kepada Nichkun dan dapat dengan mulus ditangkapnya.

You don’t use weapons?”

”I don’t need it.” Sayoko beranjak meninggalkan Nichkun dan Nichkun mulai membuntutinya.

                                                   ***

Master, I bring a cup of tea for you.”

Oh. Put in on the desk.”

Okay.” Sayoko berjongkok dan meletakkan secangkir teh di atas meja. Namun tatapan mata Sayoko tak terlepas dari Minhwan walaupun saat ini Minhwan tidak bisa melihat tatapan itu sebab ia sedang asyik membaca koran. Sementara itu, Nichkun sedang mengamati mereka dari balik pintu dapur. Perlahan-lahan Sayoko mengeluarkan sebuah pisau lipat kecil dari dalam saku celemeknya. Mata pisau itu sudah berkilat seolah tidak sabar untuk menembus jantung. Sayoko menggenggamnya dengan erat hingga tangannya pun ikut bergetar dan bibirnya pun bergetar menahan amarah. Sayoko bangkit berdiri dan memegang nampan di tangan yang satunya lagi. Tanpa diduga-duga sebelumnya, Sayoko menodongkan pisau tepat di depan muka Minhwan. Hanya berjarak sekitar 5 senti. Mau tidak mau, Minhwan pun mendongak dan menatap Sayoko.

What are you doing?” Bukannya menjawab, Sayoko malah meringis.

You b*stard. Your son passed away and you want to celebrate your son’s death. You are not human. Your’re crazy. Where’s your brain !!!” Sayoko semakin memajukan pisaunya.

So? What do you want? Do you want to kill me?”

“Aku punya dua alasan untuk membunuhmu. Pertama, aku punya alasan yang sama dengan Nichkun. Aku ingin membalas dendam untuk membalas kematian orang tuaku. Aku melayanimu hanya untuk satu tujuan yaitu mencari celah untuk membunuhmu. Kasian Jinyoung dan Nichkun yang punya orang tua sepertimu. Kedua, asal kau tahu, aku menyayangi Jinyoung dan Gongchan seperti anak kandungku sendiri dan kau terus membuat mereka menderita. Aku hanya berpura-pura mendukungmu dan ikut menyiksa mereka. Tapi dalam lubuk hatiku, aku ingin melepaskan mereka dan membawa mereka pergi dari rumah ini! Hanya saja aku masih menahan ambisi itu dengan satu harapan, aku masih bisa bertemu mereka. Sebab, jika aku menantangmu kau akan mengusirku dan aku tak bisa melihat mereka lagi. But now! Semuanya sudah terjadi! Gongchan pergi dari rumah dan Jinyoung sudah meninggal! Dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi! Tugasku disini telah selesai. Dan permainan sudah dimulai. Aku akan membunuhmu sekarang! ” Sayoko melayangkan sebuah tendangan ke arah perut Minhwan namun dengan sigap dapat dihindari oleh Minhwan.

You’re too underestimate me.” Minhwan menghela napas.

Sayoko kembali mengayunkan pisaunya namun lagi-lagi dapat dengan mudah ditepis Minhwan hingga pisaunya terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Memang harus diakui bahwa dari ukuran tubuh saja, mereka sudah sangat berbeda jauh. Tubuh Minhwan tinggi dan besar. Sayoko sama sekali tak menyerah. Ia melancarkan tendangan bertubi-tubi dan Minhwan dapat dengan mudah mem-block semua tendangan Sayoko. Minhwan malah menggenggam tangan Sayoko dan memelintirnya ke belakang. Sayoko meringis kesakitan. Namun ia tidak bisa melawan kekuatan Minhwan.  Sayoko berusaha meronta namun hasilnya tetap nihil. Saat itu juga, Nichkun ingin maju dan menyerang Minhwan. Namun Sayoko memberi tanda agar Nichkun tidak bertindak sekarang. Dengan jitu, Sayoko menendang alat kelamin Minhwan sehingga cengkraman Minhwan melonggar dan Sayoko memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur dan secepat kilat Sayoko mengambil pisau yang tergeletak di lantai dan mengarahkannya ke leher Minhwan.

Do you think you’ve won this fight?” Minhwan malah tertawa. “You’re wrong.” Imbuhnya lagi. Tak kalah cepatnya juga Minhwan kembali menarik tangan Sayoko yang sedang memegang pisau dan membanting tubuh Sayoko detik itu juga hingga ia terjungkal ke lantai. Sekarang posisi menjadi terbalik. Minhwan malah balik menodongkan pisau ke leher Sayoko dan senyum licik tersungging di wajahnya.

You’re a loser.”

Not yet.” Sayoko memejamkan mata sejenak. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

“Nichkun !!” serunya sambil membuka mata. Nichkun langsung berlari ke arah Minhwan dan menendang wajah Minhwan hingga sudut bibirnya berdarah. Sayoko mengambil kesempatan untuk melarikan diri. Ia mengambil pisau dari tangan Minhwan dan Sayoko pun kembali menendang wajah Minhwan. Lalu Sayoko merebut katana yang dipegang Nichkun dan membuka sarungnya. Sayoko bersiap untuk mengayunkan katananya dan menusuk Minhwan.

Sayoko !! STOP IT !!!” Minyoung muncul dari dalam kamar dengan mata sembap dan sedikit bengkak. Sayoko pun menghentikan gerakannya dan menoleh. Begitu juga dengan Nichkun.

Please, don’t do it. I’ve lost my son. I don’t want to lose my husband too.”

Sorry, madam. I can’t follow your order anymore.” Tatapan Sayoko kembali tertuju pada katana di dalam genggamannya dan dengan gerakan yang hampir tak terlihat, Sayoko mengayunkan katana dan langsung menghujam jantung Minhwan. Katana itu menembus dada Minhwan dan mulut Minhwan pun mulai dibanjiri oleh darah segar. Minyoung langsung berteriak histeris. Air mata kembali membanjiri pipinya. Tapi Nichkun masih merasa belum puas. Ia tahu bahwa Minhwan masih bernapas. Oleh sebab itu, Nichkun beranjak dan membuka sebuah laci dimana Minhwan meletakkan pistolnya. Nichkun mengambil ancang-ancang dan mulai membidik.

DOOR !!! Peluru tepat mengenai kepala Minhwan dan menembus otaknya. Suara tembakan diiringi oleh teriakan Minyoung lagi. Tubuh Minhwan pun roboh seketika. Saat ini, Sayoko dan Nichkun sungguh-sungguh telah menjadi pembunuh berdarah dingin hanya karena mereka dikuasai emosi dan dendam.

Mom, dad, I’ve been revenged your death.” Gumam Sayoko.

Me too.” Imbuh Nichkun.

Minyoung merasa sudah tidak sanggup melihat semua ini lagi. Ia sama sekali tak mengenali Nichkun dan Sayoko yang seperti. Dengan kaki yang sudah lemas, Minyoung memaksakan diri untuk berlari sejauh-jauhnya meninggalkan tempat ini. Meninggalkan Sayoko dan Nichkun yang masih berdiri terpaku tepat di depan mayat Minhwan.

                                                   ***

“Aduh, aku dimana nih…” Gongchan memegang kepalanya yang terasa pusing.

”Chan, apa yang sedang kau lakukan disini?” Jinyoung datang masih dengan style yang biasa ia pakai. Sama sekali tak berubah.

”H-yung” Gongchan berbicara tergagap-gagap sambil mengucek-ngucek matanya.

It’s impossible. Bagaimana mungkin hyung bisa ada disini? Kata eomma, hyung sudah meninggal.” Seulas senyum tersungging di wajah Jinyoung.

“Kamu salah tempat, Chan. Tak seharusnya kamu ada disini. Ini belum waktunya.”

“Apa maksud hyung? Aku kan mau bersama hyung terus.”

”Chan, kita pasti bisa berkumpul bersama lagi tapi tidak sekarang. Kamu coba deh lihat di sekeliling kamu.” Gongchan-pun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dan ia melihat hamparan bunga sakura. Gongchan mengerjap-ngerjapkan mata seolah tak memercayainya.

Utsukushii (Indah sekali).”

”Suatu saat kamu juga bisa datang kesini dan berkumpul bersama hyung. Tapi sekarang kamu harus kembali dulu. Temui dan jaga eomma. Kasihan kalau kamu tinggalkan eomma sendirian.”

”Kenapa hyung gak pulang bareng aku untuk bertemu eomma?” Raut wajah Jinyoung berubah menjadi muram.

Hyung tidak bisa bertemu eomma lagi. Hyung titip salam saja ya.” Jinyoung memaksakan untuk tersenyum. Tiba-tiba angin terasa kencang sekali. Bunga-bunga sakura yang tadinya tenang dan sangat cantik kini menjadi rontok dan betebaran kemana-mana.

”Chan, cuacanya memburuk. Kamu pulang saja ya.”

”Aku gak tahu jalan pulang, hyung.

”Kamu berbalik dan berjalan lurus saja ke arah Utara. Nanti kamu akan menemukan jalan pulang. Cepat. Anginnya semakin ribut.” Suara Jinyoung sudah tidak begitu jelas karena dikalahkan oleh deru angin dan Gongchan-pun harus berusaha memijakkan kakinya supaya tubuhnya tidak terhempas oleh angin. Syal yang tadi dikenakan oleh Jinyoung juga sudah terbang entah kemana. Rambut Jinyoung mulai acak-acakan.

”Pergilah.” ucap Jinyoung pilu.

”Aku mau bersama hyung !!!”

Not now !!! Chan, cepatlah pulang sebelum jalannya tertutup kembali.”

Hyung, jaga diri baik-baik ya. Jaga juga Nana. Aku menunggu kalian. Kita pasti bisa bertemu lagi. Aku juga titip salam untuk Nana.” air mata Gongchan mulai menggenang dan menetes.

”Ya, pasti.” Gongchan berusaha untuk membalikkan badan dan melawan ributnya angin. Tapi baru beberapa langkah berjalan, angin menjadi semakin kencang dan Gongchan berusaha untuk menoleh lagi tapi Jinyoung sudah tidak ada lagi disana.

Hyung???” tubuh Gongchan menjadi kurang keseimbangan dan akhirnya terhempas jauh entah kemana…

HYUNG!!!!”

Inoue Hospital, Tokyo, 4 JANUARI 2010

”CHAN !! HOI !!! BANGUN !!!”

Perlahan, Gongchan mulai membuka matanya namun suasana yang ia lihat bukanlah bunga sakura yang cantik melainkan suasana yang serba putih dan bau alkohol yang sangat menyengat.

”Akhirnya kamu siuman juga. Udah 2 hari kamu pingsan tau.”

”Dimana nih?”

”Di Rumah Sakit.”

”Jinyoung hyung mana? Tadi aku bertemu hyung.”

”Chan, mungkin kamu bermimpi. Barusan Nichkun menelponku dan mengatakan bahwa Jinyoung dan appa mu sudah meninggal.”

MWOYA !!! Appa…” Gongchan tidak melanjutkan kata-katanya. Matanya membelalak lebar..

”Iya. Nichkun ingin meminta maaf dan mengaku bahwa ia dan Sayoko lah yang telah membunuh Minhwan.”

”Sayoko?? Bagaimana bisa?? Sayoko adalah kaki tangan Minhwan.”

”Dendam. Cuman dendam yang bisa membuat orang menjadi buta.”

”Apa keluarga Sayoko juga dibantai oleh Minhwan?”

Maybe.”

”Lalu eomma?” Gongchan tiba-tiba teringat pada permintaan terakhir Jinyoung untuk menemui eomma dan menjaganya.

”Minyoung sudah kabur entah kemana. Chan, kamu harus mencarinya. Biar bagaimanapun, dia adalah eomma mu. Kamu sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain eomma mu.”

”Pasti !! Aku sudah berjanji pada hyung.” Gongchan buru-buru bangkit dari ranjangnya. Kepalanya masih pusing sedikit dan matanya berkunang-kunang.

”Eits, kamu mau kemana?”

”Mencari eomma.”

”Jangan sekarang. Nanti kamu bisa pingsan lagi. Gara-gara kamu kebanyakan nangis tuh. Aku kira hati kamu keras, ternyata kamu bisa nangis juga.” Sandeul tersenyum nakal. Pipi Gongchan mulai memerah dan Sandeul semakin terbahak melihat ekspresi Gongchan.

”Sembarangan.” ucap Gongchan.

”Sudahlah jangan malu. Setiap manusia pasti memiliki kantong air mata dan bisa pecah sewaktu-waktu. Chan, aku bisa menggantikan Jinyoung sebagai hyungmu. Walau mungkin aku tidak sebaik Jinyoung dan se-perfect Jinyoung. Aku juga sedikit iri padamu yang memiliki hyung seperti Jinyoung” Air mata Gongchan mulai memburu untuk keluar.

”Tuh kan. Baru bilang gitu aja udah mau nangis lagi. Aku udah lihat kamu 3 kali nangis tau. Aku sampai bosen. Pertama, kamu nangis histeris di tengah jalan kayak anak hilang. Kedua, mungkin kamu bermimpi ketemu Jinyoung jadi kamu nangis waktu kamu tidur. Aku kira kamu mimpi basah. Ketiga, sekarang. Chan, pokoknya kamu jangan mencari Minyoung sekarang. Tunggu kondisi kamu pulih dulu. Mata kamu udah bengkak kayak gitu kayak abis ditendang kuda. Sekarang aku menggantikan Jinyoung sebagai hyung mu. Jadi, kamu harus menurutiku.”

”Aku belum bilang bahwa aku setuju kamu jadi hyung ku kok. Sok ngatur-ngatur. Tapi Sandeul, kamu mau kan bantuin aku cari eomma?”

”Iya iya. Tapi tidak sekarang, okay?”

”Baiklah.”

”Sudah. Kamu istirahat dulu saja.” Gongchan membetulkan kembali posisi tidurnya dan mulai memejamkan mata. Ia berharap supaya bisa betemu Jinyoung lagi di dalam mimpinya sekaligus bertemu dengan Nana juga.

 

Jepang, 5 Januari 2010

Nichkun masih berdiri terpaku di depan makam orangtuanya.

”Mom, dad, sekarang aku sudah membalaskan kematian kalian. Minhwan sudah kubunuh dengan tanganku. Jepang akan menjadi kota yang tenang di bawah pemerintahan Gongchan kalau ia sudah dewasa nanti. Aku juga sudah kehilangan adik-adik angkatku dan jenazah mereka masih belum ditemukan sampai saat ini. Sekarang tugasku sudah selesai di dunia ini.” Nichkun mengambil sebilah bambu runcing yang dijadikan pagar di sekeliling makan orang tuanya. Nichkun menggenggamnya dengan ragu. Hati kecilnya berbicara : Apakah sudah benar ia melakukan hal ini? Membunuh pamannya sendiri dan membuat sepupunya menjadi anak yatim. Kalau ia sampai bunuh diri, bagaimana dengan Victoria? Bahkan ia pun belum bertemu Gongchan dan meminta maaf.

Nichkun menjadi semakin ragu untuk bunuh diri. Tiba-tiba Nichkun merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Nichkun pun menjatuhkan bambu runcing dan menoleh ke belakang.

”Na.. Na…” Nichkun malahan mundur beberapa langkah. Tatapan Nana begitu tajam dan langsung menembus ke tatapan mata Nichkun. Nana menunjuk bambu yang tadi ingin digunakan oleh Nichkun sebagai alat bunuh diri lalu Nana menggelengkan kepala. Nichkun cukup tahu kemauan Nana yang melarangnya melakukan hal seperti itu. Ia pun masih sangat ragu untuk melakukannya.

”Kau melarangku untuk bunuh diri?” Nana menganggukan kepalanya.

Apa Nana adalah utusan agar aku menghentikan tindakan bodoh ini? Ya ampun, apa yang sudah aku lakukan, Nichkun berjongkok sambil menelungkupkan kepalanya.

”Kamu benar, Na. Tak seharusnya aku melakukan ini. Aku harus mencari Gongchan dan Minyoung.”

”Nichkun??” Nichkun membeku beberapa detik.

Nana bisa bicara? Aku lagi mimpi atau… Tapi kok suaranya lain ya??” Nichkun menegadahkan kepalanya dan melihat Sayoko berdiri di hadapannya sambil membawa tas koper dan ransel. Baru kali ini Nichkun melihat Sayoko tanpa mengenakan celemek dan seragam keluarga. Jujur, Nichkun merasa salut pada Suzaku yang bisa menyulap wanita yang sudah berumur menjadi seorang gadis yang baru berusia 20 tahunan. Bahkan dari staminanya pun, tidak akan ada yang menyangka bahwa Sayoko sudah memiliki umur. Itu berkat ramuan tradisional dari Minhwan. Tak ada kerutan satupun yang tersamar di wajah Sayoko. Sayoko masih terlihat mulus dan kalau dilihat-lihat, wajah Sayoko hampir mirip dengan Nana. Kali ini Sayoko mengenakan celana jeans dan kaos casual yang membuatnya terlihat santai.

“Sayoko, what are you doing here?”

“My parents’ funeral around here.” Sayoko menyunggingkan seulas senyum. Kemudian, ia mengulurkan tangannya dan Nichkun malah menatapnya bingung.

Thanks for you help.

We’ve the same reason. No problem.” Nichkun menyambut uluran tangan Sayoko. “Sayoko, where do you want to go?” tanyanya lagi.

My job has been done here. If I stay here, just remind me of  bad memories and the death of the people I love. I think I must go now.

Where?

USA. You’re not return to London?

I have a plan to return to London after I make sure that Gongchan dan Minyoung’s condition is fine and after they meet again

I haven’t met Gongchan. Where is he? Is he fine?

He is fine. He is in the hospital. I’ve called Hikaru.

How about Minyoung?

I don’t know. I’ve lost contact with her.

Nichkun, I have a feeling about where is Minyoung now.

Where?

Jooyeon’s house. Do you want to try to come there? But we must tell Gongchan.” Nichkun bangkit berdiri dan mengangguk.

Lets go.” Nichkun berjalan mendahului Sayoko.

By the way, when you are heading for USA?”

Later. I still have time to meet Minyoung.”

 

                                                   ***

Singapore, 5 Januari 2010

”Nana kemana sih. Kenapa sampai sekarang dia belum tiba di Singapore juga?” Ibunda Nana sedari tadi meremas-remas handphone nya berharap Nana menelponnya dan memberikannya kabar. Dan benar saja tiba-tiba handphone itu bergetar. Ibunda Nana menatapnya dengan raut wajah bingung.

”Kode Jepang?” tanpa ba-bi-bu lagi, ia buru-buru mengangkat telepon. Dengan ragu, ia bicara dengan bahasa Jepang yang masih sangat kaku.

Moshi-moshi.

”Selamat siang. Apa saya sedang berbicara dengan ibu dari Nana?”

”Ya benar.” Perasaannya semakin tidak enak. Ditambah lagi dengan suara si pembicara yang begitu tenang dan menghanyutkan.

”Saya hanya ingin memberi kabar yang mungkin bukanlah kabar yang baik. Bahkan mungkin bisa dikatakan amat sangat buruk.” Detak jantungnya semakin tidak karuan.

”Anda siapa? Apa terjadi sesuatu pada anak saya?”

”Saya langsung ke topik pembicaraan saja. Nana sudah tidak ada. Dia jatuh ke dalam jurang. Saya sangat menyesali kejadian ini. Sampai saat ini jenazahnya belum ditemukan.” Tak ada respon. Kedua pembicara langsung hening.

”Anda siapa? Lelucon anda sama sekali tidak lucu.”

”Saya sama sekali tidak berbohong. Ini memang pahit tapi itulah kejadian yang sebenarnya. Terserah anda mau percaya atau tidak.”

Klik.. Telepon diputus…

Disamping itu, Nichkun duduk termenung di bangku taman Rumah Sakit sambil menatap handphonenya pedih. Air matanya mulai jatuh.

”Nichkun !! Mau jalan sekarang?” Gongchan muncul ditemani Sandeul dan Sayoko. Sayoko membawa tas yang berisi baju-baju milik Tuan Mudanya. Nichkun buru-buru menyeka air matanya.

”Yuk pergi sekarang.”

                                                   ***

Jooyeon’s House, 5 Januari 2010

You can stay here for a while. Although Jooyeon don’t get married with Jinyoung, you still my sister. Jooyeon is very sad when heared the news about Jinyoung’s death. Me too. Sorry to hear that

Thanks.”

“Drink tea first to warm your body.”

I’m really sorry.  Jinyoung passed away because of my fault. I’ve killed my own child because of my selfishness. Then, I saw Minhwan’s death in front of my eyes.”

I know. This is your fault. From the beginning, I already knew that Jinyoung really loved that girl. I can see it. You should know the consequences earlier. I’ll never change our friendship just because Jinyoung refused to marry with Jooyeon. I can understand Jinyoung’s feeling. And you’re his mother how can you can’t understand your son.” Tangis Minyoung kembali pecah lagi. Ia baru menyadari kebodohannya dan penyesalannya sangatlah dalam. Anaknya tidak akan pernah kembali lagi untuk selamanya. Semua karena keegoisannya dan suaminya hingga Ia harus merelakan Jinyoung.

I’ve lost all of my family.”

Don’t give up. You still have Gongchan. You must find him.”

“Chan.. Oh my god… I’m forget. I still have Chan. I must find him.”

Minyoung, I will help you to find Gongchan. But not now. You must take a full rest now. Tomorrow, we are looking for him, okay?” Minyoung hanya mengangguk dan kembali menyesap tehnya.

                                                   ***

Ting Tong….

Wait a minute.” Teriak seseorang dari dalam. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Jooyeon keluar dengan rambut setengah basah.

Sayoko-san?” tanyanya tak yakin.

Hai. Yuri. Can I meet your mom?”

Yeah. Come in.” Jooyeon menuntun mereka semua menuju ruang tamu.

MOM !!!” teriaknya..

Who is coming —-“ Ia tak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya terpaku di tempat sebelum akhirnya berkata,

Sayoko-san? Gongchan-kun?” tanyanya setengah tak percaya.

Yeah, It’s me madam.” Ucap Sayoko sopan.

Obaasan, did you meet my mother? I want to meet her.

She is in.” Gongchan langsung tersenyum lebar dan menoleh ke kiri dan kanan melihat Nichkun, Sayoko dan Sandeul bergantian dan mereka hanya menjawabnya dengan senyuman. Mereka kembali dituntun menuju sofa besar di ruang utama yang sudah tertata dengan sangat rapi. Rumahnya juga sangat rapi dan mewah. Setiap sudut ruangan, pasti diletakkan pot bunga sehingga begitu masuk ke dalam ruangan, harum bunga langsung merebak. Ibunda Jooyeon sangat menyukai bunga-bunga seperti Adenium (Kamboja Jepang), Cherry Blossom (Bunga Sakura), Morning Glory, Fresia, Akebono, Harusame, Tamanoura, Camelia dan sebagainya. Biasanya Camelia sering dipajang di ruangan minum teh. Dan bunga-bunga lainnya akan bermekaran di musim semi pada saat yang bersamaan. Sungguh indah jika melihat bunga-bunga mulai bermekaran. Gongchan kembali ke dalam dunia nyatanya saat ibunda Jooyeon berkata,

Wait a minute. I’ll call her.” Ia pergi meninggalkan mereka di ruang tamu.

                                                   ***

Minyoung, it’s me. Open the door, please.” Minyoung pun membukakan pintu. Wajahnya tampak lebih segar karena habis mandi. Matanya juga sudah tidak begitu bengkak lagi.

What happened?”

You have guess.” Raut wajah Minyoung tampak bingung.

Guess? Whom?”

Check by yourself.” Ibunda Jooyeon malah pergi dan masuk ke dalam kamarnya. Tinggallah Minyoung yang masih dipenuhi tanda tanya mengenai tamu misteriusnya. Daripada bingung sendiri, akhirnya Minyoung pun memutuskan untuk beranjak dan menemui tamunya. Tinggal beberapa langkah lagi, ia sampai di ruang tamu. Namun ia sudah bisa melihat dengan jelas siapa tamu yang mengunjunginya. Tetes air mata mulai bergulir membasahi pipi Minyoung. Orang yang selama ini dirindukannya berada di hadapannya saat ini. Ia tidak perlu repot-repot mencarinya lagi. Doanya telah dikabulkan. Dalam hati, Minyoung merasa senang karena rupanya Gongchan masih sangat memperdulikannya sampai mencarinya kesini. Minyoung tak bisa menahan kakinya lagi untuk berlari dan menemui anaknya.

”CHAN !!!” panggil Minyoung dan membuat semua orang menoleh. Gongchan langsung bangkit berdiri.

Eomma !!!” Tanpa berpikir panjang lagi, Gongchan langsung berlari dan menghambur ke pelukan eomma nya.

I miss you, mom.” Gongchanmenangis dalam pelukan eomma nya.

Me too.” Sementara mereka berpelukan, Sayoko, Nichkun dan Sandeul kembali bertukar pandang dan tersenyum. Sayoko dan Nichkun memutuskan untuk menghampiri mereka.

Madam.” ucap Sayoko lembut. Minyoung sangat gugup menghadapi pembunuh suaminya. Memang inilah sosok Sayoko yang Minyoung kenal. Bukannya Sayoko yang berubah menjadi pembunuh berdarah dingin. Sayoko dan Nichkun membungkukan badan mereka bersamaan.

Gomenassai.” ucap mereka serempak.

I’m so sorry to kill Minhwan. But this is the best way for you. I’m sure you can take care of Chan by your self. You don’t need people like Minhwan although he is your husband. It’s better than you live with him. He is very happy with his son’s death. What kind of father he is !!! He was killed his brother !! Gongchan will be happy to live with you only. Without father like him. He is an evil father.

You don’t know anything about him. Don’t judge him.

I know, Minyoung. I know. I know your husband character. He is arrogant and never think human’s feeling.” Tangis Minyoung semakin pecah.

He was killed my family and Nichkun’s family too.

Aunty, I only want to revenge my parents’ death. Minhwan killed his brother and I killed my uncle. It’s fair, right? And you made one fault too.

What?” tanya Minyoung dengan terbata-bata menahan isak tangis.

You make your son passed away !! Because of your arrogant. If you didn’t make a plan to kill Nana, Jinyoung never die. He just want to protect his lovely girl. Minhwan’s death problem, it’s my fault. But Jinyoung’s death, it’s your fault. In fact, I’m very angry with you. I’ve considered Nana as my little sister and Jinyoung is my cousin. And because of your selfishness, they passed away.

Madam, I don’t have much time anymore. I want to live in a place which far away and forget all of problems in Japan.

Sayoko, where are you going?” tanya Sandeul yang daritadi hanya berdiam diri saja.

I want to go to USA. You can invite me there.

Oh. I also want to back to London. Long time no see Victoria. She will worry about me.

Sandeul menepuk jidatnya.

Oh my god. How can I forget about Suzy. I never call her. Nichkun, I go back with you to London.

“Chan, I leave you here with your mom. If you have anything or something wrong in here, you can call me.

Okay. Thanks.” Gongchan masih sesenggukan.

Aunty, take care yourself and your son.” Nichkun membungkukan badan lalu berbalik diikuti Sayoko dan Sandeul.

Madam, thank you for everything.” Ucap Sayoko. Sepeninggal mereka, Minyoung kembali berpelukan dengan Gongchan dan menangis terharu. Dalam hati, Minyoung masih bersyukur masih memiliki Gongchan yang walaupun tidak se-perfect Jinyoung, namun masih bisa dibanggakan.

God, I hope Jinyoung, Minhwan and Nana can live happily in your side, doa Minyoung.

Hyung, I promise to take care of mom. Don’t worry. You live happily with Nana, forever. Nobody will separate you and Nana, batin Gongchan.

                                                   ***

Tokyo International Airport, 5 Januari 2010

Where do yo want to go? Singapore?” Sayoko melirik tiket yang dipegang oleh Nichkun.

Yeah.

Do you want to live in Singapore?”

No. I want to meet someone.

Whom?”

Nana’s mother.

Oh. So, Sandeul? Do you want to go to Singapore too?”

Yupz.

Okay. Have a nice trip. I must go now.” Sayoko berjalan sambil melambaikan tangan menuju gate dengan tujuan penerbangan Los Angeles.

Raffles Hospital, Singapore, 6 Januari 2010

Seseorang dengan ragu memegang knot pintu sambil memeluk sebucket bunga. Di belakangnya berdiri juga orang lain yang sama ragunya. Akhirnya pintu pun dibuka. Mereka melihat sesosok wanita yang nampak tidak asing lagi bagi mereka. Wajahnya benar-benar mengingatkan mereka pada sesosok gadis yang amat mereka rindukan. Gadis yang periang. Namun wajah wanita itu sangatlah pucat dan kurus seperti sudah beberapa hari tidak makan. Tatapannya kosong sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran seseorang.

”Selamat siang, Nyonya.” wanita itu menoleh dengan lunglai. Di sepanjang tangan wanita itu terdapat banyak sekali guratan-guratan tipis seperti bekas sayatan beling. Suara pria yang ada di hadapan mereka mungkin terdengar tidak asing lagi.

”Anda siapa?” tanyanya. Nichkun berjalan maju tepat di samping ranjang wanita itu.

”Saya Nichkun dan dia Sandeul.” Nichkun menunjuk orang yang dari tadi mengekor terus. ”Saya yang kemarin itu menelpon Anda dari Jepang.” penuturan Nichkun membuat tubuh wanita tersebut menegang. Pantas saja baginya, suaranya sudah tidak asing lagi. Ia memang pernah berbicara dengan lelaki ini. Suara yang dalam, tenang, penuh penghayatan dan juga menghanyutkan. Nichkun meletakkan bucket bunga yang ia bawa di atas meja.

”Maaf, saya harus membawa kabar duka ini untuk Anda. Saya sama sekali tidak berbohong mengenai hal yang menimpa Nana. Maaf, saya lancang datang kesini. Saya tahu semuanya tentang Nana karena selama ini Ia tinggal bersama saya di London. Saya juga yang memberitahunya bahwa anda masih hidup dan dirawat di Singapore. Saya adalah dokter yang selama ini merawat Nana dan memantau kondisi anda dari jauh selama anda tidak sadarkan diri begitu saya mengetahui bahwa anda masih hidup. Saya turut berduka cita. Sampai saat ini, tim evakuasi masih berusaha menemukan jenazah Nana. Saya hanya ingin menyampaikan hal ini saja. Saya pamit dulu. Selamat siang.” Nichkun dan Sandeul membungkukan badan lalu pergi meninggalkan wanita tersebut. Sepeninggal Nichkun dan Sandeul, tangis wanita itu langsung pecah. Ia menangis terisak-isak. Hatinya sudah hancur dan terkubur bersama jenazah suami dan kedua anaknya.

                                                   ***

Cheval Group of Serviced Apartement, London, 8 Januari 2010

Ting Tong…

Hi Victoria.. Long time no see.

“NICHKUN !!!” Victoria langsung memeluk Nichkun. “I miss you.” Imbuhnya lagi.

Me too..

“Vic, kenapa matamu bengkak gitu? Habis nangis?”

”Aku sudah mendengar kabar mengenai kematian Jinyoung, Nana dan juga Minhwan. Aku sungguh tak menyangka hasilnya akan seperti ini.”

”Kau tahu darimana?”

”TV dan Gongchan. Kematian Minhwan sudah menyebar di media. Katanya Ia dibunuh oleh pembunuh berdarah dingin. Katanya jantungnya ditusuk dengan katana dan kepalanya ditembak pistol lagi. Apakah kamu yang melakukannya? Tapi katanya pelakunya kemungkinan ada dua orang. Cewek dan cowok.”

”Yang cowok memang aku. Yang cewek itu Sayoko.” Victoria bengong beberapa saat.

”Sayoko-san??? Dia kan anak buah Minhwan. Mana mungkin dia berbuat seperti itu. Kenapa??”

”Ceritanya panjang. Ayo masuk. Aku ceritakan di dalam. Di luar dingin sekali.” tubuh Nichkun mulai menggigil dan ia berulang kali menggosok-gosokkan kedua tangannya sambil meniupnya supaya hangat.

”Oh iya. Maaf. Aku sampai lupa menyuruhmu masuk. Ayo masuk.”

                                                   ***

ST. Johns Wood Apartment, London, 8 Januari 2010

Ting Tong…

Suzy… Annyeong….”

OPPA!!!” Sandeul langsung disambut oleh pelukan adiknya. Sungguh hangat dan nyaman rasanya. Seperti sudah berabad-abad ia tidak merasakan pelukan seperti ini.

Bogoshipeo… Oppa gak pernah kasih kabar. Aku kuatir..” Suzy menangis sesenggukan.

Mianhae.” Sandeul mengusap-usap kepala Suzy.

”Oppa, aku sudah tahu semuanya. Ayo masuk. Lihat di TV. Jenazah Jinyoung dan Nana sudah ditemukan.”

”MWO !!!” Sandeul buru-buru masuk ke ruang tamu dan duduk manis di depan TV. Ia melihat layar TV dengan saksama dan ia dapat melihat dengan jelas tubuh Jinyoung dan Nana yang sudah membeku masih dengan katana yang menembus tubuh mereka berdua. Tim evakuasi sedang berusaha untuk mencabut kedua katana itu. Tapi karena tubuh mereka dan katana itu sudah membeku dan menyatu, jadi sulit sekali untuk dilepaskan. Tapi tim evakuasi tidak menyerah. Setelah penuh perjuangan, akhirnya katana itu pun tercabut. Tidak ada darah yang mengalir lagi. Itu tandanya darah mereka pun sudah membeku. Lalu menurut kabar, telah ditemukan lagi satu jenazah lain yang nampaknya tewas bunuh diri di mulut jurang. Sebab di pisau yang menusuk jantung jenazah itu ada sidik jarinya sendiri dan sidik jari yang ada di pisau itu sama dengan sidik jari di katana. Bisa dikatakan bahwa orang itulah yang telah menusukkan katana ini sebelum akhirnya ia bunuh diri juga.

”Ayano…” gumam Sandeul. Matanya masih tak berkedip mengamati berita. Hati Sandeul masih sangat sakit dan pilu melihat tubuh kedua sahabatnya seperti sekarang ini. Pucat pasi, diam tak bergerak. Padahal dulu celotehan mereka berdua yang bisa membuat suasana hati Sandeul membaik. Tapi sekarang mendengar suara mereka saja sudah mustahil. Sandeul mengambil handphone nya dan menelpon seseorang.

”Nichkun, kau lihat TV sekarang.”

”Aku sudah lihat. Chan sudah memberitahuku. Sangat mengenaskan. Sungguh malang nasib mereka harus pergi dengan cara seperti ini.”

”Terus apa yang musti kita lakukan?”

”Aku sudah menelpon tim evakuasi dan aku bilang aku akan mengurus semuanya. Jenazahnya akan dikremasi. Abunya akan dibuang ke laut.”

”Kremasi? Apa tidak sebaiknya dikubur saja? Yang memegang kendali kan eomma nya. Kau tanya eomma nya dulu saja. Mungkin saja Nana ingin dimakamkan di samping jenazah appa dan namdongsaeng nya.”

”Oh.. Nana memang akan dikubur dan aku akan mengurus penerbangannya ke Seoul. Yang aku maksud dikremasi itu Jinyoung dan Minhwan.”

”Oh, kau sudah menghubungi eomma nya?”

”Belum. Ini baru mau. Tapi kau menelponku duluan.”

”Oh. Baiklah. Kalau ada kabar terbaru sekecil apapun, beritahu aku ya. Bye.”

”Bye.”

                                                   ***

Seoul, 12 Januari 2010

Titik-titik hujan mulai turun. Suasana seperti ini persis seperti setahun yang lalu tepat di hari pemakaman Taemin. Dan kejadian itu terulang lagi. Teman-teman Nana datang ke pemakaman untuk mengantarkan Nana ke tempat peristirahatan terakhirnya. Key, Mir, Dongwoon, Nichole, Minho, Jaejin menghadiri pemakaman teman yang sangat mereka sayangi. Tampak air mata sudah membasahi pipi mereka. Sayangnya teman-teman baru Nana tidak bisa datang ke Seoul. Gongchan sedang sibuk mempersiapkan pertunangannya dengan adiknya Jooyeon di Jepang. Karena selama ini mereka tinggal bersama, Gongchan menjadi akrab dengan adiknya Jooyeon dan merasa cocok satu dengan yang lain. Pertunangan mereka akan dilangsungkan pada bulan Februari dan pernikahan akan dilangsungkan bulan Maret. Sedangkan Jooyeon sudah mulai bisa melupakan Jinyoung. Ia sudah memiliki pengganti Jinyoung. Sementara Nichkun sedang ada rapat penting yang dihadiri oleh dokter specialist dari seluruh dunia dan jadwalnya tidak bisa di cancel lagi. Rapat ini untuk membicarakan mengenai penanganan penyakit baru. Victoria juga sedang ada presentasi di kantornya padahal ia ingin melihat Nana untuk yang terakhir kalinya. Sementara Sandeul dan Suzy sedang sibuk dengan kerja sambilan mereka di sebuah restaurant fast food.

Jenazah Nana sudah dimasukkan ke liang kubur. Di samping makam dongsaeng dan appa nya. Foto Nana yang dipajang adalah fotonya di London. Nichkun sempat mengambil fotonya dan Nichkun pun mengirimnya ke Seoul dan ia minta agar foto itu dipajang di pemakaman Nana. Tangis kembali menguasai area. Terutama ibunda dari Nana. Kakinya sudah lemas dan tidak sanggup lagi untuk pergi untuk pergi dari TPU tersebut. Ia ingin masuk saja ke liang kubur itu dan menemani anak-anaknya. Apalagi jenazah Nana sangat mengenaskan. Ia sempat pingsan begitu melihat beritanya di TV.

                         TO BE CONTINUED

11월 8, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , , ,

댓글 한 개 »

  1. so sad…
    aq baca dari part awal… namun baru bs berkomentar skrg.
    i so so love this fanfic…
    tp aq bnr2 sgt sedih

    댓글 by arvita | 11월 9, 2011 | 응답


답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: