liesha92

BANA

[FANFICTION] My True Love (Part 10) – END

Title:                        My True Love (Part 10) – END

Author:                    Lisa Lunardi

Genre:                      Romance, Action, Sad

Length:                    Series

Main Cast:                Nana, Jinyoung, Victoria, Nichkun

Other Cast:              Gongchan, Sandeul, Suzy, Minyoung (OC as Jinyoung’s mother), Minhwan (OC as Jinyoung’s father), Jooyeon & find it more ^^

Languange:              France, Japanese, English, Korean & Indonesia

Baca dulu: Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7Part 8Part 9

                                              EPILOG

 

 Beberapa bulan kemudian…

Jepang, 10 Maret 2010

Gongchan sedang bersiap-siap di kamarnya untuk mempersiapkan diri menghadapi pernikahannya dengan adik dari Jooyeon. Gongchan melihat fotonya, Jinyoung dan Nana pada saat mereka sedang jalan bersama dan memorinya kembali teringat pada malam natal tahun lalu disaat mereka sedang merayakan bersama di Clos Maggiore dan Gongchan ngambek karena Jinyoung tidak mau menuruti permintaannya untuk pergi ke tempat yang Gongchan inginkan. Lalu ia pergi meninggalkan mereka.

“CHAN!!! Kau jangan membuat hyungemosi ya…. Kamu sebetulnya maunya kemana???”

“Kok hyung jadi marah-marah sih? Aku kan ikut kesini karena permintaan hyung. Huh ! Tauk gitu aku pergi aja deh ama teman-temanku. Pasti jauh lebih menarik. Ya sudah, terserah kalian saja mau kemana. Aku mau pulang saja.” Gongchan segera berbalik meninggalkan mereka.

Itulah kenangan yang paling diingat Gongchan sampai saat ini dan akan ia ingat terus sampai mati.

Hyung, semoga bahagia ya disana bersama Nana noona. Gak akan ada yang menghalangi cinta kalian lagi. Aku mau menikah sekarang. Doakan ya supaya bisa langgeng dan hubungan ku bisa seperti kalian. Bersama sampai maut memisahkan.”

Chan !!! Quickly !!! Their family is coming !!” Teriak Minyoung.

Wait a minute.” Gongchan buru-buru mencium foto tersebut terutama Jinyoung dan Nana. Gongchan tersenyum sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kamarnya.

                                             ***

King’s College Hospital, London, 9 Maret 2010

Hari ini Nichkun harus lembur lagi dan berkutat di depan laptopnya mengetik bahan-bahan presentasi untuk besok. Namun pikirannya sedang melantur kemana-mana. Untuk selalu mengenang Nana dan Jinyoung, Nichkun sampai menjadikan nama mereka berdua menjadi nama therapy penyembuhan yang dikenal dengan Nayoung Theraphy dan obat-obatan antibiotiknya yang dipasarkan diberi nama JinAh Capsule (?) Nichkun kembali melamun sambil memandang fotonya, Nana, Jinyoung dan Victoria di depan Big Ben. Pada saat foto itu diambil, merupakan hari bersejarah untuk Nana dan Jinyoung.

“Nana, maaf ya. Aku masih belum bisa datang ke Seoul untuk ke makammu. Tugasku benar-benar padat. Tapi aku masih berhutang nyawa sama kamu, Na. Kamu yang sudah menyadarkan aku. Kalau tidak, mungkin aku sudah meninggal karena tindakan konyol itu. Aku tidak bisa memahami perasaan Victoria. Aku tidak peka. Maaf ya kalau aku memakai namamu dan Jinyoung sebagai nama therapy dan obat-obatan.”

Nichkun kembali teringat pada saat ia mempertemukan Nana dengan Jinyoung.

Saat itu Nana sedang menunggu Nichkun yang sedang melakukan operasi. Sudah berjam-jam menunggu akhirnya Nana pun pergi dengan kesal ke taman rumah sakit. Entah apa yang sedang ia lakukan. Tiba-tiba ia datang ke ruang kerja Nichkun  sambil membopong seorang laki-laki yang sedang terpincang-pincang.

”Jinyoung?? Kamu kenapa?”

“Owh, Nichkun.. Gadis ini sudah gila !!” Nichkun bisa melihat wajah Nana berubah garang.

“Heh! Jangan ngomong sembarangan! Ini semua kesalahamu!”

“Hei, jangan bertengkar. Ayo coba ceritakan kalian kenapa?”

“Jadi gini loh oppa. Aku kan lagi duduk di bangku taman. Lalu aku merasa sedang diperhatikan oleh seseorang. Aku celingak-celinguk tapi gak ada orang. EH, taunya ada yang ngelempar aku pakai kulit pisang. Aku cari sumbernya. Eh, taunya aku lihat nih anak monyet lagi duduk di atas pohon.. Langsung aja deh. Aku teriak dari bawah suruh dia turun. Tapi dia lagi dengerin i-pod jadinya gak denger. Ya udah deh. Aku copot sepatuku lalu aku sambit aja dia sampai jatuh. Ya gini deh jadinya. Pincang. Biar tauk rasa nih anak. Masih untung aku punya hati jadi gak ninggalin dia sendirian.”

”HEH !!! Aku kan gak tau dibawah ada orang. Lagipula jadi cewek lembut sedikit dong. Kasar amat sih.”

”Tengil !.” Nana mulai nampak kesal karena dibilang kasar.

”Sudah-sudah. Kalian jangan ribut. Nana, kenalkan dia Jinyoung, temanku. Dia dapat beasiswa disini.” Jinyoung membusungkan badannya.

”Jangan sok deh ah. Baru juga dapat beasiswa.”

”Jinyoung, ini Nana adik angkatku.”

Lalu perlahan-lahan mereka pun mulai akrab walaupun hari-hari selalu dipenuhi pertengkaran. Saat itu Jinyoung ingin mengutarakan perasaannya pada Nana di depan Big Ben namun ia masih belum siap mental pada saat itu. Ia takut Nana menolaknya. Dan saat itu Nichkun mengabadikan foto mereka. Dan foto itu selalu ia pajang di ruang kerjanya untuk menambah energinya.

I make coffee for you.” Suara office boy membuyarkan lamunan Nichkun. Nichkun melepas kacamata tipisnya sambil memijit-mijit pelipisnya.

Okay. Put it on the desk. You can go home now.”

“Thank you.”

Nichkun kembali serius dan mengetik. “Aku harus menyelesaikan bahan-bahan dulu. Hwaiting !!!” Nichkun meminum kopi bikinan office boy.

                                          ***

Monmouth Coffee Company, London, 9 Maret 2010

Victoria berjalan menuju ruang kerjanya. Lalu langkahnya terhenti dan pandangannya tertuju pada bangku taman yang dulu pernah diduduki oleh Victoria dan Nana. Pada saat itu Nana datang ke kantor Victoria dan membawakannya aneka macam masakan Jepang. Katanya ia diajari Jinyoung cara membuatnya dan ia ingin Victoria juga mencicipinya.

”Eonni, coba tebak aku bawa apa?”

”Hmmm, apa ya.. Gak tau deh nyerah.” Nana mengeluarkan lunch box pink dari dalam tasnya.

”Wow, pasti isinya makanan ya??”

”Yupzz..” Victoria membuka lunch box tersebut.

“Ya ampun. Makanan Jepang. Kamu membuatnya sendiri.”

“Iya sih. Tapi dengan bantuan Jinyoung juga. Aku kan gak gitu ngerti soal masakan Jepang.”

”Wah, Jinyoung jago masak juga ya. Aku coba ya.” Victoria memasukkan sepotong sushi ke dalam mulutnya.

”Gimana? Enak gak?” Nana penasaran. Wajahnya maju beberapa senti menunggu reaksi Victoria.

”Wow, fantastis. Enak banget. Udah lama aku gak makan makanan Jepang. Kalian emang pasangan yang hebat dan klop banget deh pokoknya.” Nana tersenyum sumringah mendengar pujian dari Victoria.

Victoria masih berdiri terpaku sambil menatap bangku kenangan itu. Tanpa ia sadari, air matanya mulai bergulir dan membasahi map yang sedari tadi ia pegang.

”Nana, sekarang aku sudah tidak memiliki adik lagi dan tidak akan ada yang perhatian lagi padaku dan membawakanku lunch box pink. Tapi aku cuman bisa berdoa agar kamu dan Jinyoung bisa bahagia disana. Suatu saat, aku pasti akan menyusul kalian. Entah kapan..”

”Vic, are you okay? You are crying?” tanya salah seorang rekan kerjanya. Victoria buru-buru menyeka air matanya.

Nothing. Don’t worry. I’m fine.” Victoria buru-buru melanjutkan langkahnya dan memasuki ruang kerjanya..

                                          ***

Oxford University, London, 10 Maret 2010

“Mati aku… Ini jawabannya apa…” keringat mulai mengucur dari pelipis Sandeul. ”Aku gak belajar sama sekali.” Sandeul saat ini sedang mengikuti ujian dan ia sama sekali tidak belajar sebab ia terlalu lelah karena sekarang ia sudah kerja sambilan di Pizza Express. Sandeul berusaha untuk melirik ke kiri dan ke kanan tapi akhirnya nihil. Akhirnya Sandeul menyerah. Ia meletakan alat tulisnya dan memandang ke luar jendela.

Coba di Jepang. Musim semi seperti ini, pasti bunga Sakura bermekaran dan indah banget di sepanjang jalanan. Sayang disini tidak ada bunga Sakura, batin Sandeul. Sandeul kembali melamun dan pikiranya terbang ke awang-awang. Ia kembali memutar ingatannya di Clos Maggiore tempat ia bertemu Jinyoung dan Nana dan ia mulai merasa jatuh hati pada gadis itu.

“JINYOUNG !!!” Jinyoung merasa seperti ada yang memanggil namanya. Ia pun celingak-celinguk mencari sumber suara itu.

“Sandeul?” Jinyoung melihat Sandeul sedang melambai-lambaikan tangan ke arahnya dan ia pun mendekati meja Jinyoung.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi denganmu disini. Jinyoung-ah, Apakah ia adalah pacarmu?” Sandeul melirik nakal ke arah Jinyoung.

“Maybe yes maybe no” Jinyoung hanya tersenyum kecil.. Sejujurnya ia bingung akan hubungannya dengan Nana. Mereka bisa dikatakan seperti orang berpacaran namun sejujurnya Nana selalu ragu untuk menerima cinta Jinyoung.

“Hello. My name is Lee Junghwan. You can call me Sandeul. Nice to meet you.” ucap Sandeul dengan bahasa Inggris yang sedikit kaku.

“Hello. My name is Nana. Nice to meet you too” Nana membalasnya dengan senyuman manis persis seperti boneka.

“Are you Bristish?”

“Aniyo. Naneun Hanguk saramiyeyo” (Bukan. Aku orang Korea) Nana membalasnya dengan bahasa Korea fasih dan membuat Sandeul sedikit bengong.

Tanpa disadari, Sandeul mengamati Nana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan kagum.

Kejadian itu benar-benar sudah terekam di otaknya dan akan dibawanya sampai mati. Itu adalah kejadian yang paling mengesankan bagi Sandeul.

”Nana, Jinyoung, kalian enak ya bisa hidup damai, tenteram, abadi disana. Udah tidak perlu memikirkan masalah duniawi. Kalian bebas dari semua masalah. Termasuk masalah hutang. Kalian bawa duitku. Kalian belum membayar hutang-hutang kalian. Totalnya berapa yen ya..” Sandeul malah menghitung total utang dengan menggunakan kalkulator.

”Pfiuh..” Sandeul menarik napas kemudian bersandar di kursinya. Ia melirik kalkulatornya.

”Kalian membawa duitku terlalu banyak ke alam sana. Kalau aku menyusul kalian kesana, kalian harus membayar semuanya ditambah bunga.”

Bel tanda berakhirnya ujian pun berbunyi.

”Mampus !!! Gimana nih.. Masih ada 10 nomor lagi yang kosong.. Nembak aja deh. ABCDE…. EDCBA…” Sandeul kembali sibuk melingkari jawaban tembakannya..

                                              ***

Musim Semi Menghampiri Bumi…

Segenap Rasa Sayang Memenuhi Dada…

Kita Pasti Akan Menyambut Musim Semi Berkali-kali Lagi…

Asalkan… Bersamamu…

(Dikutip dari komik Dream Saga)

 

                               – The End –

11월 9, 2011 - Posted by | B1A4, Fan Fiction | , , , , , , ,

댓글 2개 »

  1. Hiikkss,
    Neo! Author! Neo jeongmal.nappeun!
    Buat aku nangis haru😥😥
    tpie ff nya daebak! Ini bener2 ff favorit qwu ><
    buat lgie yg ada jinyoung nya ya thor! Tpie jgn happy ending in the paradise gniih, yg happy ending kawin aja😀 *readers banyak bacot* ..

    Hwaiting!

    댓글 by Jungjinyoung49 | 6월 6, 2012 | 응답

    • Hahaha authornya demennya bikin yang tragis2 nih (?) Susah bikin yang happy ending ._. *author psycho* xD Btw, makasih buat comment nya😀

      댓글 by YoungChannie | 6월 24, 2012 | 응답


답글 남기기

아래 항목을 채우거나 오른쪽 아이콘 중 하나를 클릭하여 로그 인 하세요:

WordPress.com 로고

WordPress.com의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Twitter 사진

Twitter의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Facebook 사진

Facebook의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

Google+ photo

Google+의 계정을 사용하여 댓글을 남깁니다. 로그아웃 / 변경 )

%s에 연결하는 중

%d 블로거가 이것을 좋아합니다: